NEGERI TUHAN [cerita fiktif]


NEGERI TUHAN [cerita fiktif]
Berapa lama lagi Indonesia ini sejahtera? Pembangunan merata, rakyat makmur? Agaknya ini akan menjadi artifisial saja, selama negeri ini jadi perebutan antar dua penguasa. Sepak bola kita adalah simbol betapa bobroknya negeri ini, dua penguasa memperebutkan siapa yang akan urus bola. Saya curiga Indonesia ini direbut [baca: didesain] oleh dua penguasa yang hanya rebutan duit.

Bahkan ada wacana yang menggelitik hingga kini, "sebenarnya gampang menaklukkan penduduk Indonesia yang berjumlah 240 juta, tapi yang paling penting adalah bagaimana Anda meyakinkan 500 orang yang punya Indonesia". Apakah Anda yakin bahwa ketika Anda menjadi salah satu pimpinan di negeri ini lantas Anda mampu berbuat sesuatu untuk Indonesia? saya tidak yakin, seperti para pemimpin zaman sekarang ini bagaimana dia memimpin negeri ini dengan gayanya tak ada satu pun yang mampu memberikan perubahan yang siginifikan. Saya sarankan ketika Anda ingin menjadi penguasa di negeri ini lebih baik Anda mempunyai kekayaan yang melimpah agar pada saat Anda menjadi pempimpin Anda tidak seperti kambing congek atau kebo yang dicucuk hidungnya, mau diperintah ke mana saja ia mau. Sebab Anda tidak punya nilai tawar, lihat para anggota legislatif dan yudikatif negeri ini hampir semua adalah pesanan dari para pemilik modal yang menguasai Indonesia. Lihat juga bagaimana Pak Beye yang gelagapan bingung mengambil keputusan pada saat hal-hal yang urgent sekalipun, beliau hanya mengeluh dan mengeluh yang sesunggunya ia mengeluhkan dirinya sendiri atas ketidak mampuan dirinya.

Bila Ada pemimpin yang mau berdiri bersama rakyat itulah pemimpin yang sesungguhnya. Jengan melihat modal tapi lihatlah Rakyat Indonesia.

[sekadar wacana]
Previous
Next Post »

supported by