Arti Kupat dan Lepet

Lebaran bagi masyarakat PANTURA selalu identik dengan kata-kata ini mudik, kupat, dan lepet. Mudik berasal dari kata mulih disik (balik ndisit) dan padu padan kata yang tepat adalah hilir mudik lalu bagaimana dengan dua makanan khas lebaran KUPAT dan LEPET meskipun jenis makanan lain sebenarnya juga ada. Apakah ada yang tahu apa makna kata kupat dan lepet?

Kupat sejenis makanan berbahan dasar beras yang terbungkus daun janur berbentuk kubus. Yang menurut wikipedia demikian "Ketupat atau kupat adalah hidangan khas Asia Tenggara maritim berbahan dasar beras yang dibungkus dengan pembungkus terbuat dari anyaman daun kelapa (janur) yang masih muda. Ketupat paling banyak ditemui pada saat perayaan Lebaran, ketika umat Islam merayakan berakhirnya bulan puasa (wikipedia)". Kalau menurut KBBI "Kupat atau ketupat adalah makanan, dibuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman pucuk daun kelapa, berbentuk kantong segi empat dan sebagainya, kemudian direbus, dimakan sebagai pengganti nasi;". Kita sudah bisa membayangkan bukan? Ya itulah kupat.

Makna KUPAT 
Kupat atau ketupat mempunyai makna yang agung luar biasa, penciptaan nama tersebut oleh Kanjeng Sunan Kali Jaga. Artinya penamaan itu tidaklah sembarangan atau asal memberi nama. KUPAT artinya ngaKU lePAT (ngaku salah), maka tidak salah makanan khas ini muncul dan identik dengan Hari Raya Idul Fitri sebuah hari di mana umat manusia seantoro jagat saling melepas maaf dan saling mengaku kesalahan yang telah diperbuat antar sesama. Di dalam surat Ali Imron ayat 133 ini rupanya makna KUPAT itu berasal, yang artinya demikian :

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa" (Q.S Ali Imron : 133)

Bersegeralah kamu mengakui kesalahanmu - ngaku lepat - (ampunan) baik hubungan secara vertikal (dengan Tuhanmu) maupaun hubungan secara horizontal (dengan sesama manusia) semata-mata agar kamu nanti bisa mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, sebagai imbalan karena kamu telah berbuat taqwa, salah satu cirinya taqwa adalah berbuat berani mengakui kesalahan diri.

Untuk mengakui kesalahan biasanya ditandai dengan sungkeman. Di mana sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain, khususnya orang tua.

Sumber lain memaknai kupat itu Lelaku Papat, Lelaku papat artinya empat tindakan dalam perayaan Lebaran.
Empat tindakan tersebut adalah:
1. Lebaran.
2. Luberan.
3. Leburan.
4. Laburan.

Lebaran
Lebaran bermakna usai, menandakan berakhirnya waktu puasa. Berasal dari kata lebar yang artinya pintu ampunan telah terbuka lebar.

Luberan
Bermakna meluber atau melimpah. Sebagai simbol ajaran bersedekah untuk kaum miskin.
Pengeluaran zakat fitrah menjelang lebaran pun selain menjadi ritual yang wajib dilakukan umat Islam, juga menjadi wujud kepedulian kepada sesama manusia.

Leburan
Maknanya adalah habis dan melebur.
Maksudnya pada momen lebaran, dosa dan kesalahan kita akan melebur habis karena setiap umat Islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.

Laburan
Berasal dari kata labur atau kapur.
Kapur adalah zat yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding. Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batin satu sama lain.

Bagaimana sudah tahu kan makna kata KUPAT? Lalu bagaimana dari sisi bentuk kenapa kupat itu berbentuk segi empat seperti kubus. Segi empat dalam pemkanaan ajaran islam itu identik dengan Ka'bah yakni kiblat umat islam sedunia. Segi empat, jika kita amati lebih seksama bentuk kupat menggantung seperti jantung manusia yang memiliki 4 arah mata penjuru angin, bermakna kemana pun kita melangkah kita selalu ingat Gusti Alloh sebagai simbol eling lan waspodo. Keberadaan manusia sesungguhnya bisa mengimplementasikan makna dari kupat pada saat Hari Raya Idul Fitri.

Makna LEPET
Lepet (bahasa jawa) dan Leupeut (bahasa sunda) ditinjau dari maknanya adalah makanan berbahan dasar beras ketan yang dibungkus dengan janur berbentuk lonjong terikat oleh tali. Sedangkan menurut wikipedia "Lepet (Jawa) atau Leupeut (Sunda) adalah sejenis penganan dari beras ketan yang dicampur kacang, dan dimasak dalam santan, kemudian dibungkus daun janur. Penganan ini lazim ditemukan dalam lingkungan Masakan Jawa dan Sunda di pulau Jawa, Indonesia, dan populer disantap sebagai kudapan (wikipedia)". Sayangnya saya mencari kata lepet di Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak menemukan, hanya tertulis Lepet itu sama dengan Lepat.

LEPET maknanya adalah disiLEP sing raPET (disembunyikan yang rapat), setelah kita mengakui kesalahan selanjutnya kita wajib menyimpan semua kesalahan, dendam amarah dan dari sifat penakut serta berjanji untuk tidak mengulanginya (disilep sing rapet : lepet). Kata Lepet sama seperti kupat diciptakan oleh Kanjeng Sunan Kali Jaga, nah sumbernya itu dari lanjutan surat Ali Imron lanjutan ayatnya yakni ayat 134 yang artinya demikian :

"(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan" (Q.S. Ali Imron : 134)

Adalah orang-orang yang sebelumnya telah mengeluarkan zakat fitrah dan infaq shodaqoh baik dalam keadaan susah atau pun senang karena itu merupakan hari istimewa untuk memenangkan hawa nafsu, dan orang-orang yang sebelumnya telah mengakui kesalahannya (ngaku lepat) untuk kemudian ia juga telah mampu menahan amarahnya dan menyimpan dendamnya (disilep sing rapet) terhadap orang lain. Tentu Gusti Alloh menyempurnakan amal mu dengan rasa cintaNya dan tetap menjaga mu dalam kebajikan.

Dari bentuk Lepet kenapa harus lonjong dan terikat disetiapnya. Berbentuk lonjong terikat sepintas seperti mayat yang terbungkus kain kafan, manusia katika mati dia hanya akan terbujur terbungkus dan terikat seperti Lepet. Pada saat kita telah mengakui kesalahan (ngaku lepat) maka kita harus menyimpan kesalahan itu sebagai masa lalu dan tidak perlu diulang kembali (disilep sing rapet). Kuburlah kesalahan kita layaknya mayat yang akan dikebumikan di alam barzakh. Tidak akan bicara dan tidak akan mengumpat. Sudahlah itu masa lalu.

Rasanya tak lengkap bila Hari Raya Idul Fitri kita tak kita rayakan dengan menyantap KUPAT dan LEPET. Agar kita benar-benar menjadi manusia seutuhnya, dan menjadi manusia yang lahir seperti anak manusia yang baru lahir. Bukankah itu yang kita dambakan selama puasa.

Wallhu'alam bishowab

Untuk Kyai ku (Alm) Ustadz Al Kiroom Waryono Al Fatihah..
Previous
Next Post »

supported by