Tuesday, 25 September 2012

TAWURAN...! SALAH SIAPA?

Sepertinya saya perlu menulis untuk menganalisa dan sedikit memberikan solusi yang tepat bagi para pendidik (baca: guru) di negeri ini. Sejak SMA dulu saya pernah berbincang dengan satu teman sekolah, dan saya bilang kelak saya tak ingin menjadi Guru seperti yang saat ini saya bidani. Meskipun bukan cita-cita tetapi akhirnya saya menyukai sebab di sana ada prinsip berbagi, berbagi ilmu pengetahuan terhadap sesama. Sejatinya prinsip seorang Guru adalah bebagi ilmu pengetahuan dengan si murid, tetapi apa yang harus dilakukan bila sang murid juga ternyata kurang ajar. Ini jangan salahakan murid juga jangan salahkan Guru, terjadinya tawuran di beberapa SMA yang baru saja terjadi antara SMA 6 dan SMA 70 yang menewaskan 1 orang murid bisa merupakan indikator kegagalan pendidikan nasional karena tak mampu memperbaiki sikap, perilaku dan pengetahuan yang positif bagi si murid.

Sesungguhnya pendidikan (baca: PAUD, TK, SD, SMP, SMA, dan PT) adalah merubah dan membangun peradaban suatu negeri agar lebih baik dan bermartabat. Saya kira sistem pendidikan kita tak salah, yang salah adalah para pendidik kita yang masih takut berinovasi dan berkreasi dengan lingkungan yang ada. Maka Diknas dalam hal ini membuat KTSP (Kurikulum Satuan Tingkat Pendidik) yang dulu disebut dengan Kurikulum saja. Kebanyakan dari para guru di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia bahkan tak mengerti apa itu KTSP, mereka beranggapan bahwa penyelenggaraan pendidikan harus sama persis dengan aturan yang dikeluarkan oleh Diknas. Padahal beradasarkan informasi yang saya dapat langsung dari Diknas, sebaiknya sekolah mampu merubah [baca: mengadaptasi] kurikulum yang ada disesuaikan dengan daerah dengan kondisi masing-masing tak harus takluk utuh apa adanya dengan yang ada di KTSP. Pengalaman debat kusir dengan para pendidik berumur sudah pernah saya alami, dengan pemikiran yang kolot dan konvensional mereka enggan untuk menyesuaikan KTSP yang ada dengan kondisi lingkungan. Akibat dari semua ini murid tak berkembang dan jadi bulan-bulanan para guru yang tak mampu berinovasi dan berkreasi dengan caranya masing-masing.

Betapa tersiksanya para murid ini bila menemui satu guru yang membuat mereka tak suka, karena dengan sistem pembelajaran yang konvensional [D3: Datang, Duduk, Diam] atau hanya menceramahi sesuai yang ada dibuku pelajaran. Nilai-nilai angka menjadi ukuran utamanya, bila nilai tak mencapai ketuntasan si murid jadi bulan-bulanan si guru. Padahal nilai angka hanyalah sebagian kecil dari proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar), artinya bila si murid nilai angkanya jelek berarti cara penyampaian sang guru tidak disukai. Atau bisa jadi si murid punya bakat ketertarikan lain yang dapat ditumbuhkan dengan media penyaluran yang lain seperti ekskul atau olahraga, seni dan kebudayaan. Cara lebih muda bahkan di SMK-SMK, kerahkan semua kreatifitas dan buat semua siswa-siswi sibuk dengan kegiatan praktikum yang guru buat agar energi mereka tersalurkan secara positif.

Nilai juga tak hanya berurusan dengan angka, nilai normatif dan adaptif juga menentukan keberhasilan mengajarkan berbagi ilmu pengetahuan yang baik. Nilai angka dalam sekecap bisa dirubah, tetapi nilai kesopanan, kesantunan, keteladanan, kearifan, tenggang rasa, kebersamaan, dan nilai kebaikan yang lain merupakan faktor penentu keberhasilan pendidikan. Nilai-nilai itu dapat dimulai dari sang guru, bukan memaksakan kehendak pada sang murid. Gurulah yang harus memulai semua itu, mendidik tak hanya di kelas tetapi mendidik juga terus berlanjut hingga dalam bentuk nilai spiritual yang dimunajatkan lewat do'a. Pendidikan nilai-nilai akhlak jauh lebih penting dari sekadar nilai-niali angka yang ingin dicapai.

Web ini dikelola oleh admin. Anton Mabruri adalah seorang Filmmaker, Broadcaster, Penulis, Designer Grafis, Motivator, Teacher, dan Manusia Biasa. Ia hanya ingin MEMPERBAIKI INDONESIA.

0 komentar:

Post a Comment

Start Work With Me

Contact Us
Mahapatih Anton
+62 8571 55 33 0 88
Kota Depok, Jawa Barat