Thursday, 3 March 2011

Hujan baru saja berlalu, malam itu hujan turun dengan derasnya, badai datang menerpa setiap pohon dan bangunan yang berdiri tegak di atas bumi. Tak ada yang mengira bahwa malam itu adalah malam petaka dari malam-malam sebelumnya. Beberapa pohon tumbang, air hujan tumpah ruah mengakibatkan banjir, sementara aliran listrik padam, jagad di malam itu pun menjadi gelap gulita bak kiamat kecil yang menerjang.

Suasana hening menerawang di sebuah ruang kamar, tubuh semampai tergeletak terlentang di atas kasur, rona wajahnya ketakutan yang sangat, keringat dingin meretas keluar dari badannya. Shafa namanya, malam itu ia sedang mencoba menenangkan jiwa dan fikirannya untuk tidak mengingat kembali kejadian setahun silam yang menimpa Marwah, gadis pujaannya. “Der….!!!” Suara petir memecah sunyi seolah menusuk jantung Shafa yang semakin menggigil ketakuatan. Setahun silam di bulan Februari. Marwah kekasihnya, pergi meninggalkan Shafa untuk selamanya.

Ketika itu tepatnya di sebuah gang perlintasan komplek perumahan, segerombol pemuda bengis memergoki Marwah yang tengah berjalan sendiri sepulang dari bekerja. Marwah si cantik yang memiliki rambut panjang mengurai, bibir seksi, hidung mancung dan tubuh yang langsing semampai berjalan seorang diri di tengah kesunyian malam dengan guyuran hujan yang lebat. Shafa tak menyangka bahwa peristiwa itu akan merenggut nyawa kekasihnya.

“Permisi Bang…” dengan sopan dan lembut Marwah berjalan melintasi tiga pemuda bengis yang sedang mabok, ia berjalan dengan menepi ke sebuah tembok untuk menghindari guyuran air hujan sambil menutupkan tas ke atas kepala. Tiba-tiba salah satu di antara mereka memanggilnya
“Hai gadis kemarilah sebentar, temani kami minum“
Marwah tak menghiraukan sapaannya. dengan terburu-buru ia berjalan meningggalkan mereka bertiga. Marwah yang sedang terburu-buru di kejar oleh tiga pemuda yang tengah mabok dan memergoki Marwah dari depan. Derasnya hujan yang membuat Marwah tidak dapat berbuat apa-apa, ia hanya bisa menyudut ketakutan sambil memeluk tas kesayangannya. Posisi Marwah yang terkepung mambuat ia tak dapat berkutik, satu demi satu tangan pemuda itu menjaili wajah Marwah yang cantik, Marwah selalu mencoba menampiknya namun tiga pemuda tersebut terus beraksi.
“Ayo dong..cantik, kasih abang sedikit service“
salah satu dari pemuda tersebut merayu, Marwah mencoba memberontak untuk berlari. Tetapi, salah satu dari tiga pemuda tersebut dengan sigap menangkap pinggul Marwah, tubuh Marwah pun tertahan tak dapat melarikan diri. Marwah mencoba berteriak


“Tolong… tolong… tolong…!”


tetapi salah satu dari mereka mengancam


“Diam,…! jika berani berteriak kamu akan aku bunuh, diam..!”.


Marwah hanya bisa menangis ketika tiga pemuda tersebut mengancam sambil membelai-belai wajah dan tubuh Marwah, ia pun terus berontak. Hujan yang mengguyur di malam itu tak terbendungkan lagi, dentum petir terus bersahutan dengan cepatnnya seolah petir ingin menolong Marwah.


Namun apalah daya Marwah si cantik jelita, wajahnya terus dijamahi oleh tiga pemuda bengis tersebut. Entah badai apa yang membuat tiba-tiba Marwah terlepas dari kepungan tiga pemuda tersebut. Marwah berhasil melarikan diri, di bawah guyuran air hujan ia beralari untuk menghindar. Jalan yang sempit, lampu yang padam, air yang meluap ke jalanan dan gulitanya malam membuat Marwah tak mampu mengindari kejaran tiga pemuda tersebut, Marwah pun terjatuh saat berusaha melarikan diri


“Jangan Bang…jangan …”


Marwah memohon. Tiga pemuda tersebut terus mendekati Marwah sambil terbahak-bahak


“ Hai Jablai mau lari ke mana kamu ha…”


seorang di antara mereka menyahutinya.


“Jangan Bang…jangan Bang…jangan…”


sembari menangis Marwah memohon kembali kapada tiga pemuda itu.


“apa.. jangan ! ha…ha…ha…”


“jangan lama-lama maksud kamu, ha...ha..ha…”


pemuda tersebut tertawa terbahak-bahak.


Tubuh Marwah yang tersungkur di tengah gang dengan sedikit terendam air hanya bisa tertatih-tatih menghidar, air mata deras mengalir seperti derasnya air hujan di malam itu, Marwah memohon dan meminta. Seorang di antara mereka mengangkat tubuh Marwah sambil melontarkan kata-kata


“Ayo sayang bercumbulah dengan ku, kamu pasti puas”


Marwah mencoba menampik tangan pemuda itu, tapi yang Marwah dapati sebuah tamparan di wajahnya


“diam kamu..!”


tubuh Marwah kembali tersungkur tak berdaya. Satu diantara mereka pun kembali mengangkat tubuh Marwah dan mencoba melepasi satu perastu kancing di baju Marwah, Marwah mencoba melawannya kali ini Marwah kembali mendapat tamparan, Marwah kembali tersungkur. Tanpa sungkan satu demi satu pemuda itu melakukan aksi bejatnya. Tubuh Marwah yang lemas tak berdaya karena tampran berkali-kali dari tiga pemuda bengis itu, dipeganglah tubuh Marwah dengan erat satu demi satu menggilirnya.


Kecuali hanya tangis yang membisu dan hempasan badai di malam itu yang akan menjadi saksi di mana Marwah terenggut keprawanannya dan masa depannya. Kilatan-kilatan petir di malam itu mengabadikan peristiwa bagaimana Marwah gadis tanpa dosa itu dibejati oleh tiga pemuda bengis. Hujan mulai mereda hanya sisa-sisa trauma yang ada di hati Marwah, tubuhnya terkapar tak berdaya dengan lumuran darah. Rupanya tiga pemuda itu juga telah menghabisi nyawa Marwah dengan kebengisan dan tanpa rasa dosa.


Cinta Shafa yang begitu menggelora harus terkubur dalam ketika mendengar kabar Marwah kekasih tercintanya telah meninggalkan dia untuk selama-lamanya. Perasaan inilah yang membuat Shafa tersungkur dalam buai trauma yang panjang. Malam itu adalah malam trauma setahun Safa untuk mengenang kekasih tercintanya.






Abroor, 9 September 2006

Web ini dikelola oleh admin. Anton Mabruri adalah seorang Filmmaker, Broadcaster, Penulis, Designer Grafis, Motivator, Teacher, dan Manusia Biasa. Ia hanya ingin MEMPERBAIKI INDONESIA.

Start Work With Me

Contact Us
Mahapatih Anton
+62 8571 55 33 0 88
Kota Depok, Jawa Barat