Bersembunyi Di Balik [Tafir] Agama

Mengitari dunia, keluar masuk dunia sekolah sebagai fase menuntut ilmu. Tak luput pula kita keluar masuk dunia kerja sebagai fase berkarya dan bekerja. Semua dengan alasan yang serentak sama, mencari posisi wuenak [baca: PeWe] alias posisi nyaman pada kehidupan yang kita jalani. Sementara di seberang di belahan dunia sana, ada pula yang keluar masuk bergerilya melawan ketidakadilan (perang angkat senjata) dengan suatu regime [baca: rezim] hanya untuk melewati masa kritis menuju masa posisi wuenak, itu katanya mereka.

Semua sudah berawal dan tentu hingga kini tiada akhir tidak rampung-rampung pertikaian mereka, sebut saja Afganistan (negeri kaya raya punya tambang emas dan gas alam terbesar di dunia), Suriah (mempunyai gas alam terbesar di dunia), Iraq (ladang minyak terbesar di dunia), dan sebanyak negara timur tengah lainnya. Pergerakan yang bergerak lancang melancungi dogma agama. Mengatasnamakan agama untuk membenarkan dirinya, standar ganda pun digandakan untuk menyembunyikan diri. Hingga sebanyak orang akan menganggap itu adalah kebenaran Ilahiah, padahal mereka hanya mengutip secomot demi secomot dalil naqli untuk meraih dukungan. Sampailah pada suatu ketika di Nusantara ini semua saling berhadapan kembali antar saudara. Persaudaraan dikoyak dengan atas nama kebenaran sejati, padahal itu tidak mutlak.

Keletihan dan tentu kehilangan energi itu yang diharapkan oleh mereka. Kamu.. iya kamu, bisa saja menilai dengan dua acuan yang berbeda, ada salah vs benar, ada baik vs buruk, dan tolok ukur lain sebagai bahan penilaian terhadap manusia lain. Termasuk saya menilai kamu pun dengan dua acuan. Tentu saya tidak menyimpulkan -pekerja seni audio visual- serampangan, itu bisa konyol untuk saya.

Ini semua dari apa?

Ada sebuah fase, dimana menyembunyikan kebenaran hakiki hanya untuk meluluhlantahkan kebenaran [baca: kemutlakan] yang lainnya. Dogma agama menjadi senjata utama membenarkan diri. Seperti Iblis yang enggan belajar dengan Adam. Dunia memang nikmat sementaranya, bagi kawanan Iblis dan pengikutnya.

“Cung kamu ini dikandani ngeyel
“Ngeyel gimana Mbah?”
“Kamu ini jangan gampang kafir-kafirin orang”
“Kan emang gitu Mbah, dia udah mbela orang non muslim, sholat ngga pernah, ngaji ngga pernah, nongkrongnya di terminal. Pantesnya aku bilang kafir..”
“Huss..., mencaci maki saudara sebangsa apa itu masih perlu. Masih penting, Cung?!”
“Ya pokoknya dia kafir...”
“Kamu ini emang tafir...”
“Ko si Mbah bilangin aku kafir..”
“Dasar tafir... kamu ini tafir Cung.. tafir..!”
“Aku ngga terima dibilangin kafir”
“Ya sana, sinau ngaji lagi... dasar tafir. Sok finter kamu ini”

Suguhan kopi menyudut di pinggan di atas meja, menggoda ku untuk segera menyeruputnya. Ahhhhh... nikmatnya kopi Flores. Mari sruput kopinya...

Previous
Next Post »

supported by