Thursday, 30 December 2010

Aku Sandhy, seorang anak cucu Adam yang sedang mencari makna apa arti dalam hidup ini, begitu lamanya aku telah melanglang buana melintasi setiap sudut kota itu untuk mencari sedikit makna hidup dalam jiwa yang meronta ini. Satu keanehan datang menghadapku, malam itu, ya malam itu  aku ingat benar ketika itu aku tengah berjalan menyisiri sudut ruang kota Jakarta yang amat pikuk seolah tak ada kedamaian lagi di kota itu. Sengaja aku pojokkan tubuhku yang kecil ini untuk mengintai dari jauh aktifitas di pojok kota yang remang-remang. Seorang wanita cantik turun dari sebuah mobil datang menyapaku “Hai ngapain kamu, ngintip ya ?” tak ku hiraukan apa kata wanita cantik berbaju mini yang aduhai itu, apalagi aku yakin wanita itu mengira aku hanyalah anak baru gede yang sedang terusir dari rumah karena memang wajahku yang imut. Aku perhatikan terus apa yang terjadi di pojok remang-remang itu, seorang preman datang dari samping gang tempat persisnya aku duduk “Hai bloon ngapain di sini.., ini daerah kekuasaanku, tahu kamu…!” aku pun hanya menganggukkan kepala dengan sedikit ketakutan, preman itu pun berlalu begitu saja. Dari dua orang yang menemuiku aku merasa bahwa tempat yang sedang aku amati adalah sebuah tempat di mana orang-orang nihil jiwa melampiaskan semua masalah hidup walaupun mungkin di antara mereka pun ada yang mencari nafkah untuk hidupnya juga. 

Jiwaku yang memang ingin mengerti petualangan malam di pojok kota besar seperti Jakarta, membuatku enggan untuk beranjak dari tempat duduk yang memang aku sendiri telah terusik oleh dua orang yang tak mengenalku dan aku sendiri pun tak mengenalnya, “Sebenarnya seberapa hebatkah jiwa para petualang malam itu, mungkinkah itu hanya sebuah pelampiasan kekesalan jiwa ataukah mereka telah menggelutinya sebagai profesi,” hati kecilku bergumam bertanya-tanya akan sesuatu yang memang telah menjadi kebiasaan mereka. Malam semakin larut, tapi entah kenapa suasana di pojok kota itu semakin ramai berbagai jenis mobil mewah mampir di tempat yang tak begitu luas tapi sangat ramai. Aku bangun dari duduk dan berjalan menuju pinggir jalan tepatnya menuju orang yang sedang berjualan minuman, aku haus sekali aku pun membeli minuman lalu aku kembali ke tempat semula. Aku lanjutkan untuk mengamati dan memperhatikan sesuatu di pojok kota itu, meskipun ini murni keinginanku bukan tugas kampus yang mengesampingkan hak-hak dari seorang mahasiswanya, yang ku tahu bahwa seorang mahasisiwa harus mengikuti apa kata dosen dalam mengerjakan tugas akhir kuliah, di sinilah sisi-sisi demokrasi telah sedikit terisolasi. Seorang mahasiswa tidak diberi ruang kreatif dalam mengerjakn tugas akhir, belum lagi masalah tanda tangan persetujuan dari dosen pembimbing yang kadang kala dipersulit juga, ya itu sedikit masalah kuliah yang aku sendiri khawatir dengan keadaan di pojok kota yang sedang aku amati. Aku merasa dari sekian banyak orang yang berkumpul di pojok kota itu pastilah ada seorang mahasiswa / mahasiswi atau bahkan lebih yang melakukan KNPI Party (Kissing – Necking – Putting – Injection) bersama dosen yang membimbing tugas akhir. Atas dasar itulah biasanya mahasiswa / mahasiswi yang bersangkutan mendapat legitimasi kelulusan dengan nilai yang memuaskan. 


Tiba-tiba seekor nyamuk mengusik daya fikir yang sedang ku lakukan, aneh aku mendengarkan desah dan suara tawa cekikikan para wanita dari pojok kota itu, “Aku harus mendekat apa yang sedang mereka lakukan,” hati ini semakin berontak saja dan ingin tahu apa yang sedang terjadi. Ku tarik nafas dan menghempaskannya untuk menenangkan sedikit gelisah di hati ini, dari gang persisnya aku duduk sepasang muda-mudi keluar dari gang itu, dengan melakukan quick kissing, bercumbu mesra dan saling berpelukan layaknya sepasang temanten baru. Wajar saja aku muak ketika melihat sepasang muda-mudi yang lewat di dapanku, sepertinya mereka masih terlalu muda untuk melakukan hal yang belum patut itu apalagi di tengah malam. Rasa muakku aku lampiaskan kepada botol air minum yang sedang ku pegang, air yang ada di dalam botol itu aku minum lalu ku semburkan “Dasar gila…!!!.” Wanita belia yang sedang berjalan berpelukan dengan pria muda itu melirikku sinis, aku diam saja karena memang itu adalah haknya untuk melirik dan mengenalku walaupun hanya sepintas, tapi setidaknya biar hatinya sedikit terusik lalu berfikir dan sadar apa yang dilakukannya adalah sebuah tindakan bodoh. Bagaimana mungkin tubuh dan jiwa milik Tuhan itu, dengan bangga kita relakan dielus-elus, dipeluk-peluk lalu dicium-cium kemudian kita relakan untuk diapakan saja dengan alasan yang penting nikmat. Sayang oh sungguh sayang hidup yang hanya sekali ini kita sia-siakan begitu saja padahal masih ada sejuta harapan untuk dapat melakukan sesuatu yang lebih dan berprestasi bagi negeri antah berantah ini. Pasangan muda-mudi itu pun akhirnya menuju tempat KNPI Party itu dilangsungkan, aku terus menatap tajam walaupun sesekali aku ingin mendekat dan mencari tahu apa yang sedang mereka lakukan. 


Terkadang rasa sedih yang ada jiwa mencuat keluar mengusik tatanan hati yang tenang, sepertinya malam akan mengungkap setiap memoar jiwa-jiwa yang luka. “Siapa yang salah ?” Jiwa ini kembali mengusik pertanyaan yang harus aku jawab sendiri, siapa yang salah tak ada yang salah, kesalahan adalah ketika kita mencoba memaksakan apa yang kita inginkan kepada orang lain. Mereka sebenarnya adalah korban dari setiap doktrin peradaban yang berjalan mengikuti zaman, kemudian muncul anggapan bahwa zaman terbagi menjadi dua persepsi yakni kuno dan modern. Zaman kuno adalah zaman di mana manusia akan dianggap kolot dan konvensional ketika cara-cara, gaya hidup dan tingkah laku yang kita lakukan masih itu-itu saja atau tidak mengikuti perkembangan zaman. Seseorang tak akan pernah mendapat legitimasi gaul ketika cara dan gaya hidup yang mereka lakukan tidak memakai dandanan yang norak, pakai rok mini, pakai tang top, pakai baju ketat yang menonjolkan lekuk tubuh yang aduhai, itu untuk wanitanya. Berbeda dengan pria legitimasi gaul adalah ketika di setiap sudut telinganya berlubang terpasang anting, hidung bertindik, seluruh tubuh bertato dan mengkonsumsi segala jenis NARKOBA. Ada persepsi yang keliru dari anak gaul di kota itu, sadar atau tidak budaya semacam itu adalah milik orang-orang kapitalis ibranis yang jenuh dengan aktifitas keseharian yang hanya kerja dan kerja tak mengenal hari libur, sehingga kadang cara pelampisan yang mereka lakukan adalah dengan free doing untuk sedikit melepas beban hidup yang terpikul. 


“Cah bagus, sedang apa kamu di sini,” seorang kakek tua datang menghampririku, fikiranku kembali terpecah oleh usikan kakek tua itu. “Cah bagus…, kamu itu masih muda jangan banyak melamun dan menghayal nanti kamu seperti kakek yang hidupnya hanya lontang-lantung apa kamu mau ha…?”. Aku hanya tersenyum, kakek tua yang berjenggot panjang, baju yang lusuh dan dengan bau yang amat tidak enak duduk di sampingku, rupanya tak hanya fikiranku yang terusik tapi hidungku pun terusik oleh aroma tidak sedap dari tubuh kakek tua itu. 

“Kakek mau minum ?,” aku coba tawarkan minuman yang aku pegang dengan menahan aroma yang tidak sedap itu, kakek itu menolak 
“Ndak usah…, kakek sudah bawa minum sendiri”.
“Cah bagus…, kamu tahu ndak ini adalah tempat kakek hidup dan berteduh, ya..kira-kira sudah hampir seperempat abad lebih kakek menempati tempat yang kamu duduki itu” Sembari membuka lipatan kardus kakek melanjutkan dialognya bersama aku. Aku sedikit terkejut karena bagaimana mungkin kakek setua ini dapat hidup bertahan selama dua puluh lima tahun lebih. 
“Hidup itu yang penting ngabdi, ndak usah neko-neko” 
“Maksud kakek ?” 
Aku belum mengerti makna apa yang tersirat dari kata-kata kakek tua itu, sejenak aku meninggalkan daya fakir yang sedang ku lakukan sebagai tanda pemeberontakan zaman. “Cah bagus…cah bagus…ngabdi itu ya ndak usah neko-neko”. 
Kakek tua itu benar bahwa inilah kata kunci yang selama ini terpendam bahwa ketika manusia sudah mulai terusik dengan keinginan-keinginan maka saat itu pula rasa neko-neko itu muncul akibatnya rasa ngabdi atau mencintai kepada Sang Pencipta mulai terabaikan. 
“Cah bagus…kakek telah menjalani kehidupan yang cukup lama di dunia ini, sudah tujuh puluh tahun lebih usia kakek sekarang, usiamu berapa ?” 
“Dua puluh enam tahun kek” 
“Wah…wah…wah..kamu masih sangat muda, cari ilmu sebanyak-banyaknya kamu ndak usah dulu mikirin keadaan negerimu sekarang, negeri ini letak kesalahannya pada orang-orangnya yang goblok dan tolol seperti kakek”. 

Sebuah pertanyaan kembali mengusik di jiwa ini, mungkin ada benarnya juga apa kata kakek tua itu, tapi apakah aku mampu mewujudkan apa yang sedang aku fikirkan yakni untuk melanjutkan sekolah lagi saat ini saja tugas akhir yang sedang aku kerjakan sedikit menglami kesulitan. Sebagai seorang mahasiswa Broadcasting harus butuh banyak kreatifitas dalam membuat karya, tapi sayang dosenku memaksa untuk mengerjakan tugas akhir sesuai perintah. 


“Cah bagus…ndak usah sedih, hidup ini ada yang mengatur serahkan saja semuanya kepada yang mengatur hidup, makanya hidup itu ya ngabdi” 

Sambil melinting rokok, kakek melanjutkan nasihatnya, maklum sebagai orang tua harus sering berbagi nasihat kepada yang lebih muda agar yang muda pun mempelajarinya sebagai hikmah hidup yang tersirat. 

Para begundal datang mengusik kakek dan keberadaanku yang sedang duduk menikmati malam yang semakin beku.

“Hai jompo..! mana jatah mu untuk aku, sudah tiga hari ini kamu tidak setor jatah ke aku” 
Seorang pemuda gondrong bertato menanyai kakek dengan nada yang kaku dan keras, aku sedikit tersenyum aku berfikir aku sendiri gondrong tapi aku tidaklah sejahat mereka. 
“Hai kek..! ini cucumu ya?, ajari dia sopan santun” 

Kepalaku, ku tundukkan sembari menyembunyikan senyum geli, mataku hanya aku lirikkan sedikit untuk mengetahui seperti apa wajah anak muda yang membentak-bentak kakek. Aku tersenyum karena memang pemuda itu GH (gila hormat) seperti para guru yang selalu marah-marah ketika anak muridnya tidak menyapa atau minimal tersenyum, padahal belum tentu para anak murid tidak memberikan senyum dan sapa karena sombong atau gensi, mereka tidak senyum dan sapa karena mereka takut atau kalau tidak mereka benci dengan cara-cara yang guru GH (gila hormat) tersebut lakukan. Bukankah senyum adalah diberikan dengan tulus ikhlas, bukankah senyum pula yang kadang membuat orang terkesima apalagi jika tersenyum kepada lawan jenis dan bukankah kesalahan diri pula yang kadang membuat orang lain enggan untuk tersenyum inilah yang lebih penting. Kadang seorang guru pun tega memberi nilai yang pas ketika anak muridnya tidak melakukan perintah yang ia suruh, sekali lagi kesalahan bukan pada murid akan tetapi kesalahan itu terletak pada diri sendiri, jadi koreksi diri ‘kan lebih baik dari pada harus jadi orang GH (gila hormat). Kesalahan semacam ini pulalah yang membuat lima tahun lalu aku bekerja di salah satu restoran makanan terkenal di Jakarta membuat aku muak dan benci, tapi sungguh aku tidak membenci apa pun kecuali watak yang melekat. Sang manajer itu GH alias gila hormat dan ingin selalu dihormati sedang dia sendiri tak bisa mengahargai setiap karyawannya, jadi bukan salah karyawan andai seorang atasan berbuat ceroboh seenaknya sendiri atau tak menghormati dan menghargai atasannya. 


“Sopan santun..?” hatiku bergumam, rupanya pemuda itu menyuruhku untuk berlaku sopan di hadapannya, jiwaku kembali terusik oleh kata-kata tersebut. Harusnya dia sendiri yang wajib berbuat sopan terhadap orang tua seperti kakek. 

“Hai..! kamu mau jadi jagoan di sini,” pemuda itu menanyaiku dengan nada keras, wajahku yang menunduk disengal oleh tangan pemuda itu, aku terjengkang jatuh, aku hanya diam karena aku memang bukan bermaksud untuk membuat keonaran di negeri yang sudah onar, di negeri antah berantah yang lucu, jadi apalah untungnya membuat api dalam kerangkeng api. Pemuda itu pun akhirnya pergi setelah meminta jatah dari kekek. 
“Kakek pernah mencoba melawannya, tapi percuma karena akan membuat suasana tidak nyaman di negeri ini.” 
Aku hanya terdiam aku merasa jiwa empati di hati ini kembali mencuat memilu “Mengapa keadaan seperti ini harus tercipta di negeri yang  memang sudah kalap, tak adakah Tuhan mengiba manusia-manusia lemah dan menghukum manusia-manusia keji”. Kakek yang sudah tak dapat menahan rasa kantuk dan lelahnya meminta izin untuk istirahat tidur di samping tempat aku duduk. Sejenak aku mulai tergoda oleh keindahan malam, di kejauhan langit hitam itu bintang-gemintang memberi isyarat bahwa malam telah larut. Aku kembali mengawasi pojok kota itu untuk mendapat sedikit gambaran dari KNPI Party, rupanya suasana semakin hening tak ada suara cekikikan wanita-wanita jalang dan pria-pria hidung belang. Keheningan yang menelusup dalam rangkaian kegelisahan jiwaku ini menerawang jauh, andai saja keadaan yang ada tak segera berubah mungkin peradaban budaya milik kita sendiri akan hilang tertelan oleh keegoisan doktrin yang buta. Dan sungguh wanita adalah rahasia Illahi yang Tuhan turunkan, wanita adalah simbol kebijakan ibu bagi para lelaki yang membutuhkan kasih dan sayang layaknya sang ibu yang mencintai anaknya. Air yang ada dibotol itu kembali aku minum aku habiskan aku butuh suplai oksigen apalagi begadang di sudut kota hingga larut malam, rasa kantuk itu mulai mengusikku tapi aku coba lawan dengan bermain bersama akal yang sedang menari-nari mencari makna hidup dalam kehidupan di kota Jakarta ini. 

Aku kembali teringat di masa kecilku aku sendiri tak tahu mengapa orang tuaku memberi nama Sandhy, Sandhy berarti rahasia, sehingga tak salah aku sendiri sering menjadikan hidup ini sebagai rahasia Tuhan dan akulah salah satu makhluk yang selalu mencari arti dan hakikat rahasia dari hidup ini. 

“Cah bagus…kamu belum tidur ?” “Belum ngantuk kek…!”. Aku sedikit terkejut ternyata kakek tua itu belum tidur padahal dia sendiri telah meminta izin untuk tidur lebih awal tapi tak mengapalah. 
“Cah bagus…!” Kakek tua mencoba memanggil namaku dengan cah bagus, sembari mengangkat tubuhnya yang telah renta untuk duduk bersandar, aku coba membantunya. 
“Terima kasih Cah bagus…,” “Sama-sama Kek…”
Aku dan Kakek akhirnya duduk berdampingan memandangi pojok kota dan mendengarkan suara bisingnya motor di malam hari. Sunyi memang, tapi kadang ada beberapa anak muda yang gemar melakukan track motor di jalanan malam yang sepi. Mungkin seperti itulah cara-cara orang berduit menghabiskan uang, berbeda dengan aku dan kakek yang hanya bisa memandangi mereka dan hanya melongo. 
“Cah bagus… hidup di dunia ini itu cuma sebentar, kakek tidak merasa…, tahu-tahu kakek sudah di batas usia yang uzur, rasanya baru kemarin kakek hidup ha…ha…ha…” Kakek melepas tawanya, hening pun terpecah seketika.
“Lihat…itu, mereka saat ini hanya bersenang-senang tapi sesaat lagi mereka akan hilang dalam sekejap,” kakek menunjuk pada sebagian anak muda seusiaku yang tengah bermain track motor. 
“Criiii…..t brak…!!!” tiba-tiba salah satu di antara mereka jatuh menabrak trotoar, sebenarnya aku ingin menolong akan tetapi kakek melarangku 
“Biarkan saja, itu adalah sebuah pelajaran hidup” Sepertinya kakek marah, wajar saja karena selama ia tinggal di pojok kota itu, telinganya selalu diusik oleh suara motor yang melengking. Di antara para pemuda itu ada yang berlarian untuk menolong rupanya luka yang diderita teramat parah, sebagian yang lain menyediakan mobil untuk membawanya ke rumah sakit, dari jauh aku hanya bisa berdo’a semoga tidak terjadi apa-apa. 

“Cah bagus.., kakek dulu juga pernah muda, masa kecil dan masa muda kakek dihabiskan di kampung, waktu itu kakek hidup sebagai petani, kerjaan tiap hari kakek adalah mencangkul” 

“Lantas kenapa kakek ada di sini” 
“Itu rahasia Tuhan, kakek tidak pernah menduga kakek akan hidup sampai tua di sini.”
Mungkin benar juga apa kata kakek bahwa manusia hanyalah dapat merencanakan selebihnya Tuhan yang akan menentukan setiap perjalanan hidup manusia. 
“Kakek saat itu hanya punya keinginan untuk berubah dari keadaan yang ada, tapi kenyataan menjadi lain kakek lebih banyak pasrah dalam menjalani hidup, padahal sikap pasrah tanpa dibarengi usaha tidaklah ada artinya” 
“Bukankah kakek juga sudah berusaha” Aku mencoba menyeletuk 
“Belum..belum maksimal, lha wong… Tuhan itu maha adil ko, mungkin inilah bentuk keadilan Tuhan yang Tuhan berikan kepada hamba-hambanya agar bisa hidup lebih ngabdi” Sambil menghisap lintingan rokok yang ia buat sendiri dari daun jagung yang dikeringkan, begitu nikmatnya kakek menghisap rokok yang ia buat sendiri sampa-sampai aku lupa asapnya telah mengepul di hadapan  wajahku dan sedikit menghalangi pandangan mataku melihat pojok kota itu. 

Keheningan malam kembali terpecah saat dari balik pojok kota itu sebuah mobil sedan mewah berhenti mendadak, aku terus mengintainya sambil mendengarkan suara isapan rokok kakek yang persis di samping telingaku. “Brak…!!!” Suara pintu mobil yang ditutup dengan keras oleh si pemilik mobil itu, keluar lalu berjalan dengan cepat memasuki ruang yang ada pojok kota itu, sejenak aku membayangkan apa yang terjadi di dalam ruangan itu. Seorang wanita dengan baju yang menggoda di papah keluar oleh pemilik mobil sedan itu, kemudian memasukkannya ke dalam mobil. Tak lama seorang pemuda keluar membawa botol minuman melempar kaca mobil “Prak…!!!,” kaca mobil itu terpecah. Bak aksi perampokan, pemilik mobil itu keluar dan menghajar habis pemuda yang melempar botol ke mobilnya, baku hantam pun terjadi seperti adegan film Hollywood. Tak ada yang mengalah dan tak ada yang mau dikalahkan ya setidaknya mirip dengan anggota dewan kita yang baku hantam di tengah sidang yang sedang berlangsung. Berbondong-bondong orang dari dalam keluar untuk menghentikan pertikaian antara entah siapa melawan siapa. Kakek dan aku hanya bisa diam dan menonton, aku sendiri tak punya kuasa atas apa yang sedang terjadi di depan Café Pojok itu, aku tahu nama café itu setelah kakek menceritakannya padaku. Si pemilik mobil itu pun segera masuk ke dalam mobilnya tancap gas dan segera pergi, perang bubrah itu berhenti dengan seketika dan sunyi kembali menguasai alam kota Jakarta di malam hari   


“Mahapatih Anton” Rengas Pendawa,13 – 16 Januari 2006       


Web ini dikelola oleh admin. Anton Mabruri adalah seorang Filmmaker, Broadcaster, Penulis, Designer Grafis, Motivator, Teacher, dan Manusia Biasa. Ia hanya ingin MEMPERBAIKI INDONESIA.

Start Work With Me

Contact Us
Mahapatih Anton
+62 8571 55 33 0 88
Kota Depok, Jawa Barat