Keangkuhan Makhluk Yang Bernama Manusia

Uh... hari-hari ini terasa lelah, menyelinap dalam pikiran hati dan akhirnya menyeruak dalam tubuh. Apa kabar Indonesia ku? Apa kabar penghuni tanah Nusantara? Apa kabar makhluk yang bernama manusia? Sudahkah hidup kita bermanfaat untuk orang lain? Sudahkah kita melakukan kerja nyata menghasilkan karya mengubah lingkungan sekitar kita, dan mengubah cara dunia melihat kita? Sudahkah... sudahkah... hai iya kamu, para pelajar, para mahasiswa, para pekerja, para guru, para doktor, para profesor mencerahi makhluk yang bernama manusia.

Apakah iya.. pusaran "energi nista" membuat kita berbuat melampaui batas-batas kemakhlukan, hingga kita telah berbuat sombong memaki mencerca manusia lain dengan kalimat "kamu golongan munfikun.. kamu golongan kafir". Pernahkah kita sejenak berpikir bahwa Tuhan ciptakan makhluk bermacam-macam dan berpasangan, pernahkah kita sejenak diam dan berpikir bumi ini diciptakan dengan jenis-jenis makhluk yang juga tidak sama ada kaya ada miskin, ada hitam ada putih, ada yang beragama dan tidak beragama. Lalu apakah Tuhan lantas memutus jatah hidup dan jatah rizki untuk mereka semua yang kamu anggap kafir, miskin, kaya, munafik, dan lain seabreg su'udzon mu pada makhuk lain? Kamu.. iya kamu.. makhluk yang bernama manusia, kenapa kelakuanmu melebihi Tuhan, memeberi vonis "antum kafir.. antum munafik.. antum masuk neraka.." Apakah kamu... iya kamu tahu telah melampaui batas-batas hak prerogatif Tuhan bahkan mencoba menjadi Tuhan mengkavling-kavling surga dan neraka untuk sesama bernama manusia.

Ah tapi sudahlah.., bisa jadi cara beragama mu masih ABG (Anak Baru Gede) - semoga khusnudzon saya tidak salah - jika cara beragama mu masih seperti ABG, maka segala hal yang kamu ketahui seolah baru saja kamu mengerti, seolah baru tahu apa itu menjadi muslim sejati (baca: kaafah), dan mungkin masa-masa pubertas harus kamu lewati. Padahal menjadi muslim sejati justru adalah menjadi makhluk yang bisa memberi manfaat bagi semesta alam. Dan apakah kamu sudah melakukannya?

Ah tapi sudahlah..., Hari-hari ini terasa penat amat penat, bagaimana tidak energi hidup kita dihabiskan dengan hanya memenuhi hasrat keinginan diri sendiri tidak memikirkan dampak setelahnya. Dan bukan tidak mungkin hanya berkejaran memenuhi biarahi keduniaan seamata.

kura-kura begitu renungannya
Previous
Next Post »

supported by