JAKARTA SHARE [KERETA CEPAT JKT-SBY]

JAKARTA SHARE - konsep ini sedikit berbeda dengan yang lain, saya akan mencoba bertanya "Apakah mungkin setiap daerah [kota/desa] bisa maju seperti Jakarta?" sedangkan putera-puteri daerah terbaiknya saja enggan hidup di dearah asal. Tentu bisa maju asalakan setiap putera-puteri terbaik daerah juga mau tinggal di daerah kelahirannya. Sayangnya sampai detik ini masalah utama Negara kita ini adalah masalah mobilitas [transportasi]. Dahulu kala sebelum motor, mobil, bus, kereta, pesawat dan kapal laut manusia bermobilitas dengan berjalan kaki atau menggunakan hewan sebagai sarana mobilitas utamanya dalam menjalankan roda ekonomi juga kegiatan sosial lainnya. Kini semua jenis peralatan mobilitas sudah sedemikian canggih tetapi tidak ada satu pun yang berfikir untuk membuat atau mangadakan fasilitas mobilitas yang murah dan terjangkau tetapi super cepat, hingga memungkinkan manusia bergerak cepat dan tak membuang waktu. Dapat kita bayangkan bagi Anda yang tinggal di Depok-Bogor-Bekasi-Tangerang yang merupakan daerah komuter, silahkan hitung waktu tempuh dan rasakan sendiri bagaimana perjalanan menuju Jakarta yang membutuhkan waktu tempuh sekitar minimal 2 jam lebih. Perjalanan tersebut sama dengan jarak tempuh dari Cierbon - Jakarta jika menggunkan Kereta Cirek [Cirebon Ekspres], dan dengan akomoda yang sama pula Tegal - Jakarta hanya memerlukan waktu 4 saja, waktu tempuh tersebut sama dengan waktu yang kita butuhkan dari Bogor - Jakarta.

Intinya Jakarta harus berbagi, Indonesia bukan Jakarta saja Indonesia adalah negara yang terdiri dari jutaan desa, ribuan kota kecil, ratusan kota sedang dan puluhan kota kecil sayangnya sangat tidak seimbang dalam pembangunannya. Memang Jakarta adalah Ibu Kota Indonesia tetapi dalam perannya tidak mencerminkan sebagai Ibu Kota Negara, justru menjadi ajang "konyolitas" belaka. Yang setiap individu di daerah sangat bermimpi untuk ke Jakarta dengan tujuan mencari nafkah. Namun saya yakin bila Jakarta mau berbagi sesungguhnya masalah sosial dan ekonomi dan masalah yang lain yang sangat komplek akan teratasi dengan sendirinya. Jika Jakarta mau berbagi dalam memberikan fasiltas berupa sarana mobilitas super cepat, saya yakin orang Jawa [yang hidup di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat] lebih memilih tinggal di daerah asal [kota kelahiran] dan Jakarta tidak akan ada lagi operasi justisia yang cenderung poloitis bahkan anarkis.

Tahun 1999 saya datang ke Depok tempat tinggal saya sekarang, di tahun itu Jalan Margonda belum selebar dan sepadat sekarang hanya ada satu jalan kecil yang kanan kirinya adalah kebon bahkan masih ada sawah dan ladang. Kini Depok menjadi kota tumbuh pesat dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat bagus, tapi kini juga mengalami masalah yang sama yakni mobilitas tranportasi. Perkembangan Depok tumbuh menjadi kota yang potensial disebabkan karena sebagian besar dihuni mereka yang bekerja di Jakarta siang hari, malam hari mereka kembali ke Depok. Mengapa pertumbuhan ekonomi di Depok sangat cepat? hal itu terjadi kerena ada transaksi ekonomi atau kegiatan ekonomi. Kegiatan ekonomi tumbuh karena ada pendapatan masuk dari setiap individu, dengan adanya pendapatan maka orang yang tinggal di Depok tidak mungkin lagi membelanjakan kebutuhan ekonominya ke Jakarta, pastilah mereka membelanjakan uang tersebut di daerah sekitar. Itu menandakan roda ekonomi pun tumbuh karena di sana terjadi transaksi jual beli yang sangat tinggi. Bayangkan saja bila setiap orang Jawa [yang hidup di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat] bisa pulang ke daerah asal dan tinggal di daerah asal dengan sistem akomoda super cepat, saya yakin daerah-daerah tersebut akan maju dan berkembang pesat. Saya yakin pula jika akomoda semisal kereta cepat Jakarta - Surabaya lahir dengan waktu tempuh hanya 4 jam, dapat dibayangkan setiap hari saya hanya membuang waktu 30 menit Brebes - Jakarta.

Apakah tidak ada solusi? Saya kira ada, bila Jakarta dan Pemerintah Pusat mau membangun sarana akomodasi dan mobilitas yang super cepat semisal Kereta Cepat, maka orang daerah yang bekerja di Jakart lebih memilih tinggal di daerah Jawa dan memilih pulang ke kota asal. Ini tentu imbasnya pun sangat positif di mana roda ekonomi akan tumbuh dengan sendirinya. Contohnya Jepang dengan ibu kota Tokyo, tetapi manusia yang bekerja di Tokyo bisa bermobilitas kembali ke daerah asal dengan fasilitas kereta yang super cepat. "Jakarta Share"

Depok, 21 September 2012
Previous
Next Post »

supported by