Tuesday, 16 April 2013

Pendidikan Kita [UN Jalan Sesat yang Membelenggu]
Dunia pendidikan kita. Ada apa dengan dunia pendidikan kita, sementara orang di luar sana [baca: wali murid dan atau orang tua siswa serta masyarakat awam] terus menyalahkan dunia pendidikan kita. Baik dari sistem yang berjalan atau dari si pemegang kebijakan. Belumlah tuntas, dan entah sampai kapan tuntasnya masalah pendidikan kita ini. Dahulu sebelum peradaban ini terbentuk manusia purba bisa eksis hidup tanpa sekolah, bisa makan, bisa hidup, mampu beradaptasi dengan alam sekitar bahkan mereka tak pernah khawatir dengan masa depan. Di era sejarah ketika manusia mengenal tulisan dan mulai bisa menulis muncullah apa yang dinamakan teori pendidikan dan konsep pendidikan yang sesungguhnya adalah membebaskan manusia dari belenggu-belenggu ketakutan bukan malah ditakut-takuti seperti sekarang ini.

Pendidikan sejatinya menegakkan nilai-nilai keberadaban bukan kebobrokan seperti yang sekarang ini terjadi. Sekali lagi hendaknya pendidikan ini menjadi pemecah masalah bagi mereka yang mempunyai masalah terutama akan masa depan mereka bukan dengan iming-iming lapangan pekerajaan atau setelah lulus bisa langsung kerja. Idealnya adalah membangun sikap mental yang tangguh menentukan masa depannya sendiri, masa depan bukanlah jaminan sebuah negara. Negara dalam hal ini adalah sebagai fasilitator bukan penentu masa depan, bayangkan di Indonesia ini masa depan anak-anak didik dari SD, SMP, SMA/SMK ditentukan oleh negara dengan adanya Ujian Nasional (UN) yang dilangsungkan hanya 3 hari. Sungguh ironi dan ini menjadi penentu jenjang berikutnya, negara dalam hal ini "Dikbud" tidak akan pernah tahu internal anak-anak didik mereka pintar atau bodoh yang tahu persis adalah Guru yang berhadapan langsung.

UN adalah belenggu bagi kalian siswa-siswi kreatif yang ingin meraih masa depan gemilang, sekolah itu hanyalah upaya kalian para siswa-siswi untuk berproses menjadi lebih dewasa dalam bersikap dalam berpikir menentukan jalan hidup ini. Pendidikan hanyalah sebuah mata rantai kehidupan yang menjadi wajib bagi manusia bila ia ingin beradab maju dan bermartabat. Karena ada sebagian ilmu yang manusia tidak bisa diraih sekenanya dan seenaknya sebagai contoh ilmu akhlaq dan keteraturan, menganai praktikum dapat manusia langsung dapatkan di alam sekitar. Maka keliru besar bila pendidikan menjadi manusia makin bejat bermoral, bersikap, dan berbuat. Coba bayangkan berapa sekolah yang dengan segala daya upaya agar siswa-siswinya lulus 100% menyuap untuk jalan kelulusan, tak percaya buktikan sendiri menjadi guru dan lihat bertapa kebobrokan dunia pendidikan kita ini. Lagi-lagi gengsi [baca: prestis] sebuah yayasan pendidikan dan mungkin kepala sekolah, upaya-upaya curang pun berani dilakukan yang penting semua lulus 100%.

Hal lainnya sejak diberlakukannya UN dengan standar nilai tertentu seolah menjadi momok yang berlebihan bagi semua kalangan. Membayangkan UN seperti membayangkan sebuah perang kejahatan besar bagaimana tidak disetiap sudut sekolah aparat keamanan berjaga di sana hanya untu mengawasi soal UN agar tak bocor. Tapi psikologi orang indonesia pada saat meneumkan polisi di suatu tempat berarti ada kejahatan di sana, nah.. ini polisi masuk lingkungan sekolah maka yang tertangkap dalam benak siswa-siswi adalah ada kejahatan dan rasa takut yang berlebihan. Berarti negara memberi kenyamanan dalam dunia pendidikan kita.

Soal yang berjumlah random 20 paket, faktanya bukan soal yang dipelajari sehari-hari di sekolah selama 3 tahun mereka siswa-siswi belajar. Justru soal itu dari berbagai Bimbel yang marak akhir-akhir ini, jadi mengapa ada lembaga sekolah kalau soal UN saja itu ada dari Bimbel. Kasihan mereka siswa-siswi sekolah 3 tahun hanya ditentukan oleh waktu hanya 3 hari sangat tidak manusiawi. 

Web ini dikelola oleh admin. Anton Mabruri adalah seorang Filmmaker, Broadcaster, Penulis, Designer Grafis, Motivator, Teacher, dan Manusia Biasa. Ia hanya ingin MEMPERBAIKI INDONESIA.

0 komentar:

Post a Comment

Start Work With Me

Contact Us
Mahapatih Anton
+62 8571 55 33 0 88
Kota Depok, Jawa Barat