Aji ning Raga ono Ing Busono, Aji ning Ati ono Ing Lati...

Rasa kantuk yang menjumpaiku, hmmm... sehari dalam perjalanan panjang menuju Tegal - Jakarta ku tempuh. Mulanya kami hanya duduk berdampingan diam tak saling menyapa, entah peristiwa apa yang membuat akhirnya kami berdua mengobrol. Sebut saja dia Alan (bukan nama yang sebenarnya).

Alan : pulang ke mana mas..?
Aku : ke Depok..
Alan : ohww... di Depok kerja atau apa?
Aku : ya kerja...
Alan : di mana?
Aku : ngajar mas...

Alan sedikit heran dan diam sejenak, ia memperhatikan busana yang aku kenakan dan melanjutkan pertanyaan.

Alan : nagajar di mana?
Aku : di SMK Broadcast tv Depok..
Alan : oh... ada ya mas...

dengan nada sedikit heran dan masih belum percaya

Aku : ada Mas...
Alan : aku kira masih kuliah...
Aku : masih kuliah mas...
Alan : di mana?
Aku : ada...

*****
Setiap manusia yang melihat penampilan yang aku kenakan sehari-hari, selalu di sanggah dengan tak percaya. Sebenarnya apa yang salah dari busana yang aku pakai... aku punya keyakinan aku adalah aku, rasanya sulit untuk merubah penampilan yang kini telah menjadi identitas pribadiku. Suatu kali Abah ku pernah protes saat sekembalinya aku dari Depok, "mbok ya penampilannya di rubah" dengan gerutuan yang tak ia suka. Apalagi aku sebagai pendidik di dua sekolah dan hampir tiap hari bertemu dengan murid-muridku.

Hingga tulisan ini aku unggah aku hanya ingin mengatakan bahwa aku adalah seniman... sebenarnya ini berlawanan arah dengan waktu SMA. Hampir sahabat yang aku temui terheran-heran, mereka mengira kelak ketika aku lulus dari SMA bisa jadi ustadz atau kyai... hmmm... hidup selalu menilai seseorang dari penampilannya bukan melihat dari isi hatinya.

Memang benar pepatah jawa yang mengatakan "ajining raga ono ing busana, aji ning ati ono ing lati..." (penyempurnaan badan/tubuh itu terlihat di busana/pakaian/penampilan, penyempurnaan hati itu terlihat dari mulutnya pada saat dia bicara). Sayangnya pepatah ini tidak sepenuhnya benar, apalagi banyak modus penipuan dengan hanya berbusana rapi ternyata maling, garong atau rampok bahkan tukang korup [lihat di pemerintahan] hampir dari mereka itu berbusana rapi, berdasi bahkan klimis. Ironis.
Previous
Next Post »

supported by