Guru yang Sesungguhnya

GURU - diGugu lan ditiRu (menjadi contoh dan panutan), sederhana bukan kalimat tersebut? Dalam ejawantahnya ini tidak mudah, egoisme kita harus hancur melebur bersama dengan kerelaan diri berbagi ilmu yang kita punya. Kita tidak bisa memiliki seutuhnya ilmu kita, ketika sudah dibagikan ke murid-murid kita. Ini teladan ing ngarso sung tuladha (di depan harus memberi contoh/teladan). Tak hanya berbagi, tingkah laku dan amaliyah kita pun di nilai bukan hanya oleh muridmu tapi oleh Tuhanmu.

Mendidik mereka para murid pun, bukan hanya di sekolah atau di ruang kelas saja, hingga persinggahan waktu sholat pun kita masih berkewajiban mendidik mereka yakni dengan do'a. Itu teladan tut wuri handayani (di belakang kita memberi dorongangan/dukungan).

Manifestasi persoalan yang muncul di tengah-tengah murid, kita juga harus bisa mereduksi dengan membangun semangat belajar (himmah dan roja' - harapan dan cita-cita tinggi). Ini teladan ing madya mangun karso (di tengah-tengah mereka kita harus membangun semangat).

Menjadi guru bukan hanya sekadar berpura-pura jadi guru, tetapi menjadi diri sendiri yang menanggalkan egoisme kita. Mengajarkan akhlak (attitude) itu mutlak diperlukan, sebab baik buruk seseorang ditentukan oleh bagaimana kita berbuat. Tapi soal rejeki (dapat kerja), mati, dan jodoh itu telah tertulis dalam qodho dan qodar-Nya.
Previous
Next Post »

supported by