Friday, 17 April 2015

Krisis Pemikiran - Tidak Punya Tokoh Panutan
Pernah di suatu kelas perkuliahan.. saya bertanya siapa yang hoby membaca? tidak banyak mereka mengacungkan tangan hanya beberapa orang. Lantas saya tak padam semangat, karena dalam hati bergumam "alhamdulillah,,, anak-anak muda ini masih suka membaca...". Saya sudahi rasa ingin tahu kepada mereka dengan pertanyaan, apa yang kamu baca? Dan hanya segelintir orang yang menjawab bahwa ia suka membaca buku... yang lain hanya membaca media sosial, tagline berita, dan berita mencekam adrenalin mereka mau untuk membacanya.

Sejak lama misi para kaum penjajah berhasil menggiring generasi muda Indonesia larut dalam mengejar mimpi dan angan-angan. Sejak lama pula kita merdeka dari penjajahan yang bersifat fisik, namun apakah negeri ini telah lepas dari penjajahan ideologi. Tidak, kita masih dalam bayang-bayang orang Eropa, China, Jepang dan Korea. Kita ini negeri konsumen yang empuk bagi mereka. Orang di negeri kita lebih suka menikmati hasil jadi, dari pada bersusah payah membuat dulu baru menikmatinya. Kita lebih suka instan dari pada berproses dulu kemudian baru menikmati.

Dekadensi terbesar dari negeri ini ada pada cara pandang anak-anak muda yang nyaris tidak memiliki idola akan tokoh pemikir, jangankan tokoh pemikir tokoh panutan lokal saja mereka absurd. Meskipun pandangan ini tidak semuanya, namun sebagian besar generasi muda zaman ini telah diracuni oleh apa yang dinamakan "mengejar mimpi..", serba instan dan serba cepat. Mereka tidak mengenal tokoh-tokoh pergerakan kanan atau pun kiri. Mereka hanya mengenal simbol, tapi tidak meresapi ajaran para tokoh tersebut, yang telah berhasil mengubah tatanan sebuah bangsa. Akibatnya pergerakan yang muncul cenderung keras, apalagi bagi mereka yang berpaham ekstrim "kamu beda maka kami bantai..".

Saya sedang memikirkan bagaimana menyembuhkan dekadensi moral ini, generasi zaman ini tak suka baca dan tak suka menonton film yang bagus [film sarat makna dan filosofi]. Mereka hanya menyukai film-film hiburan yang penuh dengan mistik, gelamor, dan banalitas. Bagaimana mengubahnya? sementara media sudah bergeser mengarah pada dagangan dan nilai "WOW", bukan lagi pada nilai & kualitas berita yang sesungguhnya.

Kuliah hari ini hanya sebuah gengsi semata, mengejar gelar, dan ajang mengejar jabatan bagi mereka yang melanjutkan perkuliahan. Menjadi artis pun hanya memamerkan aurat-aurat tubuh dan hanya mengumbar budaya hura-hura, tidak memberi contoh menjadi manusia yang benar-benar manusia. Zaman ini, harta, wanita dan tahta adalah segalanya. Akhirnya mereka hidup bagai tong kosong nyaring bunyinya... NATO (No Action Talk Only).

Di suatu kesempatan lain saya hanya berfikir di belahan negeri lain mungkin dan bisa jadi tak seperti di negeri kita INDONESIA.

Salam Indonesia 

Web ini dikelola oleh admin. Anton Mabruri adalah seorang Filmmaker, Broadcaster, Penulis, Designer Grafis, Motivator, Teacher, dan Manusia Biasa. Ia hanya ingin MEMPERBAIKI INDONESIA.

0 komentar:

Post a Comment

Start Work With Me

Contact Us
Mahapatih Anton
+62 8571 55 33 0 88
Kota Depok, Jawa Barat