Manusia itu Congkak (Pada Dasarnya)

Pernahkah kita mengalami hal seperti ini?

Dulu kita pernah punya teman, tetangga, dan kerabat. Pada satu kondisi, orang yang dulu kita kenal itu hidup serba terbatas kita bahkan kadang cenderung mengejek kehidupannya, dengan cibiran dan nyinyiran yang kita lakukan. Sehingga kita pun sudah lupa apa yang telah kita lakukan dulu. Waktu terus berjalan dan Tuhan yang Maha Adil menjalankan skenario-Nya sesuai keinginan Tuhan. Kondisi mulai berbalik orang yang dulu kita cibir kita caci, hari ini telah mencapai sukses lebih dari kita. Hingga pada satu kondisi dia jauh lebih dari apa yang kita lihat, semua orang pun mengenalnya tanpa melihat latar belakangnya dahulu. Hari ini kita hanya bisa bengong melihat kesuksesan yang ia raih. Anehnya lagi, kita kadang-kadang mulai mengakui bahwa dulu dia adalah teman saya, dia adalah sahabat saya, dia adalah tetangga saya, dan dia adalah kerabat saya. Sejumlah pengakuan mulai kita akui hanya karena jalan kesuksesan teman, sahabat, kerabat atau tetangga kita telah tercapai.

Manusia dengan kecongkakannya terkadang tidak mampu menghargai keberadaan seseorang saat dalam kondisi susuh payah, padahal keberadaan orang tersebut kita kenal. Kita ini akan cenderung mengakui kesuksesan "orang yang dulu kita cibir" dari orang lain. Kemudian kita berusaha ramai-ramai mengakui bahwa si Anu dulu adalah tetangga dan atau teman kita.

Betapa congkaknya manusia itu, betapa sombongnya kita ini. Karena sejatinya manusia itu inginnya disanjung-sanjung dalam kondisi apa pun dalam keadaan apa pun.

Apakah kita sudah bisa menerima keadaan kita yang sesungguhnya? Kelemahan kita adalah kita tidak bisa mengakui kita yang sebenarnya. 
Previous
Next Post »

supported by