JELAGA-JELAGA JIWA 3

Kepalaku, ku tundukkan sembari menyembunyikan senyum geli, mataku hanya aku lirikkan sedikit untuk mengetahui seperti apa wajah anak muda yang membentak-bentak kakek. Aku tersenyum karena memang pemuda itu GH (gila hormat) seperti para guru yang selalu marah-marah ketika anak muridnya tidak menyapa atau minimal tersenyum, padahal belum tentu para anak murid tidak memberikan senyum dan sapa karena sombong atau gensi, mereka tidak senyum dan sapa karena mereka takut atau kalau tidak mereka benci dengan cara-cara yang guru GH (gila hormat) tersebut lakukan. Bukankah senyum adalah diberikan dengan tulus ikhlas, bukankah senyum pula yang kadang membuat orang terkesima apalagi jika tersenyum kepada lawan jenis dan bukankah kesalahan diri pula yang kadang membuat orang lain enggan untuk tersenyum inilah yang lebih penting. Kadang seorang guru pun tega memberi nilai yang pas ketika anak muridnya tidak melakukan perintah yang ia suruh, sekali lagi kesalahan bukan pada murid akan tetapi kesalahan itu terletak pada diri sendiri, jadi koreksi diri ‘kan lebih baik dari pada harus jadi orang GH (gila hormat). Kesalahan semacam ini pulalah yang membuat lima tahun lalu aku bekerja di salah satu restoran makanan terkenal di Jakarta membuat aku muak dan benci, tapi sungguh aku tidak membenci apa pun kecuali watak yang melekat. Sang manajer itu GH alias gila hormat dan ingin selalu dihormati sedang dia sendiri tak bisa mengahargai setiap karyawannya, jadi bukan salah karyawan andai seorang atasan berbuat ceroboh seenaknya sendiri atau tak menghormati dan menghargai atasannya.

“Sopan santun..?” hatiku bergumam, rupanya pemuda itu menyuruhku untuk berlaku sopan di hadapannya, jiwaku kembali terusik oleh kata-kata tersebut. Harusnya dia sendiri yang wajib berbuat sopan terhadap orang tua seperti kakek.
“Hai..! kamu mau jadi jagoan di sini,” pemuda itu menanyaiku dengan nada keras, wajahku yang menunduk disengal oleh tangan pemuda itu, aku terjengkang jatuh, aku hanya diam karena aku memang bukan bermaksud untuk membuat keonaran di negeri yang sudah onar, di negeri antah berantah yang lucu, jadi apalah untungnya membuat api dalam kerangkeng api. Pemuda itu pun akhirnya pergi setelah meminta jatah dari kekek.
“Kakek pernah mencoba melawannya, tapi percuma karena akan membuat suasana tidak nyaman di negeri ini.”

Aku hanya terdiam aku merasa jiwa empati di hati ini kembali mencuat memilu “Mengapa keadaan seperti ini harus tercipta di negeri yang  memang sudah kalap, tak adakah Tuhan mengiba manusia-manusia lemah dan menghukum manusia-manusia keji”. Kakek yang sudah tak dapat menahan rasa kantuk dan lelahnya meminta izin untuk istirahat tidur di samping tempat aku duduk. Sejenak aku mulai tergoda oleh keindahan malam, di kejauhan langit hitam itu bintang-gemintang memberi isyarat bahwa malam telah larut. Aku kembali mengawasi pojok kota itu untuk mendapat sedikit gambaran dari KNPI Party, rupanya suasana semakin hening tak ada suara cekikikan wanita-wanita jalang dan pria-pria hidung belang. Keheningan yang menelusup dalam rangkaian kegelisahan jiwaku ini menerawang jauh, andai saja keadaan yang ada tak segera berubah mungkin peradaban budaya milik kita sendiri akan hilang tertelan oleh keegoisan doktrin yang buta. Dan sungguh wanita adalah rahasia Illahi yang Tuhan turunkan, wanita adalah simbol kebijakan ibu bagi para lelaki yang membutuhkan kasih dan sayang layaknya sang ibu yang mencintai anaknya. Air yang ada dibotol itu kembali aku minum aku habiskan aku butuh suplai oksigen apalagi begadang di sudut kota hingga larut malam, rasa kantuk itu mulai mengusikku tapi aku coba lawan dengan bermain bersama akal yang sedang menari-nari mencari makna hidup dalam kehidupan di kota Jakarta ini.

... bersambung ....

JELAGA-JELAGA JIWA 4
Previous
Next Post »

supported by