Monday, 24 June 2013

RASA PERCAYA
Kita sering kecewa karena tidak adanya sinergi. Padahal, begitu banyak
hal yang harus dibenahi dan tantangan untuk memperbaiki kinerja terus
digaungkan sebagai urgensi. Tidak jarang kita melihat pejabat atau
orang-orang penting di satu perusahaan menolak untuk bicara lebih
dalam mengenai konflik yang terjadi. Padahal, di sisi lain, mereka
bisa dengan santainya makan siang bersama-sama. Keterbukaan yang
digembar-gemborkan para atasan sebagai “my door is open” kerap berupa
slogan saja, namun tidak serius dijalankan. Ketika atasan menyadari
bahwa ide-ide, protes-protes, bahkan kekecewaan tidak “mengalir” ke
mereka, para atasan ini tidak berusaha memperbaiki situasi. Bila
keterbukaan tidak tumbuh di dalam tim dan antar individu, jangan heran
bila kemudian yang tumbuh adalah atmosfir sindir menyindir, salah
menyalahkan, kelelahan, ‘loneliness’, apatis, bahkan hilangnya
inisiatif. Padahal, kita sangat menyadari, bahwa perbaikan prosedur
dan proses bisnis tercanggih di dunia pun tidak bisa lancar tanpa
adanya ‘rasa percaya’ antar tim  yang berakar secara mendalam pada
masing-masing individu

Dunia kita makin kompleks, di mana tim dituntut bersinergi dalam
rangka globalisasi dan desentralisasi. Di dunia kerja, makin maraknya
‘outsourcing’ dan posisi pada setiap fungsi organisasi yang kerap
berjauhan menjadikan setiap manajer ditantang untuk memimpin tim dari
jarak jauh. Alat-alat monitoring, komunikasi secara cyber, dan segala
macam elektronik tetap tidak bisa menggantikan hubungan tatap muka,
sehingga kita menyadari kemungkinan tidak terkuaknya masalah, adanya
kesalahan, salah pengertian dan tercampur aduknya masalah yang
ujung-ujungnya tidak gampang untuk mengurainya kembali. Di satu pihak
ada atasan yang mengatakan, “Jangan terlalu percaya pada anak buah.
Anda harus turun tangan dan melakukan inspeksi sendiri”. Namun
sebaliknya, kita sangat menyadari bahwa ‘rasa percaya’ harus kita
tumbuhkan bila ingin mengembangkan tim virtual begini.

Begitu pentingnya rasa percaya, sehingga berbagai disiplin ilmu, baik
para neuroeconomist,  behavioral economists dan para psikolog sosial
mempelajari berbagai teknik dan cara untuk mempelajari tumbuhnya rasa
percaya. Namun, kita bisa menemui individu yang walaupun  sangat
berniat untuk mengembangkan rasa percaya ini, tetap tidak mudah
mempercayai orang disekitarnya. Bisa saja ia tidak percaya pada
‘fairness’ dan keterbukaan atasannya sendiri, maupun tidak mempercayai
apa yang dilaporkan anak buahnya. Bila saja separuh karyawan di sebuah
organisasi mempunyai perasaan yang sama, bisa dibayangkan betapa tidak
nyamannya atmosifr kerja di lingkungan tersebut.


To Trust is Human


Pada mahluk lain, rasa percaya itu beroperasi secara intuitif, namun
manusia mengembangkan rasa percara sebagai fungsi otak. Segera setelah
dilahirkan, bayi sudah bisa membaca mimik pengasuh atau ibunya, bahkan
sudah memalingkan muka ke arah suara yang dikeluarkan ibunya. Seorang
psikolog sosial mengatakan: “We’re born to be engaged and to engage
others, which is what trust is largely about.” Meskipun para ahli juga
menemukan bahwa ada zat tertentu yang secara rutin di produksi
kelenjar tubuh kita yang berfungsi menghubungkan kondisi emosional
dengan hubungan sosial yang positif, yaitu oksitosin, para ahli tetap
berkeyakinan bahwa rasa percaya memang tumbuh secara rasional.


Hal lain yang perlu kita pahami juga adalah dari sebuah penelitian
terhadap sejumlah mahasiswa, didapatkan bahwa, manusia mempunyai
kecenderungan untuk menganggap bahwa penilaiannya benar. Dengan
demikian, setiap individu cenderung tidak mengkonfirmasi ulang
penilaiannya. Selain itu, manusia juga sering didominasi oleh ilusi
semacam unrealistic optimism di mana keyakinan bahwa semua hal yang
baik-baik akan terjadi pada dirinya. Hal ini kadang menghambat pikiran
kita untuk melakukan cek dan ricek terhadap penilaian yang kita buat.
Disadari atau tidak, kita memang sering mempunyai kecenderungan yang
menetap. Apakah terlalu curiga atau sebaliknya terlalu percaya.
Tantangan kita adalah secara sadar menjaga, mengevaluasi dan menuntut
penilaian kita untuk mengolah, bekerja keras dan tidak mengambang.


Kirimkan Sinyal


Pada tahun 1980-an, ketika komputer masih dianggap barang mahal,
Hewlett Packard membuat kebijakan, bahwa karyawannya diijinkan membawa
pulang laptopnya masing masing untuk bekerja di rumah. Pesannya jelas.
Perusahaan percaya pada karyawannya. Signal ini langsung mewarnai
kayakinan karyawan akan perusahaannya dan seketika berdampak pula pada
keyakinan karyawan pada anggota tim lain, seperti atasan dan teman
kerjanya.


Rasa percaya memang beresiko. Bila kita melancarkan kritik, kita malah
bisa ‘dipukul balik”. Bila kita menyampaikan “brutal facts”, tak
jarang malah bernasib: “messenger get killed”. Curhat pada teman yang
salah bisa berakibat gosip beredar. Namun untuk maju, kita tidak punya
pilihan kecuali menumbuhkan rasa percaya pada rekan, atasan,
perusahaan dan juga negara. Sikap menghindar dan menjauhi orang yang
tidak kita percaya, hanya akan berakibat turunnya kinerja tim dan
ketidaknyamanan situasi kerja. John F. Kennedy pernah membuktikan
bahwa mengembangkan sikap saling percaya berhasil menumbuhkan
kolaborasi positif. Dalam pidatonya di sebuah universitas di Amerika
pada tahun 1963, ia mengemukakan tentang sifat baik orang Rusia dan
betapa ia ingin bekerja sama dengan pemerintah Rusia dibidang
persenjataaan nuklir. Pernyataan ini membuat Nikita Khrushchev
terkesan dan akhirnya membuka hubungan diplomatik. Dari sini kita
belajar bahwa pesan dan sinyal bahwa kita bisa dipercaya dan bisa
mempercayai orang lain perlu dilakukan secara sengaja dan juga penuh
kesadaran sehingga pihak lain pun sadar bahwa kita tidak ‘main-main”
ingin membangun rasa percaya.


Dimuat di KOMPAS, 12 November 2011

oleh: Eileen Rachman & Sylvina Savitri
Sumber :
EXPERD CONSULTANT
Adding value to business results
Kemang 89 Building, 3rd - 4th Floor
Jl. Kemang Raya No. 89, Jakarta 12730
Telp. 021-718 0805
Fax.  021-718 3101

Web ini dikelola oleh admin. Anton Mabruri adalah seorang Filmmaker, Broadcaster, Penulis, Designer Grafis, Motivator, Teacher, dan Manusia Biasa. Ia hanya ingin MEMPERBAIKI INDONESIA.

0 komentar:

Post a Comment

Start Work With Me

Contact Us
Mahapatih Anton
+62 8571 55 33 0 88
Kota Depok, Jawa Barat