PROBLEM SOSIO PENDIDIKAN KITA

Jujur terkadang ketika pulang ke kampung halaman terlintas ingin membenahi kampung halaman yang semakin hari tak jelas arah pembangunannya, mungkin ini impas/dampak dari sistem tata negara yang ada. Hampir setiap kali pulang ada saja para pemuda [cah noum] yang bergerombol tak jelas apa yang sedang mereka kerjakan bahkan beberapa botol minuman cap ndeso [baca: topi miring, beras kencur, atau anggur jenggot] menemani canda tawa yang mereka lakukan. Dalam keadaan panik dan bingung malahan mereka menodong alias meminta uang kepada orang yang tengah melintas disekitar mereka, ini masih mending yang terparah malah membuat berbuat onar atau mengambil hak orang lain alias maling pun mereka jabani.

Disudut yang lain ada para orang yang berusia tak lagi produktif asik bermain gaple/poker dan bertaruh dengan uang. Toh, mereka sebenarnya juga tak punya uang. Ini salah satu bentuk rendahnya pengetahuan mereka tentang dampak perbuatan yang mereka lakukan, dan ini bukan penyakit masyarakat ini adalah penyakit sistem kenegaraan kita utamanya adalah tidak meratanya pendidikan yang mereka dapati. Kira-kira hanya sekian persen yang mau mengelola skill dan otak waras mereka untuk bekerja. Dan piliahannya ada dua hidup merantau atau tetap hidup di kampung halaman namun tetap apa adanya.

Harus ada simbiosis mutualisme antara kehidupan kota dan desa, salah satu cara adalah dengan berbagi apapun yang kita [baca: orang kota] uang, tenaga, fikiran, ilmu dan pengetahuan agar semata-mata tidak terjadi problem sosial yang gawat.
Previous
Next Post »

supported by