Ong-cost Politik

Politik kekinian kita terbagi menjadi 2 arus besar yang dua-duanya berbahaya dan punya banyak kelemahan. Yang pertama adalah politik bagi-bagi uang, fasilitas, dan kesenangan sesaat yang kedua adalah politik obral janji, keduanya tak punya urgensi yang jelas kecuali nafsu gede ingin mencapai pucuk kepimpinan. Menyaol Pilkada dibeberapa daerah sungguh tragis dan tak bermutu, demokrasi kita yang baru seumur jagung telah banyak diciderai oleh kepentingan sesat dan sesaat.

Seorang calon dengan ambisi besar menjadi Bupati/Gubernur terkadang menghilangkan nurani [baca: akal sehat] dengan mengahalalkan segala cara untuk memenangkannya. Ada bebarapa calon yang sengaja menebar pesona dengan memberi uang atas nama hadian secara cuma-cuma, hingga tak terbatas nilainya inilah yang disebut cost politik. Jika ini dilakukan kelak bila ia terpilih maka semua uang rakyat dan dari pajak rakyat akan diambil alih sebagai ganti ruginya. Maka dari itu gunakan akal sehat kita untuk memilih Bupati/Gubernur yang tak menebar uang, fasilitas dan kesenangan sesat, sebab ini jauh lebih berbahaya. Secara tidak langsung kita telah menanamkan benih-benih korupsi di antara para calon. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang lahir diantara rakyat dan bersama rakyat bukan dengan "cost politic".

Cara yang kedua dilakukan oleh para calon Bupati/Gubernur adalah obral janji, cara ini biasanya dilakukan oleh mereka yang pandai menyampaikan informasi atau pintar komunnikasi. Tetapi tingkat kebenarannya tak dapat dibuktikan, mereka "omdo" [omong doang] hanya untuk mencapai tujuan. Cara ini memang tak mengeluarkan cost politik tapi sama berbahayanya, bagamana mungkin kita memilih pemimpin yang tukang kibul. Padahal ini juga berdampak pada diri kita, semua kebijakan yang ada akan dimanipulasi dan akan dipelintir sedemikian rupa hingga tak terlihat kejelekannya. Padahal di dalamnya banyak borok yang ditutupi dan bisa berdampak membangkrutkan kabupaten, provinsi, dan negara.

Pilihannya adalah, lihat track record mereka dari sisi fakta yang real bukan isapan jempol belaka. Sealin itu tingkat emosi, calon pemimpin yang baik memiliki tingkat emosi yang baik karena berdampak pada saat dia menghadapi masalah alias tidak suka ngamuk-ngamuk. Mengamuk diperluakan seorang pemimpin jika kondisinya memang sudah tidak kondusif bahakan jika dibiarkan akan menimbulkan kehancuran, wajiblah pemimpin untuk melakukan hal tersebut.

salam
Mahapatih Anton 
Previous
Next Post »

supported by