Monday, 27 February 2017

PERANG UDARA
Apakah yang disebut "Perang Udara"?
Hari ini ketika televisi masuk ke dalam ruang-ruang keluarga dengan berbagai konten (acara tv) yang bervariasi, dan saya tidak menyebut itu buruk atau jelek. Namun pada kenyataanya media audio visual seperti televisi mampu mempengaruhi penonton dan menggiring pemirsanya untuk melakukan apa yang pernah mereka lihat, hingga mereka mampu apa yang disebut dengan proses meniru (plagiat). Proses meniru bukan hanya dilakukan oleh mereka anak-anak, tetapi orang dewasa pun meniru apa yang mereka lihat dan apa yang ia dengar. Stasiun tv saat ini bahkan hanya merebut rating tertinggi, bukan lagi merebut pemirsanya untuk menjadi peniru yang baik, "pokoknya ratingnya tinggi..." begitu kata pemilik televisi. Kejadian ini hanya terjadi di dunia televisi swasta nasional kita.

Hari-hari ini pula kita selalu melihat kegalaun luar biasa dari pemirsa televisi, bahkan cenderung bosan. Dari mulai program acara NEWS, NONDRAMA dan DRAMA semua menyajikan konten yang bisa dibilang provokatif. Ambil contoh konten NEWS (Berita), hari ini berita sudah masuk ranah industri karena bicaranya adalah meraih "rating tertinggi" bukan menginformasi atau mengedukasi. Banyak berita yang disajikan ke publik tetapi sangat sedikit yang memberikan nilai edukasi. Persaingan TV NEWS makin ketat dengan menyajikan informasi yang terbilang "WOW..." bukan mengandung nilai dan kualitas berita yang diutamakan.

Jadi “perang udara” adalah perang informasi yang dilakukan oleh berbagai media digital dan media elektronik melalui udara atau frequensi, jaringan internet, dan atau yang lainnya. Hari ini kita bisa saksikan berbagai konten new media dari berbagai belahan dunia entah itu bersifat mendidik, menghibur, dan menginformasikan semua berbaur satu dengan yang lainnya, mengisi ruang udara di langit. Jika perang darat jelas kelihatan jatuh korbannya, perang di laut pun demikian. Perang udara secara kasat mata tidak terlihat jatuh korbannya, namun sesungguhnya ini yang paling berbahaya.

"Perang Udara" Adalah sebutan yang tak lazim bagi dunia broadcasting (penyiaran), tetapi hari ini sudah terjadi. Kita hanya mengira bahwa perang itu hanya ada di darat dan di laut saja, tetapi apakah kita tahu sesungguhnya hari ini kita telah menghadapi satu kondisi yang amat payah dan bahkan lebih berbahaya. Yakni menghadapi perang udara. Di sana secara tidak langsung ideologi dengan berbagai macam kepentingan masuk melalui udara.

Adolf Hitler dan Seni Propaganda
Masih dalam ingatan sejarah dunia, di zaman masa PD II, dahulu Adolf Hitler mempropaganda rakyat Jerman dengan doktrinasi bahwa bangsa Jerman adalah bangsa terkuat dan keturunan dewa maka mereka menyebutnya dengan bangsa ARYA. Hitler mengecilkan peran bangsa lain yang menurut mereka bangsa-bangsa lain adalah budak manusia terlemah, hingga suku ARYA harus membunuh bangsa lain yang tidak sejalan atau tidak satu tujuan. Siaran radio diakui oleh Nazi sebagai salah satu alat propaganda yang paling penting. Pada tahun 1933, mereka Menteri Propaganda, Joseph Goebbels, menyebut radio sebagai ‘kekuatan besar kedelapan.’ Ia kemudian memulai skema di mana pemerintah Jerman memberikan subsidi bagi produksi radio dan mengadakan program “radio murah” yang disebut Volksempfanger [penerima rakyat] dengan jangkauan sebatas Jerman dan Austria. Suara-suara partai pun bergaung di setiap rumah. Pada awal perang, hampir seluruh bangsa telah jatuh di bawah mantra radio serta dibombardir dengan pidato dan berita yang dirancang untuk mencuci otak penduduk. Saat itu Hitler melakukan propaganda dengan media RADIO (mengandalkan audio) bukan TELEVISI (mengandalkan audio visual). Woro-woro Hitler juga menjadi salah satu penyebab pecahnya Perang Dunia II hingga dunia kacau balau dunia pada masa itu.

Adolf Hitler dan Partai Nazi adalah contoh salah satu rezim totaliter yang pernah ada di dunia ini. Kemudian timbul pertanyaan bagaimana mungkin sebuah bangsa di abad 20 secara politis bisa dikuasai oleh Nazi? Faktor utama penyebabnya adalah efektivitas Nazi sebagai kekuatan politik tidak hanya tegas dan kejam dalam menindas segala ketidakpuasan, tetapi Nazi juga benar-benar menguasai seni propaganda melalui media dan fabrikasi sebuah ideologi nasional. Di sini kita akan melihat beberapa teknik dan propaganda yang dijalankan Nazi secara efektif.

Di sisi yang lain mari kita telaah di televisi yang mengandalkan konten siaran dakwah, pun mengalami hal sama yakni "Perang ideologi". Dan ini yang sesunguhnya sangat berbahaya, ada beberapa stasiun televisi yang menyiarkan paham-paham kaku dan saklek akan nilai-nilai islam (paham intoleran) dengan konten siarannya setiap hari mengajak jihad...jihad dan jihad.. Stasiun TV lain dengan gaya khas islam nusantara, berkonsep santun dan menebar kedamaian juga mengisi ruang-ruang udara kita. Keduanya memiliki jamaah (baca: penonton) yang sama-sama fanatis, pada satu kondisi jika dua penonton ini bertemu maka yang terjadi adalah perang mulut dan berujung perang darat.

Perang Udara sudah dimulai.... bagaimana apakah aku,kamu, dia dan kita sudah siap. "Mari Belajar Broadcast tv dan radio dengan baik agar kamu tahu bagaimana membuat sebuah konten yang baik dan bermanfaat..."

Salam Broadcast

Anton Mabruri KN

Web ini dikelola oleh admin. Anton Mabruri adalah seorang Filmmaker, Broadcaster, Penulis, Designer Grafis, Motivator, Teacher, dan Manusia Biasa. Ia hanya ingin MEMPERBAIKI INDONESIA.

0 komentar:

Post a Comment

Start Work With Me

Contact Us
Mahapatih Anton
+62 8571 55 33 0 88
Kota Depok, Jawa Barat