Friday, 1 March 2013

Garis Nasib Bangsa Ini
Di suatu ketika Umar bin Khatab mendapat aduan dari seorang rakyat yang tinggal jauh dari negeri Umar bin Khatab ini berkuasa. Sang rakyat ini mengadu tentang kesemena-menaan pemimpin mereka yang sangat tidak adil dalam menjalankan roda pemerintahan. Sang Khalifah Umar bin Khatab lantas mengambil sebuah tulang dan menggaris tulang tersebut dengan pedangnya hingga terbentuk garis lurus. Tak lama tulang tersebut dibalut dengan kain dan diberikan kepada orang tersebut "bawa bungkusan kain ini dan berikan kepada pemimpinmu" begitu Umar Al faruuq berpesan. Sang rakyat ini pun kembali dan menemui pemimpinnya.

Sekembalinya di daerahnya dia menemui sang pemimpin [baca: sekelas gubernur, bupati, dan camat], dan menyampaikan bingkisannya "wahai sang pemimpin ada pesan dari Khalifah, ini yang bisa saya berikan" begitu dia berseloroh. Tak lama pemimpin ini membuka buntalan kain tersebut dan ternyata hanya berisi tulang yang bergaris lurus, sang pemimpin ini ketakutan seluruh badannya bergetar ia membayangkan bagaimana sikap kemarahan Ummar Al faruuq jika dia bertatapan langsung. Sejak saat itu ia mengubah paradigma kepemimpinannya dengan sangat adil dan bijak. 


Urgensi dari ceritera tersebut dengan Negara ini adalah NKRI ini membutuhkan pemimpin yang adil dan mengayomi rakyat Indonesia. Sikap dan perilakuknya menjadi panutan oleh setiap rakyat dilihat dari berbagai logat [karakter]. Ketegasan seorang pemimpin mutlak adanya bukan hal main-main apalagi sampai dipermainkan. 

Absurd 
Perspektif bangsa ini sesungguhnya absurd bila sikap para pemegang kekuasaan tak lazim dalam menjalankan roda pemerintahannya. Dikatakan lazim bila pemerintah memperhatikan keperluan rakyat dan bercita-cita memperbaiki sistem yang ada, dengan kata lain sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa ini yang tertuang dalam Pancasila dan UUD 45. Mengapa ini dilupakan bahkan ditinggalkan, mereka asyik memerankan kekuasaanya hanya demi kepentingang partai, golongan, dan pribadi. Korupsi menggeliat di mana-mana di semua lembaga pemerintahan, uang rakyat berhamburan tak karuan penggunaanya. Keniscayaan-keniscayaan yang semestinya malah diabaikan, sistem-sistem baru diciptakan sebagai upaya mempertahankan kekuasaan. Jelas semakin absurd keberadaan bangsa ini. 

Berlomba dalam kebaikan adalah hal yang mutlak karena ini bagian dari perintah Tuhan untuk umat manusia, berlomba dalam keburukan adalah sikap nisbi dari para iblis yang memang angkuh dan mementingkan dirinya sendiri. Kita tak mampu membedakan mana iblis mana Tuhan, mana yang baik mana yang buruk karena memang sudah absurd. Cermin ini sudah tampak jelas pada setiap perilaku dari para elitis negara ini yang lebih suka bertengkar dari pada mencari solusi untuk kepentingan rakyat Indonesia. Sesuatu yang absurd juga dilakukan oleh manusia nomor 1 di Republik Indonesia, bak seorang anak kecil yang mempunyai kebiasaan mengeluh membutuhkan pembelaan [baca:elusan] dari semua pihak atas persolan yang sebenarnya temeh dan bukan hal yang berat. Pun tak jauh berbeda, perilaku absurd berikutnya adalah ada pada orang no 2 di Republik Indonesia ini. Tak mampu berbuat sesuatu untuk bangsa dan rakyat Indonesia, hanya diam seribu bahasa yang ditunjukkan. 

Nasib Rakyat 
Masa depan rakyat tidak lagi berada pada pemegang kekuasaan di negeri ini, identitas hanya sebuah legalitas bahwa mereka lahir di Indonesia tetapi dalam hati kecil sungguh bertanya siapa Indonesia ini? Rakyat pada akhirnya memperjelas sikapnya [baca: tidak absurd] memilih dan memihak pada dirinya dan Tuhannya. Menjalani hidup dan menafkahi diri dan keluarga sebagai bekal agar mampu bertahan mendiami pulau yang disebut Nusantara ini. Pada akhirnya rakyat sangat dibebani oleh pemerintah bukan oleh nasib. Hingga detik ini beban itu bertambah seiring munculnya peraturan-peraturan baru dengan jlimet-nya birokrasi yang dibangun. 

Lalu harus dari mana ke-Indonesaia-an ini dimulai? 

Web ini dikelola oleh admin. Anton Mabruri adalah seorang Filmmaker, Broadcaster, Penulis, Designer Grafis, Motivator, Teacher, dan Manusia Biasa. Ia hanya ingin MEMPERBAIKI INDONESIA.

0 komentar:

Post a Comment

Start Work With Me

Contact Us
Mahapatih Anton
+62 8571 55 33 0 88
Kota Depok, Jawa Barat