ASUmsi yang Gagal

Ada ketakutan yang dalam sebenarnya di dalam hari-hari yang kita jalani. Yang terbayang oleh khayalan saya adalah, jika tiba-tiba Negeri ini berubah menjadi Afganista, Surinista, Iraqista, dan sejumlah nista yang lain yang sudah terbukti diporak porandakan oleh kebiadaban-kebiadaban PENIStaan (baca: nafsu belaka). Kejadian di sebagian besar ummat islam tentu menyakitkan bagi kita, mengingat sebagian besar penghuni Negeri kita adalah muslim. Selekasnya beruntun do’a, bergudang-gudang bantuan, berjuta-juta uang dan berbondong-bondong unjuk rasa yang kita ketengahkan sebagai bentuk persaudaraan yang kuat antar muslim. Apa itu semua salah? Bahkan dosa? Saya jawab dengan tegas itu tidak salah dan dosa. Bahkan pada waktu-waktu yang tepat unjuk rasa menjadi jalan yang sangat tepat.

Pusaran asumsi itu membuat kamu, iya kamu.. lupa mempersiapkan diri untuk menunjukan kamu adalah khairoh ummah. Yakni membangun pondasi akhlakmu dengan baik dan menguatkan pengetahuan mu soal-soal beribu dalil (ada 6666 ayat) dan berjuta hadits yang siap dikupas menjadi penemuan baru untuk kelangsungan umat manusia. Seperti yang telah dicapai pada masa kejayaan islam Andalusia-Spanyol, cermati kembali mereka bahkan hari-harinya tidak meributkan soal-soal unjuk rasa kekuatan manusia, tapi unjuk kekuatan intelektualitas penemuan. Jangan lupakan itu...

Atau tiba-tiba telinga ini serasa kencang berdengung ‘nguuuung’ mendengar kalimat-kalimat ini “Fitnah itu fitnah.., itu engga bener.. itu politik”, saat junjunganmu terhempas balada nafsu. Dan kejadian-kejadian di negeri nun jauh yang saya sebutkan terlupakan begitu saja. Kemudian kita membaladakan cerita-cerita mengenai hal lain semisal ini adalah konspirasi politik, intrik politik, dan lain-lain soal politik. Juga tidak salah, bila ASUmsi yang kamu bangun itu adalah dari dogma politik. Saya hanya ingin mengatakan “Suaramu tak sebesar anu-mu” atau ini “Yang besar itu belum tentu jantan”, ini ASUmsi saya setelah sejenak menyruput kopi khas Nusantara.

"Loh apa hubungannya Mbah, kopi dan anu?"
"Kamu engga tahu ya Cung?"
"Engga Mbah"
"Kalau kamu suka kopi, tak jamin anumu bahagia"
"Ah masa sih Mbah"
"Ngeyel kamu.., udah minum dulu kopi mu. Sudah tahu kopi lanang belum Cung?"

'Ngiiiiing'

Dan Negeri ini kembali sunyi, suara desis ‘ngiiing’ pun menggema di telinga ini. Seperti tidak ada apa-apa dan seperti suara false yang hanya bisa berkokok seperti ayam jantan (bukan jago) yang siap menggagahi si betina. Bisa benar bisa juga salah. Kan kamu semua yang menilai ASUmsi.

Mari diunjuk rasa kopinya... disambi singkong goreng khas Bogor.

begitulah kura-kura ASUmsinya... 
Previous
Next Post »

supported by