MANUSIA SUKSES, BERCERMIN DARI RUH PERJUANGAN NABI

Kenapa Muhammad bin Abdillah hari ini masih menjadi tokoh Manusia Agung bahkan teragung. Dari data mana pun bahwa manusia paling berpengaruh di bumi ini adalah Muhammad bin Abdillah. Ajaran apa yang sesungguhnya beliau sebarkan sehingga bekasnya masih membekas hingga kini. Adakah resep-resep (baca: jampi-jampi) ampuh yang Nabi berikan di muka bumi, hingga seluruh manusia mengakui keagungannya.

Sinambi menyeduh kopi, yuk disruput kopinya.

Beribu bait menceritakan Muhammad bin Abdillah tidak pernah tuntas dan selesai, terus menderas tiada henti. Apa karena Nabi memang utusan Allah swt sehingga Allah menjaga nama baiknya. Saya ingin katakan ke kamu iya kamu... Muhammad bin Abdillah adalah manusia seperti kita. Loh dari mana dalilnya, ini bunyi dalil lengkapnya dalam surat At Taubah : 128

“Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, pengasih dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah: 128)

Yang bila saya coba jabarkan akan terbagi menjadi bait-bait yang istimewa

Sungguh,
telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri,
berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami,

(dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu,

(dia) pengasih dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.

Srrrrtttt... ngupinya diombe, biar melek.

Bunyi ayat tersebut cukup jelas, sungguh telah datang seorang Rasul dari bangsamu (bangsa manusia) bukan bangsa jin, malaikat, atau makhluk astral. Tapi kaummu.

Ah, Nabi kan orang istimewa? 

Kamu ngeles.. Istimewa dari mananya, Muhammad bin Abdillah jika dibandingkan dengan Nabi-Nabi lain bukanlah siapa-siapa. Jauh dari dugaan, kebanyakan dari Nabi-nabi lain yang memilik mu’jizat dan nasab keturunan. Tengok saja Nabi Sulaiman bin Dawud adalah anak Raja. Nabi Musa yang memiliki tongkat ajaib dapat menjelma menjadi ular dan juga bisa membelah laut. Nabi Isa yang bisa membangkitkan orang yang sudah mati. Bahkan bukan seperti Nabi Yusuf yang gantengnya mampu membuat para perempuan tak sadar mengiris jemari mereka sendiri.

Muhammad bin Abdillah adalah seorang yang bersahaja, yang tidur beralaskan tikar kasar, mengganjal perutnya dengan batu karena menahan lapar. Muhammad yang pergi berperang dan pernah kalah. Nabi yatim piatu yang besar dalam asuhan kakek dan kemudian pamannya. Bahkan penduduk Mekkah pun keheranan bagaimana orang seperti itu kok bisa-bisanya mengklaim sebagai Nabi, padahal dia jualan (pedagang) di pasar dan makan sebagaimana orang lainnya. Sangat manusiawi bukan? Muhammad seperti juga lainnya mengalami penderitaan yang berat yang ia rasakan. Sama seperti kita pada umumnya.

Masa-masa perjuangan Muhammad bin Abdillah sesungguhnya menginginkan keimanan dan keselamatan bagi seluruh alam. Muhammad bin Abdillah bahkan terang benderang menjelaskan misinya, yaitu untuk menyempurnakan akhlak mulia. Kalimat yang dipilihnya pun sudah mengandung sebuah akhlak. Dia tidak mengatakan akhlak sebelumnya jelek dan hancur lebur atau awut-awutan, dia tidak mengatakan itu. Dia tidak hendak mengoreksi, apalagi mencaci dan menghakimi, seperti kebanyakan para da’i saat ini. Muhammad bin Abdillah datang untuk “menyempurnakan” akhlak yang “mulia”. Bahkan Qur’an pun menegaskan bahwa bukan tugas Muhammad bin Abdillah untuk memaksa semua orang menjadi Muslim. Tidak ada paksaan dalam beragama.

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat” (QS. Al-Ahzab: 21)

Lalu kamu, iya kamu... kenapa memaksa semua manusia untuk muslim, coba telaah kembali cara dakwahmu, cara mengajakmu, dan cara menuntunmu apakah sudah sesuai Muhammad bin Abdillah. Tidak pernah ada dan tak pernah Nabi lakukan memaksa suatu kaum/bangsa untuk ikut serta dengan beliau.

Kamu baru sadar ya, bahwa mengapa Muhammad bin Abdillah hingga kini masih menjadi manusia agung di seluruh jagad raya ini. Kuncinya ternyata ada dalam AKHLAK... AKHLAK... AKHLAK.. bukan pada kemarahan, bukan pada makian, bukan pada pekikan paling kuat, bukan pada kehebatan, bukan pada itu semua. Kunci dakwah (sukses hidup) Muhammad bin Abdillah adalah pada AKHLAK MULIA. Sebab “sesungguhnya aku (Muhammad bin Abdillah) diutus ke muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak” agar kamu... iya kamu semua dalam satu nafas keimanan dan keselamatan (baca: rahamatan lil ‘alamin).

Sekali lagi, dan AKHLAK pun menjadi kunci sukses untuk meraih masa depan. Ajaran universal AKHLAK mampu menembus dimensi bangsa dan waktu. Coba deh, apakah Muhammad itu lahir dari orang kaya raya? Atau Muhammad itu keturunan bangsawan? Atau sejumlah track records lain yang membekalinya berangkat dari sukses? Inilah ajaran demokratis, bahwa semua manusia sama di hadapan Tuhan, yang membedakan sukses tidaknya di mata Allah swt adalah Taqwa. Ini juga menjadi kuncian berikutnya bagi Muhammad bin Abdillah dalam menyebarkan islam dan menyelamatkan seluruh alam (sukses hidup dan kehidupan) yakni nilai-nilai persamaan di mata manusia, kecuali taqwa yang menjadi tolok ukur Tuhan kepada hambaNya.

Lantas kenapa kamu.. iya kamu, minder dalam menjalani hidup padahal sejarah Muhammad bin Abdillah bisa menjadi contoh kita semua dalam meraih sukses. Dan kuncinya adalah berakhlak mulia dan bertaqwa, bukan pada siapa keturunanmu, berapa banyak hartamu dan apa jabatanmu? Bukan itu. Maka jika kita pegang AKHLAK MULIA dan TAKWA hidup akan menjadi sukses.

Rasanya ingin meneguk kopi gayo wine ini walau hanya sesruuput.

Itulah sebabnya mengapa Muhammad bin Abdillah mampu menjadi tokoh panutan sepanjang zaman melintasi dimensi. Bagaimana dengan para Da’i yang bisanya hanya mencaci dan memarahi bahkan mendorong umat manusia untuk melabrak dan mengamuk. Pertanyakan kembali kepada mereka, siapa Nabi mereka? Siapa panutan mereka? Siapa Tuhan meraka? Jika memang Tuhan mereka Allah ya ikuti Nabinya, wong dalilnya jelas kok.

“Barangsiapa menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah.” (QS. An-Nisa’: 80) 

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)


Saya pun tidak paham, bagi mereka yang masih membid’ahkan maulid Nabi Muhammad saw. Padahal Allah dan para malaikatnya saja menumpahkan sholwat bagi Nabi Muhammad saw. Kita ini makhluk alit tidak ada apa-apanya di mata Tuhan, masih saja berlagak sok bener seolah-olah Tuhan pun ikuti kebenaranmu.

Hehhehe... yuk ngopi saja kalau masih suka dakwah tapi maksa-maksa.

Anton Mahapatih
Previous
Next Post »

supported by