Monday, 1 October 2012

SALAH KAPRAH PENDIDIKAN INDONESIA

Ketika semua orang di dunia ini bodoh (jahil) kemudian di setiap zamannya Allah turunkan Nabi untuk mendampingi umat menuju kecerahan (ilmu pengetahuan) agar mereka dapat menjalani proses hidup yang baik. Ilmu pengetahuan berkembang begitu dahsyatnya hingga penemuan-penemuan dihasilkan untuk menjembatani proses evolusi itu sendiri, sampai dalam kondisi apa pun manusia mampu beradaptasi dengan baik, artinya evolusi dapat dipelajari dengan ilmu pengetahuan.

Lalu bagaimana dengan Evolusi dunia pendidikan kita saat ini, sudahkah menjadi bukti catatan yang lebih baik? Manusia pada saat dia bayi hingga dewasa melewati proses belajar sampai akhirnya dibeberapa catatan sejarah lembaga-lembaga pendidikan [baca: sekolah & kampus] pun didirikan seperti jamur di musim hujan untuk memfasilitasi menuju proses pencerahan. Beberapa dari mereka menawarkan jasa pendidikan terbaiknya, namun tidak dengan dunia pendidikan pesantren. Di zamannya pesantren berdiri berdasarkan kebutuhan umat bukan berdasarkan kebutuhan komersialisasi [nilai jual], contoh BNSP atau BAN akan memberikan standar nilai A, B, C, atau D pada sekolah/kampus tertentu. Tak lagi melihat metodiologi dan proses, maka tak heran dunia pendidikan kita menjadi awut-awutan hanya karena standar kelulusan siswa-siswinya di dasarkan pada proses Revolusi yakni standar nilai [poin] bukan Evolusi berupa standar proses dan metodiologi. Akibatnya proses evolusi yang peserta didik ini jalani bukan menjadi sesuatu yang berarti, karena dipaksa untuk mengikuti UN [Ujian Nasional] padahal mati hidup mereka di sekolah, belajar apa pun yang diberikan oleh guru. Jika memang demikian faktanya tak perlulah ada proses Evolusi, langsung saja dengan proses Revolusi [baca: peyelenggaraan Ujian Nasional]. Selesai.

Kasihan nasib pendidikan di Indonesia, dilematis dan penuh trik busuk bukan bermaksud membela Pesantren faktanya pesantrenlah yang mampu menghasilkan santri-santri yang berguna bagi masyarakat karena mereka telah melewati proses evolusi pendidikan bukan revolusi pendidikan. Di mana standar nilai bukan hal yang mutlak tetapi justru standar proses yang mereka terapkan, pada saat santri belajar kitab A dan belum menguasai maka santri tak boleh pindah ke kitab B dan begitu seterusnya. Dari kedalaman hati Sang Kyai (guru)  terus mendo'akan para santrinya agar kelak manjadi santri yang berguna bagi masyarakat dan bangsa.

Salah kaprah, akale salah tur ora bener lumrahe [melakukan kesalahan tetapi tidak mengakui] ini menjadi budaya bangsa kita di hampir semua bidang. Utamanya dalam hal ini pendidikan kita, teringat kisah salah satu teman begini ceritanya: "Sahabat saya ini punya anak kecil yang berusia 7 tahun. Selama ini dia hidup di AS, pada suatu saat belum lama ini pulang kampung neh... dan berharap anaknya dapat bersekolah di Indonesia. Si Ibu ini mendaftarkanlah anaknya ke sekolah dasar [SD] tertentu dan diterima dengan baik. Belum ada seminggu, si anak ini minta pulang ke AS dan minta sekolah di sana, sang Ibu pun bertanya kenapa? "habisnya pelajarannya banyak benget, beda dengan sekolah Ade di Amerika kalo di sana kan pelajarannya sedikit" begitu kata sang anak. Bisa kita bayangkan sekolah di Amerika jauh lebih menyenangkan bagi si anak karena mereka hanya belajar 3 mata pelajaran yang bersifat learning by doing. Di negara kita anak SD dipaksa belajar sampai teler dengan mata pelajaran seabreg banyaknya, tak diberi kesempatan bermain [baca: bersosialisasi] dengan teman-teman di lingkungan mereka hidup. Kita pilih AS [pendidikan gaya barat] apa Indonesia [gaya pesantren]. Ngaku bener tur salah....

Salam buat bangsa [t] Indonesia

Web ini dikelola oleh admin. Anton Mabruri adalah seorang Filmmaker, Broadcaster, Penulis, Designer Grafis, Motivator, Teacher, dan Manusia Biasa. Ia hanya ingin MEMPERBAIKI INDONESIA.

0 komentar:

Post a Comment

Start Work With Me

Contact Us
Mahapatih Anton
+62 8571 55 33 0 88
Kota Depok, Jawa Barat