Kuldesak (Jalan Akhir) Politik Brutal

Jalan panjang untuk menjadi nation (baca: bangsa/negara) ternyata butuh waktu 350 tahun lamanya plus 3,5 tahun. Menyamakan persepsi sebuah paham kebangsaan juga tidaklah mudah, pada saat yang sama hari ini, ketika paham kebangsaan kita coba kuatkan kembali. Sebagian menuduh ke yang lain dengan mencap liberal, sosialis, marxis, dan lain-lain. Stempel yang akan diberikan ke mereka yang dianggap tidak memahami dogma-dogma agama islam. Ah sejak kapan memvonis suatu kaum berdasarkan selera hati dan selara rasa, sejak kapan kamu ini mulai menjadi hakim bagi manusia lain. Sejak kapan itu?

Anggaplah kamu paling benar dalam menyatakan pendapat karena dalil-dalilmu yang berderet seperti semut rang-rang, sampai bergumuh-gumuh mulutmu bahkan berngotot-ngotot lehermu. Untuk berupaya bahwa ‘akulah yang paling benar’, dan akulah yang paling..paling.. tercecer jelas kalimat paling dan ter. Tapi sudahlah. Sekali lagi tulisan ini tidak ada hubungannya dengan orang yang sedang mendekam di penjara atau dengan orang yang sedang asik bertamsya ke Arab Saudi melepas penat, sementara pendukungnya masih berkulum-kulum jari telunjuk menunggu jatah.

Ini soal nation state (kebangsaan). Yakni sebuah tatanan Negeri Indonesia yang didasari oleh nilai-nilai Pancasila, kedaulatan NKRI, pondasi hukum UUD, dan tatanan sosial Bhineka Tunggal Ika. Bangsa mana pun iri dengan keberadaan Indonesia ini. Bahkan kita punya banyak cerita soal dulu negeri ini bagian dari benua Atlantis dengan ditemukannya teori peradaban Atlantis yang hilang adalah Indonesia, Nabi Adam dan Nuh itu dari Indonesia, Nabi Muhammad itu keturunan Jawa, Majapahit itu pernah menguasai 3/4 dunia, dan sejumlah hal lain. Padahal semua itu belum terbukti oleh fakta-fakta yang ada. Paling tidak teori itu mampu menina bobokan kita semua dalam kebanggan tersendiri.

Sisi lain. Nation state ini juga akan menghadapi ujian maha dahsyat di tahun 2019 nanti. Bisa jadi akan ada perang Bratayudha antara Kurawa dan Pandawa. Meraka akan terus mentradisikan vonis mereka dengan kata-kata kafir, munafik, syiah, asing, aseng, pki dan lain sebagainya. Ini sebenarnya akar dari intoleran.

“Mbah, enakan jamanmu apa jaman saiki Mbah”
“Enakan jaman ku cung”
“Masa sih Mbah?”
“Jaman ku mbiyen tidak ada yang boleh bersuara, kamu berorganisasi ngumpul-ngumpul tak grebeg tak bedili semua. Makane aman toh cung..”
“Iya ya Mbah, tapi tetap enakan jamanku Mbah”
“Kamu disuruh siapa cung ngomong gitu?”
“Engga Mbah... engga..., jaman saiki itu jamane Mbah Google... Piiiisss Mbah”

'krik...krik..krik....'

Kuldesak (jalan akhir) dari perjalanan nation state semua ini, sepertinya adalah penerapan POLITIK BRUTAL dengan menebar benci antar anak bangsa. Dan sebagai bumbu penyedapnya adalah agama, suku, ras, dan antar golongan diolah diracik dan dimasak biar sedap. Agar sesama kita saling membenci. Padahal jika semua terlewati. Teori Atlantis, teori Nabi Nuh, dan teori nina bobo yang lain akan terbantah semua. Kita akan tetap menjadi Nation.

Huftt... sudah ya, sudah cenat-cenut, kaki mulai kesemutan. Mending tak ngopi Toraja dulu ya Mbah..

Kura-kura begitulah. Pada jaman dahulu....
Previous
Next Post »

supported by