SARA Bunga Desa [analisa politik]


Kapasitas saya sebagai penduduk Jakarta sangat risih mendengar kata SARA. Dahulu ketika saya duduk di bangku Madrasah sering mendengar kata-kata ini hingga waktu SMA saya pun bertanya SARA itu apa? jawaban yang pasti dari buku dan dari guru PPKn saya adalah Suku, Ras, Agama, dan Antar golongan. Terjawab sudah rasa penasaran itu, dahulu saya mengenal SARA adalah gadis kampung yang amat cantik atau popoler dengan istilah bunga desa jadi ingat lagunya Bang Haji "bunga desa" hehehe.

Setiap jelang Pemilu entah itu pemilihan Bupati, Gubernur, dan bahkan Presiden kata-kata ini juga ramai dibicarakan sebagai senjata utama dalam menggiring massa untuk memilihnya. Menyinggung SARA di Pemilukada DKI putaran 2, hembusan kata-kata SARA deras mengalir untuk mendiskritkan [baca: memojokkan] salah satu calon dan mengupayakan kemenangan salah satu kandidat. Selain cara ini tidak dibenarkan dalam tatanan negara demokratis juga tak efektif digembar-gemborkan mengingat penduduk DKI Jakarta yang mencapai 10 juta ini multi kultur dan sangat cerdas juga kritis. SARA untuk penduduk DKI Jakarta tidak efektif, karena SARA itu hanya cocok untuk penduduk desa yang pola fikirnya masih jauh dengan mayoritas penduduk DKI Jakarta.

Bagi saya SARA adalah tetap bunga desa, dia bukan gadis kota yang mampu memikat masyarakat kota. Mungkin tak percaya dengan uraian yang saya tulis mari kita buktikan, di suatu desa coba kita ingat berapa calon pemimpin "maaf" non muslim yang mencalonkan diri menjadi pemimpin yang mayoritas muslim fanatik pasti ketika kampanye dan juru kampanye mangatakan jangan pilih si A karena dia beragama non muslim. Maka yang terjadi seluruh masyarakat desa tak memilihnya, ini karena masyarakat desa masih konservatif dan melihat sosok yang simpel [baca: yang penting seiman] bukan sosok yang banyak prestasi. Jadi hati-hati bagi Anda yang ingin mencalonkan diri sebagai sosok pemimpin, samakan visi misi SARA Anda dengan masyarakat desa tersebut. Atau Anda berlagak menjadi pahlawan ingin memimpin suku-suku di Papua sedangkan Anda orang Jawa totok maka yang terjadi adalah perlawanan dari suku-suku tersebut. Sekali lagi SARA tak cocok untuk masyarakat kota SARA tetap menjadi bunga desa.

Tak akan berpengaruh banyak jika SARA ini terus ditawarkan kepada masyarakat kota, apalagi sebagai upaya memenangkan salah satu kandidiat. Sampai mulut Anda berbusa bahkan sampai nangis pun [seperti Bang Haji] takkan efektif untuk menghasut masyarakat kota.

Dan akhirnya SARA hanyalah bunga desa yang menjadi korban aniaya juru kampanye.
Previous
Next Post »

supported by