SURAT ITU.. antara Depok - Brebes - Jogja

Depok. Secarik surat itu telah aku terima darinya, seseorang yang selama ini aku damba untuk menjadi permaisuri yang ‘kan menemani aku dalam kesunyian seorang diri di sebuah tepi kota yang pikuk. Huff…. Rasanya baru kemarin aku menyapa kota pinggiran ini rasanya aku baru saja dapat menyapa kesejukan udara pagi di kota ini, tetapi kini telah berubah menjadi peradaban yang katanya modern.

Banyak henyak tanya yang inginaku utarakan pada senja pagi ini... Ada apa dengan ketulusan yangpernah aku utarakan lewat kata-kata indah, sementara sang permaisuriku pergi tinggalkan kenang yang mendesak aku menuliskan secarik kertas meski sampai sekian lama tak pernah aku kirimkan surat yang aku buat untuknya. Indah terasa saat aku pertama singgahi kota yang kini telah berubah, alasan yang kuat hingga aku ingin berkecimpung di kota ini aku ingin menjadi yang pertama menyejukan kota ini. Minimal menyejukan hati orang-orang yang tengah gundah dilanda asmara seperti diriku. Aku sendiri tak tahu kabar sang permaisuri hati yang kini telah tinggalkan kampung yang dulu aku dan dia berbagi kisah.

Engkau yang memulai untuk semua ini, padahal aku selalu mencoba menyapamu dalam untain bait-bait cinta yang teramat indah. Engkau rupanya memilih dan aku tak dapat memilihmu sebagai permaisuri. Meski aku sadar kau wanita, bagi seorang lelaki engkau harusnya mematuhi apa kata sang lelaki, rupanya zaman telah berubah wanita akan patuh pada sang lelaki jika sang lelaki memiliki banyak harta. Tetapi aku hanyalah seorang pelukis dan penulis puisi kecil dan belum bisa menghasilkan banyak uang.

Tatanan yang ada kini bahwa aku seorang lelaki tak dapat memaksakan diri untuk memilih dan memilih. Aku sedikit pikun, namun aku akan sangat sakit bila aku menemui wanita cantik seperti dirimu lagi. Hatiku berontak aku ingin kembali menyapamu dan jika perlu mencarimu kemudian aku mengajakmu ke suatu tempat yang pernah menjadi kenangan indah bagi kita.

Sayang…betapa pun dirimu jauh aku tak mampu melupakan dirimu. Engkau yang terindah dan terbaik yang pernah ku kenal. Indah tinggallah kenangan,kau atau pun aku tak mampu merajutnya kembali. Tak ada alasan yang jelas mengapa engkau tinggalkan aku dalam kesendirian di kota ini, engkau tahu bahwa hatiku guncang dan tak menentu untuk menentukan arah tujuan hidup yang kini aku jalani. Aku butuh kau… tapi sudahlah. Aku ingin menyudahi semuanya tanpa luka. Biar engkau menjadi milik orang yang benar-benar engkau cintai… asalkan engkau tak mengulangi kembali kata-kata “aku menyesal…” Tidak! kau harus jalani kehidupanmu tanpa aku, kecuali pria yang telah menjadi pilihanmu.

Semula kau telah meyakinkan aku dalam debat yang panjang di sebuah teras rumah ini. Engkau memilih dan memutuskan semua dan semaumu, beginikah caramu mengakhiri semua kisah yang kita rajut sejak dahulu. Aku tidaklah meminta belas kasih darimu apalagi meminta kau untuk kembali. Aku akan jalani hidup ini tanpamu. Betapa pun, jika kau ingat kembali begitu indah kisah cinta yang kita rajut, aku masih ingat saat aku pertama mengenalmu kau mengenakan baju putih dengan rambut hitam memanjang terurai ke bahu, bibirmu yang merah merona serta alis matamu yang tebal… aku terpesona… aku terpedaya... kau beri aku senyuman. Tetapi mengapa kau kini tinggalkan aku sendiri di tepian kota ini yang kini telah menjadi sangat pikuk. Apalagi sejak kepergianmu aku kehilangan segalanya.

Malam itu dalam suasana rintik hujan yang awet dan sesekali kilatan petir yang saling bersahutan aku dan dia bertengkar, ia memintaku untuk melupakannya tanpa alasan yang jelas, hanya sacarik kertas berwarna merah jambu yang ia sodorkan kepadaku. Di depan teras rumah itu ia terseguk menangis untuk menyudahi kisah asmara kita.

“Sepertinya hubungan kita sampai di sini saja”
“Apa maksudmu? apakah kau telah mencintai hati yang lain” Tanyaku
“Cukup… kita mending sampai di sini saja”
“Fa... Apa maksud kamu…!”
“Mas jika memang kau menyayangi aku,aku minta tinggalkan aku” Malam itu ia sangat memaksaku untukmangakhiri kisah cintanya, hmm… aku tak mengerti.

Brebes. Semua berlalu, setelahnya aku penuhi semua permintaanya kemudian ia pergi meninggalkan aku. Sebagai seorang yang masih mempunyai rasa cinta, akhirnya aku mencari jawab atas akhir dari semua ini. Aku pulang untuk menemui orang tuanya yang sudah sangat akrab denganku aku bertanya kepada Ibunya apakah Airin Fauziah pulang, sontak beliau pun kaget apa yang terjadi. Aku diam… menerawang jauh dalam angan yang tak dapat aku jangkau. “ke mana engkau Fa?” gumam dalam hatiku.

“Nak Firman…. Coba kamu cari Airin” sergah sang Ibu kepadaku Aku hanya mengangguk dan mengiyakan saja.
”Ibu juga sudah tidak pernah tahu keberadaan dia yang sesungguhnya, memang dia pernah menelpon tapi tak pernah memberi kabar ada di mana dia. Kamu harus cari dia nak Firman”
”Baik Bu...” Segera aku pamit untuk melaksanakan permintaan Sang Ibu.

Aku tahu benar bagaimana Ibunya sangat percaya kepdaku dan begitu baik terhadapku. Aku tak ingin mengecewakan Ibu, meski ia bukan Ibu kandungku. Ku temui semua taman-taman Fa, tetapi tak satu pun yang tahu. Untuk mengenang awal cinta ini bersemi aku pergi singgahi alun-alun kota Brebes, di tempat itu aku pertama kali bertemu dan mengagumi Airin Fauziah. Gadis cantik bekulit kuning langsat beralis bulan sabit, ia teramat cantik. Aku kembali ke sudut-sudut kota mencari Fa, di setiap sudut kota ku coba jelajahi seperti sang detektif yang menyamar sebagai pemulung sampah kesana kemari ku lihat satu demi satu tatapan wajah-wajah orang.

Sembilan hari aku mancari Fa… namun tak aku temui wajah Fa, dalam jiwa aku terus bergumam “ke mana ia pergi?”. Aku hanya ingat bahwa ia sering mengatakan akan pergi ke kota gudegYogyakarta. Tanpa fikir panjang aku pun segera melesat menuju kota Gudeg.

Yogyakarta. Pagi yang dingin aku sampai di stasiun kota Gudeg. Aku sendiri bingung hendak mencari ke mana, aku menepi ke sebuah musholla untuk mendirikan sholat dan berdo’a semoga aku dengan cepat menemkan Fa. Udara yang sangat dingin rasanya malas untuk keluar dari musholla, tetapi aku harus mencari Fa. Aku pun segera keluar dan menatap satu persatu penghuni satasiun kota Gudeg itu, tetapi tak satu pun orang yang aku kenal. Di seberang peron aku lihat para tukang ojek mengantri dan menanyai satu demi satu orang yang keluar dari stasiun.

Aku pun segera menuju ke sana. ”Mau ke mana mas? Ke Malioboro, atau Keraton?” seorang tukang ojek mananyaiku, aku pun cuek dan bingung dengan pandangan kosong. Sebab aku tak tahu harus mencari Fa kemana.

”Mas kalo ke Maliobro berapa ya mas?” akhirnya aku bertanya kepada salah seoarang pengojek. “Murah mas, cuma lima puluh ribu rupiah”
“Bisa kurang ndak mas?”
“Yo wis empat puluh yo mas, piye?”
“Yo wis..” tanpa pikir panjang aku pun mau.

Akhirnya pagi itu aku mengelilingi kota Jogja, suasana yang khas dengan lalu lalang berbagai macam kendaraan yang sama padatnya di kota Depok, kecuali andong dan becak yang sangat khas di kota gudeg ini. Tetapi di Jogja aku pikir lebih disiplin dan ramah para penduduknya. Berbeda dengan di kampung kelahiranku Brebes, huff... payah! Tetapi bagaimana pun Brebes adalah kota kecil terbaik yang aku cintai.
”Mas bentar lagi sampi ke Malioboro ya mas” Mas Ojek mengingatkan aku
“O ya...ya....” aku sedikit tersentak, mungkin karena aku begitu kagum pada peradaban kota yang satu ini, hingga aku lupa.

Tiba-tiba Mas Ojek berhenti ”Sudah sampai mas”
Aku pun segera turun,mengambil uang di saku celana dan segera pamit ”Matur nuwun ya mas” aku bereloroh saja.
“Mas...mas...!!!” “Ya... kenapa?” tanyaku.
“Itu helmnya” Segera ku raba kepala ternyata benar aku sampai lupa melepas helm.
”Wah...wah... aku sampai lupa mas, saking enaknya Jogja ini. Maaf ya mas”
”Ya... ya... ndak pa pa”

Petualangan segera aku mulai, meski jujur ini adalah pertama kalinya aku singgah di kota Jogja. Telah hampir 10 tahun aku tidak pernah ke Jogja. Banyak yang berubah, namun tetap asik Jogja adalah Jogja. Aku telusuri sepanjang jalan Malioboro dan ku amati satu demi satu orang-orang yang melintas di jalan itu, takter kecuali para wisatawan asing alias bule.

Persis di depan Pasar Beringharjo aku melihat sesosok wanita mirip Fa, segera ku kejar dan kupanggil-pangggil tetapi sosok itu tetap berjalan melaju sekenanya.

Akupun terus mengejar, hingga persis di dekatnya ku pegang bahunya dan kusapa ”Airin Fauziah...” Wanita itu hanya tersenyum manis ”Maaf saya bukan Airin” sergahnya.

Aku pun langsung tersipu malu dan tertipu, kukatakan ”Maaf... Mbak, saya kira Mbak, Airin Fauziah” Satu yang tak pernah ku lupa, Fa mempunyai ciri khusus di pipi kanannya ada sedikit tonjolan bekas luka waktu ia terjatuh dari motor bahkan ia pernah masuk rumah sakit.

Tak jauh dari Malioboro adalah keraton. Aku jadi ingat bahwa kampung kelahiranku pun memiliki kedaton atau semacam keraton letaknya persis di samping depan alun-alun kota Brebes, aku hanya menerka mudah-mudahan aku menemuai Fa di Keraton seperti pertama kali aku dan dia bertemu di alun-alun kota. Tak ku buang waktu percuma aku segera menuju Keraton. Sepanjang jalan aku tetap waspada dan terus menelusuri jejak Fa di kota Gudeg ini. Ku yakin benar setelah sampai didepan keraton aku akan menemui Fa di sana. Firasatku mengatakan sangat kuat di depan keraton di alun-alun aku akan menemui Fa.

Waktu terus melaju dan aku pun terus berpacu, meski lelah menghampiri tubuh ini aku tetap bertekad harus menemui Fa.
”Mas Firman ya...?!!” suara wanita dari balik pohon beringin, tetapi aku tak mengenalinya dan tak ku hiarukan. Aku begitu lelah dan ku sandarkan tubuh ini di antara pohon di depan Keraton. ”Mas...Mas...Mas Firman..!!!” suara itu kembali bersuar.
”Mas...Mas ini aku... aku... Airin Fauziah” Tubuhku yang lelah sontak terbangun aku mencari sumber suara itu, dan ternyata benar Fa telah ku temuai, aku haru aku terkejut dan segala rasa dijiwa ini meluap. Kini ia kelihatan langsing, tetapi rona pipi dan alis sabitnya masih saja menggodaku.
”Kamu ini kemana saja Fa?” spontan kata-kata itu muncul dari bibir yang sudah terasa kelu untuk berucap.
”Ya Mas... aku sekarang lagi melanjutkan kuliah di sini di Jogja”
”Ha... Kuliah!” aku terkejut.
”Iya... aku kuliah di Universitas swasta dekat UGM” Tak kusangka kepergiannya meninggalkan aku dan Sang Ibu di Brebes untuk kuliah.
Aku semakin kagum padanya.
”Ambil jurusan apa?”
”Aku ambil matakuliah sastra Inggris.., do’ain ya Mas 2009 aku selesai”
”Ya..ya...aku pasti do’akan”
”Dalam rangka apa Mas ke Jogja” Aku diam sembarimengajak jalan Fa mencari tempat yang nyaman untuk berbincang.
”Yang jelas aku ke Jogja mencari kamu... aku kemarin pulang ke Brebes dan menemui Ibumu, aku pikir Ibumu tahu kamu sekarang di mana. Ternyata Beliau pun tidak tahu keberadaanmu”
”Hemm” Fa hanya menawarkan senyumkepadaku.
”Aku benar-benar khawatir denganmu Fa”
”Mas sebenarnya Ibu sudah tahu, hanya saja aku yang bilang jika Mas Firman mencariku jangan dikasih tahu” Aku tidak yakin dengan apa yang diucapkan oleh Fa.
”Aku sengaja menghindar...” diam dan tiba-tiba Fa diam seribu bahasa kecuali senyum yang menyimpul.
Aku bersyukur aku dapat menemui Fa di kota Gudeg ini. ”Fa... aku jadi ingat pertama kali kita ketemu” Fa hanya tersenyum” Aku tahu Mas, di alun-alun kan?” Aku pun tersenyum kepadanya.

by Mahapatih Anton
First

supported by