JELAGA-JELAGA JIWA 2

Terkadang rasa sedih yang ada jiwa mencuat keluar mengusik tatanan hati yang tenang, sepertinya malam akan mengungkap setiap memoar jiwa-jiwa yang luka. “Siapa yang salah ?” Jiwa ini kembali mengusik pertanyaan yang harus aku jawab sendiri, siapa yang salah tak ada yang salah, kesalahan adalah ketika kita mencoba memaksakan apa yang kita inginkan kepada orang lain. Mereka sebenarnya adalah korban dari setiap doktrin peradaban yang berjalan mengikuti zaman, kemudian muncul anggapan bahwa zaman terbagi menjadi dua persepsi yakni kuno dan modern. Zaman kuno adalah zaman di mana manusia akan dianggap kolot dan konvensional ketika cara-cara, gaya hidup dan tingkah laku yang kita lakukan masih itu-itu saja atau tidak mengikuti perkembangan zaman. Seseorang tak akan pernah mendapat legitimasi gaul ketika cara dan gaya hidup yang mereka lakukan tidak memakai dandanan yang norak, pakai rok mini, pakai tang top, pakai baju ketat yang menonjolkan lekuk tubuh yang aduhai, itu untuk wanitanya. Berbeda dengan pria legitimasi gaul adalah ketika di setiap sudut telinganya berlubang terpasang anting, hidung bertindik, seluruh tubuh bertato dan mengkonsumsi segala jenis NARKOBA. Ada persepsi yang keliru dari anak gaul di kota itu, sadar atau tidak budaya semacam itu adalah milik orang-orang kapitalis ibranis yang jenuh dengan aktifitas keseharian yang hanya kerja dan kerja tak mengenal hari libur, sehingga kadang cara pelampisan yang mereka lakukan adalah dengan free doing untuk sedikit melepas beban hidup yang terpikul.

“Cah bagus, sedang apa kamu di sini,” seorang kakek tua datang menghampririku, fikiranku kembali terpecah oleh usikan kakek tua itu. “Cah bagus…, kamu itu masih muda jangan banyak melamun dan menghayal nanti kamu seperti kakek yang hidupnya hanya lontang-lantung apa kamu mau ha…?”. Aku hanya tersenyum, kakek tua yang berjenggot panjang, baju yang lusuh dan dengan bau yang amat tidak enak duduk di sampingku, rupanya tak hanya fikiranku yang terusik tapi hidungku pun terusik oleh aroma tidak sedap dari tubuh kakek tua itu.
“Kakek mau minum ?,” aku coba tawarkan minuman yang aku pegang dengan menahan aroma yang tidak sedap itu, kakek itu menolak
“Ndak usah…, kakek sudah bawa minum sendiri”.
“Cah bagus…, kamu tahu ndak ini adalah tempat kakek hidup dan berteduh, ya..kira-kira sudah hampir seperempat abad lebih kakek menempati tempat yang kamu duduki itu” Sembari membuka lipatan kardus kakek melanjutkan dialognya bersama aku. Aku sedikit terkejut karena bagaimana mungkin kakek setua ini dapat hidup bertahan selama dua puluh lima tahun lebih.
“Hidup itu yang penting ngabdi, ndak usah neko-neko”
“Maksud kakek ?”
Aku belum mengerti makna apa yang tersirat dari kata-kata kakek tua itu, sejenak aku meninggalkan daya fakir yang sedang ku lakukan sebagai tanda pemeberontakan zaman. “Cah bagus…cah bagus…ngabdi itu ya ndak usah neko-neko”.
Kakek tua itu benar bahwa inilah kata kunci yang selama ini terpendam bahwa ketika manusia sudah mulai terusik dengan keinginan-keinginan maka saat itu pula rasa neko-neko itu muncul akibatnya rasa ngabdi atau mencintai kepada Sang Pencipta mulai terabaikan.
“Cah bagus…kakek telah menjalani kehidupan yang cukup lama di dunia ini, sudah tujuh puluh tahun lebih usia kakek sekarang, usiamu berapa ?”
“Dua puluh enam tahun kek”
“Wah…wah…wah..kamu masih sangat muda, cari ilmu sebanyak-banyaknya kamu ndak usah dulu mikirin keadaan negerimu sekarang, negeri ini letak kesalahannya pada orang-orangnya yang goblok dan tolol seperti kakek”.

Sebuah pertanyaan kembali mengusik di jiwa ini, mungkin ada benarnya juga apa kata kakek tua itu, tapi apakah aku mampu mewujudkan apa yang sedang aku fikirkan yakni untuk melanjutkan sekolah lagi saat ini saja tugas akhir yang sedang aku kerjakan sedikit menglami kesulitan. Sebagai seorang mahasiswa Broadcasting harus butuh banyak kreatifitas dalam membuat karya, tapi sayang dosenku memaksa untuk mengerjakan tugas akhir sesuai perintah.

“Cah bagus…ndak usah sedih, hidup ini ada yang mengatur serahkan saja semuanya kepada yang mengatur hidup, makanya hidup itu ya ngabdi”
Sambil melinting rokok, kakek melanjutkan nasihatnya, maklum sebagai orang tua harus sering berbagi nasihat kepada yang lebih muda agar yang muda pun mempelajarinya sebagai hikmah hidup yang tersirat.

Para begundal datang mengusik kakek dan keberadaanku yang sedang duduk menikmati malam yang semakin beku.
“Hai jompo..! mana jatah mu untuk aku, sudah tiga hari ini kamu tidak setor jatah ke aku”
Seorang pemuda gondrong bertato menanyai kakek dengan nada yang kaku dan keras, aku sedikit tersenyum aku berfikir aku sendiri gondrong tapi aku tidaklah sejahat mereka.
“Hai kek..! ini cucumu ya?, ajari dia sopan santun”

.... bersambung...

JELAGA-JELAGA JIWA 3
Previous
Next Post »

supported by