FILOSOFI MACUL - Menuju Spiritualitas Manusia

Macul atau mencangkul adalah proses menggali, mengaduk, dan membalik tanah sebagai usaha untuk menanam kembali tanaman atau bibit yang petani inginkan. Terasa sepele macul itu, namun bila kita yang sudah pernah menjalani hidup menjadi petani, capeknya luar biasa menguras tenaga. Para petani dalam macul itu menggunakan alat yang bernama pacul (filosofinya sudah saya jelaskan - baca juga Filosfi Pacul). Lalu apa macul itu? Bila kita perhatikan dengan seksama benda yang berbentuk pacul itu terdiri dari lempengan besi dan gagang yang terbuat dari kayu. Gagang pacul itulah yang disebut doran. Apa itu doranDoran adalah kependekan dari ojo adoh sing Pengeran - jangan jauh dari Sang Pencipta, penciptaan nama tersebut dilakukan oleh Kanjeng Sunan Kali Jaga tentu memiliki nilai agung.

Dan di balik bumi ada ayat-ayat bagi orang yang yaqin, dan di balik jiwamu, apakah kalian tidak melihatnya.” (Q.S: Adz-Dzaariyat, 20-21)

Pada saat kita mencangkul (macul) tentu kita terus dan harus memegang gagang pacul (doran) dimaksudkan agar kita harus terus berpegang pada Gusti Alloh Pengeran kita. Doran (ojo adoh sing Pengeran) mengajarkan kita untuk tetap dekat dengan Gusti Alloh Sang Pengeran kita. Bila kita sudah siap mengolah tanah/lahan maka benda yang disebut pacul (sing papat ojo ucul) sudah kita pegang melalui doran (ojo adoh sing Pengeran) dan siap digunakan untuk macul (sing lima ojo ucul) menggali pengetahuan yang ada di bumi ini semata-mata agar kita tidak menjadi sombong. Maka untuk mencapai macul kita harus pegang doran pacul-nya barulah kita bisa macul lebih dalam dan lebih luas.

Sungguh Nabi Saw, bersabda: “Siapa yang rendah hati ia akan diangkat derajatnya oleh Allah Azza wa-Jalla, dan siapa yang sombong Allah Azza wa-Jalla akan merendahkannya.” (HR. Ahmad)

Sesungguhnya spiritualitas tertinggi kita adalah bila kita mampu menjalankan macul (sing lima ojo ucul) dalam pandangan agama kita macul adalah ukuran tingkat ketaatan manusia dalam menjalani agama, jikalau kita muslim maka kita wajib mengamalkan hubungan vertikal dan horizontal yang tertercermin dalam kata macul tersebut. Macul adalah manifestasi dari Rukun Islam yang terdiri dari lima kewajiban antara lain (dalam kitab Safinatun Najah) : (1) Membaca Syahadat yakni bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad utusan Allah, (2) Mendirikan (mengerjakan) shalat, (3) Membayar zakat (4) Berpuasa ramadhan (5) Berhaji ke bait (Allah) bagi yang mampu untuk (biaya) perjalanan. Dan dalam khasanah bahasa orang kampung disebut "macul" (sing lima ojo ucul). Meskipun memang tidak semua orang kampung tahu apa hakikat macul tersebut.

Ibadah Vertikal (Manusia dengan Gusti Alloh)
Tingkat spiritualitas seseorang lekat ada di sini (ada dimacul) yakni lima kewajiban yang tak boleh dilepas (doranojo adoh sing Pengeran). Jika kita renungi lagi bahwa sebenarnya manusia hanyalah makhluk ruh yang berjasad, hingga Alloh pun menyebutkan dalam Al qur'an bahwa manusia adalah sebagai sebaik-baik makhluk yang diciptakan dan diturunkan ke dunia. Di awal penciptaan manusia ketika di alam ruh kita telah menyaksikan [musyahadah] Alloh dan mengakui bahwa Alloh adalah Tuhan kami, barulah kemudian kita ditiupkan ke dunia untuk menjadi Khalifah yang mengabdi kepadaNya.

Allah Swt, berfirman: “Aku tidak jadikan jin dan manusia kecuali untuk beribadah pada Ku.” (Q.S: Adz-Dzaariyat, 56)

Singkatnya syahadat, sholat, puasa, dan haji adalah aspek vertikal atau hubungan kita dengan Alloh. Dalam penciptaan makhluk yang bernama manusia Alloh sudah mengambil sumpahnya ketika masih di alam ruh, Alloh bertanya "apakah aku ini Tuhanmu" maka ruh pun menjawab "qolu balaa syahidna: berkatalah ruh aku menyaksikan Mu ya Rabb". Setali itu manusia diturunkan ke bumi untuk mengemban amanah menjadi Khalifah yakni menjalani perintah Nya (yang wajib: mendirikan Sholat, menjalankan puasa Ramadhan, serta menunaikan Haji jika mampu). Yang menjadi pondasi dasar adalah bumi, inti dari kehidupan kita. Maka sesungguhnya makhluk yang bernama manusia diciptakan di bumi untuk macul dengan pacul berpegang pada doran.

Ibadah Horizontal (Manusia dengan Manusia)
Dari prinsip macul di atas yang sangat komplek adalah zakat. Dan hanya zakat yang merupakan aspek horizontal bumi yakni hubungan manusia dengan sesama manusia. Zakat di dalam islam ada banyak macam sebutannya mulai dari infaq, shodaqoh, dan jariyah itu semua merupakan amal keduniaan untuk meniti kita kepada jalan yang lurus dan terang (red: mencapai nikmat syukur). Sadar betul akan manfaat zakat [infaq, shodaqoh dan amal jariyah] maka berbagi adalah cara yang paling tepat untuk membentuk kekuatan sosial masyarakat yang baik dan berkualitas. Hingga dapat mencapai peradaban yang gemilang [khairo ummat], tidak mungkin peradaban ini akan maju kalau si kaya ini masih menyembunyikan hartanya dan tak mau berbagi kepada si miskin, maka yang ada adalah keterpurukan zaman. Ini yang terjadi di dalam peradaban Nusantara yang mayoritas berpenduduk muslim.

Anehnya kenapa manusia diluar muslim ini lebih maju dan memimpin dalam peradaban di dunia ini. Saya tak akan macul menyoroti dan mencermati negara lain kecuali negara kita sendiri Indonesia, dalam standar internasional negara kita dikategorikan ke dalam negara berkembang dengan sejumlah identifikasi yang dibuat oleh negara maju. Selain kemiskinan kita, masalah lain adalah diantara kita masih banyak tak ingin berbagi antar sesama.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ketika disebut Nama Allah, hatinya bergetar, dan ketika dibacakan ayat-ayat Nya pada mereka, maka imannya bertambah kuat, dan kepada Tuhan mereka berserah diri.  Yaitu orang-orang yang mendirikan sholat dan memberikan nafkah atas apa yang telah Kami rizkikan. Mereka itu adalah orang yang beriman dengan benar. Bagi mereka adalah derajat luhur di sisi Tuhan mereka, dan mereka mendapatkan ampunan dan rizki yang mulia.” ( Q.S: Al-Anfaal, 2-4).

Sangat sedikit orang yang tahu tentang arti pentingnya berzakat, padahal ini pilar utama untuk membangun kemajuan peradaban dunia. "Kemiskinan akan mendekatkan kekufuran", kekufuran banyak bentuknya kejahatan adalah tafsir yang pas. Maka tak heran dalam sebuah negara yang penduduknya relatif lebih miskin maka kejahatan akan merajalela.

Filosofi doran dan macul adalah sebuah nilai yang sudah ditanam oleh para Wali Songo sebagai upaya memajukan peradaban yang madani. Maka kohesi ummat mutlak diperlukan dalam membangun peradaban ini, jika diantara kita mencoba membuat satu kegiatan berupa pengumpulan infaq minimal di lingkungan keluarga mempunyai satu kaleng infaq yang kemudian hasil infaq ini dimanfaatkan untuk berbagi kepada yang membutuhkan dan dimanajemen dengan rapih dan teratur bukan tidak mungkin menuju peradaban yang berkualtias akan terwujud. Dan inilah puncak spiritualitas manusia.

Wallohi 'alam bishowab...

Mahapatih Anton

Ila rukhi Kyai Waryono
Syaikhina Salahuddin Al ayubi Abdul Jalil Mustaqim
Ustadzina DR. KH. M. Luqman Hakim, MA 
Previous
Next Post »

supported by