Belajar Memahami Qur'an, Baru Bicara Negara Islam..

Akeh kang apal Qur’an Haditse (banyak yang hapal Qur’an dan Haditsnya)
Seneng ngafirke marang liyane (senang mengkafirkan kepada orang lain)
Kafire dewe dak digatekke (kafirnya sendiri tak dihiraukan)
Yen isih kotor ati akale (jika masih kotor hati dan akalnya)
........
Syair Tanpa Waton oleh GusDur

Awal tahun 2002 kepergian ku ke Jakarta adalah ingin studi, bukan untuk mencari agama baru. Hari itu, seorang dengan baju rapi dan klimis menanyai ku suatu alamat dan ia menginginkan agar aku pun bersedia mengantarkannya, hari itu juga aku mengantarkannya. Akhirnya kami saling berbincang, yang intinya adalah ia mengajak ku untuk ikut serta dalam suatu kajian Al Qur'an di suatu lokasi, tapi secara singkat aku menolaknya. Malam hari, ia tiba-tiba menelpon ku meminta tolong besok pagi untuk mengantarkan dia ke saudaranya di daerah yang tak jauh dari kediaman Pamanku. Tanpa rasa curiga ku pun menerimanya, hingga esok harinya kami bertemu di tempat yang sama, tempat awal kami bertemu.

Sesampainya di rumah kontrakan yang kami maksud, aku ditinggal olehnya aku hanya bertemu dengan sahabatnya yang dengan tiba-tiba berbicara Syariat Islam dan Negara Islam. Tanpa ada celah panjang aku pun disuruh membaca satu penggalan ayat, ketika membaca tiba-tiba dihentikan "tak usah dibaca ayatnya yang penting artinya saja" pinta orang yang tak ku kenal siapa dia. Aku tak terima atas perlakuannya hingga aku pun bertanya balik "tahu hukumnya orang belajar tajwid engga?", "ah... sudah, yang penting baca artinya saja" kata orang tersebut dengan sedikit ngeyel. Sejurus dengan itu aku menjelaskan bahwa belajar ilmu tajwid itu hukumnya fardlu 'ain (wajib bagi setiap muslim) hingga aku pun meminta balik dia untuk membacanya. Akhirnya dia mau membacanya, apa yang terjadi masyaAlloh bacaannya sangat buruk terbata-bata bahkan seperti mengeja huruf arab (seperti murid-murid ku yang berumur 5 tahun dulu yang ngaji di kampung) dan tak tepat pengucapan makhorijil hurufnya (tempat keluarnya huruf).

Namun ia tetap memaksa aku untuk hanya membaca artinya saja, aku pun kembali mendebat bagaimana mungkin Anda mau mendirikan syariat islam di negara ini tapi Anda sendiri keliru dalam menterjemahkan dan belajar Al Qur'an. "Ada ilmu elatnya mas" sergahku. Ada ilmu alatnya maksudku, saat itu aku hanya menyebut 4 (empat) yaitu: Ilmu Asbab al-Nuzul, Ilmu Qira'at, Ilmu Tajwid, dan Ilmu Gharib al-Qur'an.

Keempat ilmu tersebutlah yang sudah aku pelajari selama di Madrasah padahal sejatinya ada 17 ilmu elat untuk memahami isi kandungan Al Qur'an antara lain:

1. Ilmu Mawathin al-Nuzul.
Yaitu ilmu yang menerangkan tempat-tempat turunnya ayat, masanya, awal dan akhirnya. Kitab yang membahas ilmu ini banyak. (Diantaranya ialah al-Itqan, tulisan al-Suyuthi)

2.Ilmu Tawarikh al-Nuzul.
Yaitu ilmu yang menerangkan dan menjelaskan masa turun ayat dan tertib turunnya, satu demi satu, dari awal turun hingga akhirnya, dan tertib turun surat dengan sempurna.

3.Ilmu Asbab al-Nuzul.
Yaitu ilmu yang menerangkan sebab-sebab turun ayat. (Diantara kitab yang menjelaskan hal ini ialah Lubab al-Nazul karangan al-Suyuthi)

4.Ilmu Qira'at.
Yaitu ilmu yang menerangkan rupa-rupa Qira'at (bacaan al-Qur'an yang diterima dari Rasulullah SAW). (Seindah-indah kitab untuk mempelajari ilmu ini ialah kitabal-Nasyr Fi Qira'at al-Asyr, tulisan Ibnu Jazary)

5.Ilmu Tajwid.
Ilmu yang menerangkan cara membaca al-Qur'an, tempat mulai dan pemberhentianny­a,dan lain-lain yang berhubungan dengan itu.

6.Ilmu Gharib al-Qur'an.
Ilmu yang menerangkan makna kata-kata yang ganjil yang tidak terdapat dalam kitab-kitab biasa, atau tidak terdapat dalam percakapan sehari-hari. Ilmu ini menerangkan makna kata-kata yang halus, tinggi, dan pelik.

Bila diibaratkan Qur'an dan Hadits itu laksana gabah (padi) yang belum digiling menjadi beras, nah.. siapa yang memproses menjadi beras? Beliaulah para Ulama dengan tingkat kehususan ilmunya bukan ulama awam apalagi ulama jadi-jadian.

7.Ilmu I'rabil Qur'an.
Ilmu yang menerangkan baris al-Qur'an dan kedudukan lafal dalam ta'bir(susunan kalimat). Di antara kitab yang memenuhi kebutuhan dalam membahas ilmu ini ialah Imla al-Rahman, karangan Abdul Baqa al-Ukbary.

8.Ilmu Wujuh wa al-Nazhair.
Yaitu ilmu yang menerangkan kata-kata al-Qur'an yang banyak arti;menerangkan makna yang dimaksud pada satu-satu tempat. (Ilmu ini dapat mempelajari dalam kitab Mu'tarak al Aqran, karangan al-Suyuthi)

9.Ilmu Ma'rifat al-Muhkam wa al-Mutasyabih.
Ilmu yang menyatakan ayat-ayat yang dipandang muhkam dan ayat-ayat yang dianggap mutasyabih. (Salah satu kitab mengenai illmu ini ialah al-Manzhumah al-Sakhawiyah, susunan Imam al-Sakhawy)

10.Ilmu Al-Nasikh wa Al-Mansukh.
Yaitu ilmu yang menerangkan ayat-ayat yang dianggap mansukh olehsebagian mufassir. (Untuk mempelajari ilmu ini dapat dibaca kitab al-Nasikh waal-Mansukh, susunan Abu Ja'far al-Nahhas dan al-Itqan karangan al-Suyuthi)

11.Ilmu Bada'i Al-Qur'an.
Ilmu yang membahas keindahan-keind­ahan Al-Qur'an. Ilmu ini menerangkan kesusasteraan Al-Qur'an, kepelikan-kepel­ikan dan ketinggian-keti­nggian balaghah-nya. (Untuk ini dapat juga dibaca kitab al-Itqan karangan al-Suyuthi)

12.Ilmu I'dazAal-Qur'an.
Yaitu ilmu yang menerangkan kekuatan susunan tutur al- Qur'an, sehingga ia dipandang sebagai mukjizat, dapat melemahkan segala ahli bahasa Arab. (Kitab yang memenuhi keperluan ini ialah I’jaz al-Qur'an, karangan al-Baqillany)

13.Ilmu Tanasub Ayat al-Qur'an.
Ilmu yang menerangkan persesuaian antara suatu ayat dengan ayat sebelumdan sesudahnya. (Kitab yang memaparkan ilmu ini ialah, Nazhmu al-Durar karangan Ibrahim al-Riqa'iy)

14.Ilmu Aqsam al-Qur'an.
Yaitu ilmu yang menerangkan arti dan maksud-maksud sumpah Tuhan atau sumpah-sumpah lainnya yang terdapat di dalam al-Qur'an.

15.Ilmu Amtsal al-Qur'an.
Ilmu yang menerangkan segala perumpamaan yang ada dalamal-Qur'an.(Kitab yang dapat dipelajari untuk ilmu ini antara lain Amtsalal-Qur'an karangan al-Mawardi)

16.Ilmu Jidal Al-Qur'an.
Ilmu untuk mengetahui rupa-rupa debat yang dihadapkan Al- Qur'an kepada kaum musyrikin dan lain-lain. Ayat-ayat yang mengandung masalah ini.(Dikumpulkan oleh Najamuddin al- Thusy)

17. Ilmu Adab al-Tilawah al-Qur'an.
Yaitu ilmu yang mempelajari segala bentuk aturan yang harus dipakai dan dilaksanakan di dalam membaca al-Qur'an. Segala kesusilaan, kesopanan dan ketentuan yang harus dijaga ketika membaca al-Qur'an. Salah satu kitab yang amat baik.

Mari renungkan kembali, belajar kembali dengan ilmu elat yang ada. Artinya kita jangan mudah mengkafirkan orang lain, kalau memahami isi dan makna kandungan Al Qur'an saja tak mengerti. Hidup di kota besar seperti Jakarta ini banyak aliran dan paham yang aneh-aneh bahkan ada mengatakan kalau hukum syariat itu hanya bersumber pada Al Qur'an dan Hadits saja. Itu benar, tapi bila diibaratkan Qur'an dan Hadits itu laksana gabah (padi) yang belum digiling menjadi beras, nah.. siapa yang memproses menjadi beras? Beliaulah para Ulama dengan tingkat kekhususan ilmunya bukan ulama awam apalagi ulama jadi-jadian.

Usai ku menjelaskan hal di atas, uniknya mereka akhirnya mengundang dan mendatangkan ustadz paling khusus (ustadz terpintar) menurut mereka, hanya untuk melayani dasar debat dengan ku soal syariat yang telah lama ku pelajari. Apalagi Guruku Ustadzinal kiroom Kyai Waryono [KH. Amin Baedowi] (alm.) yang berguru langsung ke K.H Dimyati Rois Kendal Kaliwungu sering mengajari ku berbagai jenis tafsir dan kitab kuning. Tahun 90-an sampai 2000-an adalah tahun di mana pengetahuan agamaku masih hangat-hangatnya, itu karena setiap hari dulu ketika di kampung selalu bergelut dengan kitab kuning baik milik abahku atau guruku.

Tak seberapa lama, dengan perintah yang sama aku diminta untuk membaca penggalan ayat yang sama persis dan dengan hal yang sama pula aku dihentikan, ia meminta baca terjemahannya. "Oh ndak, aku harus baca ayat ini sampai selesai" sergahku, ia pun menatapi dengan tajam dan agak kesal. Aku pun selesai membaca ayat-ayat yang ia minta, aku penasaran dan aku pun meminta balik yang katanya "Ustadz" itu untuk membaca penggalan ayat tersebut. Oh MasyaAlloh aku menemukan hal yang sama. Tajwid, Ghorib, dan Makharijil huruf berantakan... aku segera bergegas dan mengatakan: "lakum dinukum waliyadin (urusan agamamu agamamu, urusan agamaku agamaku...)" ini islam apa? pengin bikin Negara Islam tapi ko manual book-nya sendiri belum dipahami. Akhirnya aku pun kesal dan bersegera pergi meninggalkan mereka. Rupanya pembujukan mereka kepada ku untuk masuk paham "Mendirikan Negara Islam dengan Syariat Islam" mereka tak berhasil.

Kisah ini aku alami dan ku tuturkan sebelum hari ini orang ramai bicara isu-isu paham islam yang ekstrim. Meskipun benihnya memang sudah ada sejak era kemerdekaan RI. Surut dan kini lebih ramai lagi bahkan lebih ekstrim.

Salam semoga bermanfaat "sebaik-baik kamu adalah belajar Al Qur'an dan mengamalkannya..."

Wallahua'lam ...

10 Ramadhan 1434 H

Previous
Next Post »

supported by