Thursday, 3 March 2011

SEPI ING PAMRIH, RAME ING GAWE
Tulisan ini terinspirasi dari Prof. Koh Young Hunyang dalam artikel ( Kompas. Sabtu, 27 Januari 2008 ) berjudul ”Korea saja bisa, apalagi Indonesia”mengatakan syarat bangsa Indonesia untuk mencapai kemajuan ada empat syarat yang harus dijalankan di antaranya : 1. Sikap rajin bekerja; 2. Sikap hemat; 3.Sikap self-help; 4. Sikap Kooperatif;

BANGSA YANG BESAR
“Apa yang harus dilakukan untuk bangsa ini?” Sebuah pertanyaan retorika yang tak dapat dipecahkan hanya sesaat, semua itu perlu pengorbanan. Sudah separuh abad lebih bangsa ini mengeyam kemerdekaan, akan tetapi di batas ambang permasalahan yang tak kunjung usai,permasalahan-permasalahan baru terus mencuat belakangan adalah isu kenaikan harga BBM, kenaikan harga sembako ( empat sehat lima sempurna ) jelas-jelas sangat membebani masyarakat yang sedang tumbuh mengatur masa depan lebih baik. Sementara para wakil rakyat berjejal ngantri untuk mendapatkan korupsi, kolusi dan nepotisme, para wakil rakyat yang katanya membela kepentingan rakyat tidak mencerminkan apa itu makna dari sebuah kepentingan rakyat, mereka hanya ricuh dan ribut sendiri tanpa rasa malu di hadapan rakyat mencari simpati politik pemilu 2009. Mestinya para wakil rakyat harus disekolahkan lebih dahulu di Taman Kanak-Kanak ( TK ) – pinjam istilah Gus Dur – sehingga mengerti etika yang baik menghargai pendapat, bukan malah adu jotos unjuk kekuatan seperti anak-anak.


Bangsa yang dulu kokoh hancur dalam sesaat, bangsa yang dulu tegar terkapar di tengah pergulatan global. Pantas jika bangsa yang begitu subur, makmur, loh jinawi, indah lagi permai tampak kusam ditelan zaman. Kehidupan manusia sekarang cenderung hedonisme materilistis – jerbasuki mawa bea ( segala sesuatu harus pakai duit ) menjadikan prinsip menghalalkan segala cara tertanam disetiap generasi bangsa, termasuk adu jotos – adu kekuatan yang dilakukan oleh para wakil rakyat kita, alih-alih oleh para juniornya ( para pelajar dan mahasiswa ) praktik itu ditiru dengan melakukan tawuran.

Kita ingat benar bagaimana sejarah mencatat kehebatan panglima besar ( Mahapatih ) Gajah Mada yang dengan sumpah palapanya – Bhineka Tunggal Ika... – menyatukan nusantara, titik puncak inilah yang menjadi kejayaan Indonesia di masa silam. Tapi Indonesia kini bukanMajapahit yang dulu, Indonesia sekarang adalah Indonesia cengeng yang para pahlawannya enggan untuk berjuang tanpa pamrih. Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe – sepi dalam pamrih, semangat dalam berkarya – artinya manusia-manusia Indonesia zaman sekarang berbeda dengan prinsip nenek moyang kita, manusia sekarang lebih bangga ketika dikatakan hebat sebelum melakukan karya nyata (Gawe ), dan mereka tidak pernah peduli dengan kekayaan yang mereka raih hanya karena demi sebuah pamrih atau prestis. Kini bukan saat yang tepat untuk saling menghujat apalagi saling menjatuhkan satu sama lain, bangsa ini butuh kedamaian untuk merdeka kembali, untuk menyatukan prinsip Sepi Ing Pamrih,Rame Ing Gawe dan Bhineka Tunggal Ika.

Sangat memprihatinkan kondisi bangsa kita sekarang dan mau dibawa ke mana bangsa ini. Setiap orang telah menghalalkan segala cara hanya demi sebuah prestis – pamrih – tetapi karya nyata – gawe –mereka tidak pernah terbukti. Para wakil rakyat dan pemerintah berceloteh ingin membangun dan memberdayakan bangsa ini, tetapi satu pun tak ada bukti malahan menyengsarakan kehidupan wong cilik yang nota bene selalu menjejali dengan sabda-sabda nihil. Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe – sepi dalam pamrih semangat dalam berkarya – atau pilih Sepi Ing Gawe, Rame Ing Pamrih– sepi berkarya ramai dalam pamrih – kepudaran nilai-nilai semangat ini telah semakin kelihatan. Acap kali pemerintah dan wakil rakyat bersabda hanya demi pamrih atau kepopulera semata, bukan sebuah kerja nyata. Lihatlah di negeri samurai dan negeri ginseng sana prinsip ini lebih nyata hasilnya, dari pada di negeri ini. Padahal prinsip ini bukan lahir dari negeri samurai dan negeri ginseng sana, tetapi lahir dari nenek moyang kita.

VIRUS KEMALASAN UMAT
Sungguh sangat menyedihkan karena sebenarnya kebijakan apa pun yang dilakukan pemerintah ujung-ujungnya membuat rakyat hidup dalam kenistaan dan kelaparan. Mengutip catatan pinggir Slamet! – oleh Goenawan Mohamad majalah tempo ( 27 Januari 2008) ”Slamet seorang pedagang gorengan tinggal di kota Pandeglang adalah sebuah teriakan, ketika ia bunuh diri pada umur 48 tahun karena kenaikan harga tempe dan kebutuhan sembako Belakangan menteri pertanian masih belum melakukan kebijakan beliau lebih memilih membiarkan mengikuti hukum pasar, semakin banyak permintaan akan semakin tinggi harga suatu barang. Bukankah mencari solusi adalah tindakan Sepi ing pamrih, Rame ing gawe yang dapat menyelematkan orang-orang seperti Slamet. Hemat saya impor tidak akan pernah memberikan solusi justru akan menambah masalah, ini terbukti bagaimana rakyat Indonesia hidup menjadi pecandu diberbagai aspek kehidupan mulai dari sosial, pendidikan, politik, ekonomi, sandang, papan dan pangan serta aspek kebudayaan.Aspek kebudayaan yang telah membuat rakyat Indonesia hidup serba instan dan tak ingin mengikuti proses, ini kentara pada generasi muda. Sampai-sampai dalam ruang kelas saya sering mengatakan bagaimana kalian ( bangsa Indonesia ) akan maju menjadi bangsa yang besar kalau hidup saja masih amat sangat malas dan manja, kalimat ini saya katakan kepada para siswa-siswi yang telah terbius oleh virus-virus kemalasan umat akibat budaya instan. Belakangan pula rakyat sedang direpotkan dengan kelangkaan BBM, ketika mereka mendapatkannya pun dengan harga di atas normal. Rakyat sekarang benar-benar akan menjadi jaminan oleh para pejabat korup yang akan selalu menanti dana nyasar seperti dana kompensasi BBM yang katanya dipentingkan untuk keluarga miskin. Ironisnya lagi sampai hari ini saja pemerintah dan wakil rakyat tidak dapat menyimpulkan golongan rakyat miskin, hal inilah yang membuat kemungkinan dana kompensasi tersebut nyasar. Ada yang lebih ironis ketika Wapres H. Muhamad Jusuf Kalla, pernah mengatakan ikut membenarkan bahwa kemungkinan dana nyasar itu ada, ini bukan cara berfikir bijak untuk mengatasi bangsa. Ruang berfikir ini akan menyimpulkan dan seolah-olah akan memberikan kesempatan beberapa para pejabat terkait yang hoby korup untuk melakukan praktik penyasaran dana-dana pembangunan wong cilik.

SILA KE 5
Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin – pinjam istilah H. Rhoma Irama – ketika rakyat dijerat dengan kenaikan harga BBM dan diikuti kenaikan-kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya, kehidupan wong cilik semakin lesuh karena jelas-jelas keputusan ini adalah menyengsarakan rakyat, apa pun alasannya. Bukan alasan yang logis ketika pemerintah mengatakan bahwa subsidi BBM akan dialihkan untuk rakyat miskin, pendidikan dan kesehatan.Bukankah subsidi BBM, pendidikan dan kesehatan telah menjadi hak mutlak setiap warga negara?, yang tertuang dalam pancasila sila ke 5 ”Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, lalu di manakah letak kebenaran yang katanya membela rakyat. Cobalah tinjau kembali, apakah sudah pantas untuk menaikkan harga BBM dan sembako? atau jangan-jangan hanya ingin prestis dan uang yang nyasar saja.

Keinginan rakyat Indonesia – wong cilik – sederhana,yakni lepas dari semua kebobrokan yang menjerat bangsa ini, menyatukan NKRI kedalam Bhineka Tunggal Ika jangan seperti yang pernah terjadi di kawasan Ambalat dulu dan bersemangat membangun dalam Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe. Mereka – wong cilik – juga hanya ingin mari bangun kebersamaan ini atas dasar naluriah manusiwi bukan naluriah hewani yang tega membinasakan saudaranya sendiri. Rakyat hanya berharap yang menjadi pemimpin negeri ini adalah manusia yang berhati manusia bukan manusia yang berhati hewan – pinjam istilah Cak Nun– atau pun iblis yang tak mengerti arti kesedihan, kelaparan dan kenistaan. Saya terinspirasi dari Prof. Koh Young Hun yang dalam artikel ( Kompas. Sabtu, 27 Januari 2008 ) berjudul ”Korea saja bisa,apalagi Indonesia” mengatakan syarat bangsa Indonesia untuk mencapai kemajuan ada empat syarat yang harus dijalankan di antaranya : 1. Sikap rajin bekerja;2. Sikap hemat; 3. Sikap self-help; 4. Sikap Kooperatif atau kerja sama; jika diringkas ke dalam falsafah jawa menjadi ”Sepi ing pamrih, Rame ing gawe”.

Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe inilah sebuah teladan yang tepat untuk membangun sebuah negeri yang porak poranda. Falsafah bijak ini dapat diterapkan di semua lapisan terutama para pemimpin kita yang haus pamrih. Dan inilah simbol keikhlasan manusia dalam berkorban membela kemerdekaan serta dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi yang hasil cipta karyanya dapat diteladani dan dimanfaatkan. Hasil pemikiran-pemikiran jernih yang dapat diterima, tidak mengharapkan pamrih semata, tetapi hanya demikemajuan bangsa. Semoga bangsa ini sadar dengan segala keterbatasan dan mau menerima Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe

Web ini dikelola oleh admin. Anton Mabruri adalah seorang Filmmaker, Broadcaster, Penulis, Designer Grafis, Motivator, Teacher, dan Manusia Biasa. Ia hanya ingin MEMPERBAIKI INDONESIA.

Start Work With Me

Contact Us
Mahapatih Anton
+62 8571 55 33 0 88
Kota Depok, Jawa Barat