Friday, 10 April 2015

Senda Gurau 3
Ilustration - sumber: ultralinx
Tahun 2003, tiga tahun setelah kedatangan ku di Jakarta. Saat itu tinggal di rumah kost, seiring waktu berjalan banyak teman dan sahabat yang kuliah waktu itu suka berkunjung ke kost-an. Singkat cerita di suatu malam jarum jam menunjukan pukul 12:00, dari luar pintu utama di lantai dasar terdengar seseorang mamanggil nama ku. Aku pun kemudian meyakinkan melihat dari balkon dan betul itu adalah kawan kuliah ku, dia bersama dengan kekasih tercintanya (baca: pacar) ia menemui ku malam itu. "Bro Nikahkan gue dong sama pacar gue ini.." begitu kalimat yang muncul dari kawan ku ini. Aku hanya diam, namun ia terus memaksa lalu aku bertanya kepadanya apakah ia tahu bahwa syarat dan rukun nikah dia menjawabnya dengan sempurna rukun nikah itu adalah : 1. kedua mempelai, 2. wali, 3. akad nikah, 4. saksi, dan 5.emas kawin. Ia menjawab sempurna sayangnya yang ia maksud itu keliru utamanya di wali, dia bilang bahwa wali kan bisa diwakilkan. Ini adalah akibat belajar ngaji lewat internet bukan lagi bermuwajahah dengan guru atau ustadz. 

Bahkan di kampung kita sudah jarang kita melihat anak-anak diusia SD itu berbondong-bondong mendekap Al qur'an di dadanya untuk kemudian dibuka Al qur'an tersebut di rumah atau di surau yang diasuh oleh guru ngaji atau ustadz. Kegiatan semacam itu hampir setiap sore menjelang Maghrib hingga usai menjelang Isya atau bahakan hingga waktu Isya itu tiba. Di wilayah-wilayah jawa kegiatan semacam itu sudah asing, tidak dengan di Sumatera khususnya Sumatera Barat. Belum lama saya berkunjung di sana saya merasa menemui saya di tahun 1989 di tanah jawa, sekarang semua sudah berubah surau dan rumah-rumah ustadz tempat mengaji sepi. Anak-anak usia SD di tanah jawa lebih suka menghadap TV dan menikmati sajian televisi.

Pelan-pelan semua sirna, hingga pada suatu ketika mereka yang dulu masih kanak-kanak dan kini menjelang dewasa dan yang sudah remaja menemui satu masalah baik masalah pribadi atau masalah yang bersifat maslahah seperti bertanya hukum akan sesuatu yang ia kerjakan. Apakah ia bertanya pada tempat-tempat yang sebenarnya seperti kepada ustadz atau kyai yang mumpuni tentu hal itu tidaklah mungkin lagi dilakukan, mereka cukup buka google dan bertanya pada google "hukum nikah..." apa yang ditemui dalam jawaban itu tentu macam-macam dan komplek.

***
merintik hujan di pagi hari. kabut setebal asap obong menyelimuti hawa suntuk di jajaran kampung deret itu. sudut nan jauh orang-orang menyemut berkemul dengan sarung dan kain, "aku beli sepincuk bi..." sosok cungkring telanjang dada menelusup diantara kaki-kaki itu. aroma nasi bubur dan macam-macam jajanan pagi itu rame bercampur kabut pagi. seperti baru sejenak aku meninggalkan dikau dikampung nun jauh.
***kota kecil - sewu lintang*****

*****

Bagaimana pun Nusantara ini harus tetap damai aman tentram, apakah kita hari ini membayangkan bagaimana negeri di timur tengah di kebiri oleh hingar bingar nafsu menguasi dan merasa paling benar. 72 firqoh (cabang) islam terpecah menurut kabar yang disampaikan Nabi s.a.w dan kita mengetahui semua itu. Akhir jaman... akhir jaman... sekelompok orang merasa paling benar mengkafirkan yang sudah islam dan mengajak "gelut" kalau tidak sepaham. Baru bisa menukil satu ayat sudah bicara hukum yang haram, halal, mubah, makruh dan lain sebagainya. 

Web ini dikelola oleh admin. Anton Mabruri adalah seorang Filmmaker, Broadcaster, Penulis, Designer Grafis, Motivator, Teacher, dan Manusia Biasa. Ia hanya ingin MEMPERBAIKI INDONESIA.

0 komentar:

Post a Comment

Start Work With Me

Contact Us
Mahapatih Anton
+62 8571 55 33 0 88
Kota Depok, Jawa Barat