SEKARANG

Ada dua tipe manusia dalam kehidupan kita, tipe yang pertama adalah mereka yang selalu percaya akan masa depan dan yang kedua adalah mereka yang tidak percaya dengan masa depan. Manusia yang percaya dengan masa depan pun terbagi menjadi dua, yang percaya dengan masa lalu dan yang tidak percaya dengan masa lalu.

Ada banyak diantara kita yang percaya akan masa lalu bahakan hingga negara ini berdiri pun semua percaya bahwa Indonesia ini adalah negara maritim dengan segala pencapaiannya bahkan konon katanya paling ditakuti lawan ini sejarah era kerajaan. Kemudian di era 1960-an kita percaya pemimpin kita yang bernama Soekarno adalah orang yang peling berpengaruh di kawasan Asia bahkan sebagian Eropa serta Afrika jika sejenak kita melihat sejarahnya ada di sana. Beda dulu beda sekarang, inilah titik nadir yang paling menjijikan di negara kita sangat terpuruk kemiskinan, kejahatan, korupsi dan kesemena-menaan di mana-mana. Manusia Indonesia terbiarkan dalam kondisi seolah tak ada pemimpin di negeri ini, mereka makan mencari sendiri, mencari kebutuhan sendiri, menjual hasil panen sendiri dan masih banyak hal yang dilakukan rakyat dengan cara sendiri. Sementara Pemerintah selalu mewajibkan kita sebagai WNI yang baik untuk membayar pajak, padahal kontribusi Pemerintah terhadap kita itu tak ada bahkan cenderung menyiksa, mempersulit dan menyusahkan satu contoh selama ini kita selalu diberi informasi tentang kerugian-kerugian negara sehingga negara dalam kondisi defisit, tetapi mereka [pemerintah] tak pernah sedikitpun memberi kabar kepada rakyatnya bahwa kita mengalami surplus keuangan.

Gamabaran di atas adalah masa sulit yang dialami bangsa kita, kemudian sebagian kita berkoar bahwa Indonesia "nanti akan menjadi negara makmur". Kalimat "Indonesia nanti akan menjadi negara makmur" adalah sebuah kegelisahan yang dialami oleh sebagian rakyat untuk mengibur diri. Padahal jika kita ingin merubah masa depan bukan hanya dengan kata "nanti" tapi lakukan sekarang bukan nanti atau besok. Tentunya dengan proses belajar dari pengalaman bukan larut dengan dongeng atau sejarah masa lalu.

Lakukan perubahan sekarang bukan nanti atau besok.
Previous
Next Post »

supported by