Sunday, 24 July 2016

Problematik Dunia TV Kita
Tulisan ini sebenarnya sudah lama saya buat, sebagai bahan kajian dunia penyiaran dan sekaligus menyadarkan masyarakat mengenai budaya televisi kita. Ada beberapa hal yang mengubah budaya televisi kita hari ini, utamanya adalah siaran televisi swasta. Di mana sebagian diantara mereka ketika menayangkan siarannya tidak lagi mengindahkan nilai-nilai budaya bangsa negeri ini. Karena hampir semua siaran televisi berisi 2 katagori tayangan yakni: menjual mimpi dan bersifat kekerasan. Katagori menjual mimpi adalah hal-hal yang berbau manipulatif dan impulsif. Bagaimana tidak pada saat kita menonton sinetron yang selalu muncul adalah sebuah sajian kemewahan yang tidak bisa dijangkau penontonnya. Atau pada saat kita menonton lomba ajang kemampuan bakat, yang ada adalah eksploitasi besar-besaran si talent. Semua bisa bermimpi di depan televisi akan sesuatu yang tidak nyata. Tayangan atau konten kekerasan biasanya berisi siaran berita kriminal, pornografi, pelecehan fisik dan lain sebagainya baik bersifat psikologi maupun langsung berhubungan dengan fisik itu sendiri.

Padahal Pemerintah melalui kaki tangannya yakni KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) "tidak mampu" mengendalikan siaran televisi yang ada. Mengapa saya katakan "tidak mampu", mari sejenak kita pantau bersama. KPI ini berdiri sejak tahun 2002 bersamaan dengan dirsemikannya UU No. 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran. Sejak berdiri hingga kini masih terus berkutat pada pengendalian melalui teguran konten beberapa stasiun televisi yang ada. Lalu apakah sampai pada tindakan nyata semisal menghentikan siaran acara televisi secara permanen, hari ini saya belum melihat KPI melakukan itu. Padahal sementara masyarakat di luar sana sudah sangat geram dan gelisah.

Maka pilihannya adalah matikan televisi mu atau biarkan televisi mu. Hari-hari sepanjang waktu, televisi adalah media siar yang secara pelan-pelan telah memasuki ruang-ruang pribadi yang lebih intim. Apa indikator semua itu, televisi hari ini bisa ditonton melalui layar ukuran kecil 4 inch bahkan konon ada yang lebih kecil. Televisi juga sekarang sudah bisa dimasukkan ke dalam saku baju dan celana kita, hingga kapan dan di mana pun kita bisa menontonnya secara privasi dan intim. Televisi sekarang sudah ada digenggaman kita sepanjang hari sepanjang waktu.

TV di Smartphone
Melaui teknologi mutakhir zaman ini menonton tv sudah tidak berjarak, karena televisi sudah masuk di smart phone. Dan kita dapat memilah dan memilih sesuka hati program siaran (konten siaran) yang kita inginkan. Jika sudah demikian maka yang mampu menyelia konten adalah pribadi masing-masing bukan lembaga yang selama ini sudah ada. Semisal KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) belum berperan maksimal karena terbatas oleh regulasi yang memang belum tuntas.

Dan hari ini ketika semua bangun dari tidur kita sudah disuguhi tayangan-tayangan media televisi yang sangat beragam. Namun yang perlu kita sadari adalah kita harus mencoba memfilter (menyeleksi) tayangan tersebut dengan teliti agar apa yang kita lihat tidak menjadi racun bagi keluarga kita. Rasa-rasanya tayangan televisi kita ini bejibun ketidakpastian, bersemburat memenuhi ruang-ruang keluarga.

Rasanya makin lengkap Indonesia ini, seluruh konten program televisi kita hari demi hari tergerus oleh arus budaya luar yang menyajikan konten lebih menggiurkan dan terasa renyah.

oleh
Anton Mabruri KN

Web ini dikelola oleh admin. Anton Mabruri adalah seorang Filmmaker, Broadcaster, Penulis, Designer Grafis, Motivator, Teacher, dan Manusia Biasa. Ia hanya ingin MEMPERBAIKI INDONESIA.

0 komentar:

Post a Comment

Start Work With Me

Contact Us
Mahapatih Anton
+62 8571 55 33 0 88
Kota Depok, Jawa Barat