ANDA SOPAN KAMI PUN SEGAN 2

Seorang tamu datang mengetuk pintu rumahku berkali-kali “woi permisi...!!” suaranya keras dan lantang, sementara aku masih menyibukkan diri dengan sejumlah pekerjaan. “Permisi...woi... permisi...!! ada orang enggak?!!” terus lantang dan sambil mengetuk-ngetuk keras pintu rumahku. Dalam hati bertanya itu siapa pagi-pagi sudah teriak-teriak lantang menggedor-gedor pintu rumahku. Untuk yang ketiga kalinya orang itu makin meninggikan suaranya “permisi woi... ada orang enggak?!!!”. Aku pun kesal dan segera membukakan pintu “shodaqohnya om...” selorohnya, tanpa menatapnya dan aku segera mengusirnya, kecuali hanya diam dan anggukan orang itu pun pergi ngeloyor begitu berlalu. “Wong aku aku saja ndak kenal dia kok.. mau bertamu ke rumahku teriak-teriak” gumam hatiku.

Aku hanyut dalam pekerjaan rumah, dan entah beberapa lama seorang tamu datang mengetuk pintu rumahku “permisi.. assalamu’alaikum..” nyaris tak terdengar suaranya. Hingga sampai tiga kali tamu itu beruluk salam dengan ketukan melembut di pintu rumahku. Aku terbelalak dan segera menemui tamu yang di luar sana. “Wa’alaikumussalaam... maaf ada apa ya?” Tanyaku kepada dia, seseorang yang sangat sederhana dan aku pun tak mengenalnya seperti tamu awal yang datang pertama. “Maaf, bolehkah saya meminta shodaqoh amal jariyah darimu Mas..” Pintanya kepadaku. Aku bersegera memasuki rumah dan mengambil uang recehan dan beras secukupnya untuk dia. Tamu itu pun berterima kasih dengan ucapan yang terus mendo’akan diriku.

Kamu tahu apa yang membedakan dari keduanya pada saat keduanya sama-sama mendatangi rumahku untuk meminta-minta. Adalah adab lebih utama, lebih dari hanya sekedar sopan santun atau anggah ungguh. Adab adalah akhlaq para Kekasih Tuhan yang Maha Merahmati. Bagaimana jika itu kamu lakukan pada saat kamu memohon do’a permintaan kepada Tuhan-mu dengan cara yang pertama mengetuk-ngetuk pintu dengan nafsumu dan berteriak-teriak memaksa agar Tuhan mau memberimu. Yang ada adalah Tuhan akan mengusirmu dan enggan mengabulkan do’a permintaanmu. Bandingkan dengan yang kedua, ia datang dengan kerendah hatian, kelembutan dan penuh dengan adab. Maka sang Tuan Rumah pemilik Rumah Jagat Raya ini akan dengan mudah memberikan apa yang kamu inginkan.

“Mbah.. si Mbah kok hidupnya gini amat sih Mbah”
“Maksud kamu apa Cung?”
“Si Mbah kok ndak kaya-kaya.. emang dulu kalau do’a sama Tuhan suka maksa ya”
“Husss... salah, aku kalau do’a sama Dia suka batuk-batuk... uhukkkk...uhukkk.uhukkk...”
“Oooo pantes dikiranya si Mbah ngeledek kali ya..”
“Hussss.. kamu ini tahu adab ndak sih, aku ini orang tua senior dari kamu. Walau begini si Mbah juga tahu diri.. ngerti kamu cung”
“Iya Mbah...”
“Jangan kayak si Mbah itu yang nongol di TV, minta-minta sama Tuhan tapi marah-marah” sambil ngeloyor si Mbah menutup bicaranya.

Baiknya aku lanjutkan pekerjaanku sambil nyeruput kopi luwak sumatera yang rasanya muantap.
Srrrrrrttttt enak...

“Nikmat mana lagi yang kamu dustai”

Previous
Next Post »

supported by