ANDA SOPAN KAMI PUN SEGAN

Di sudut warung kopi. Tetiba pesananku pun sampai, secangkir kopi dan sepiring singkong goreng. Aku melahapi singkong dan sesekali menyeruputi kopi kesukaanku. Ah tak dinyana pengamen itu datang tentu dengan berbagai macam gaya ia menyanyikan pun dengan berbagai macam alat musik ia bunyikan. Belumlah ia menyanyikan lagu baru tabuh-tabuhan alat musiknya mengalun dan aku pun langsung memberi receh untuknya, berharap ia lekas enyah dari tempatku mereguk kopi. Tak lama ia pun selekasnya pergi sambil berucap “terima kasih”. Alunan tabuhannya saja sudah caur..hehehe..

Seorang pengamen berikutnya pun datang, bermodalkan hanya guitar dan dengan harmonisasi mulai ia mainkan. Selekasnya ia pun menyanyi, kali ini aku tak lekas memberinya uang bahkan dalam hati berucap “ini pengamen suaranya enak banget... tak kasih banyak ah nanti”. Regukan-regukan kopi dan lezatnya singkong goreng menyatu bersama harmoni suara dan musik yang ia dendangkan hingga aku kepayang. Aku lupa hingga ia menegurnya "maaf Mas...", aku mengambil uang di saku tanpa melihat nominal ku berikan kepada dia.

Bagaimanapun kedua pengamen di atas adalah peminta-minta (penghamba) agar mereka dikasih uang atau imbalan lainnya. Boleh jadi permintaan kita kepada Tuhan seperti dendangan lagu para pengamen, siapa tahu Tuhan suka dengan suara dan irama jiwa kita maka Tuhan ingin mendengar lebih lama nyanyian (do’a permintaan) yang kita rengkuhkan kepadaNya, sampai pada akhirnya Tuhan memberimu lebih banyak dari yang kita minta. Atau boleh jadi nyanyian (do’a permintaan) mu terdengar parau dan sumbang alunan jiwamu tak karuan, kemudian Tuhan cepat-cepat memberimu agar kamu lekas pergi dan tak meminta lagi.

Apakah ngamenmu (do’a permintaanmu) sudah enak di dengar olehNya atau sebaliknya? Sesungguhnya Allah Maha Rahman dan Rahim, siapkan orkestra musikmu di malam-malam akhir ramadhan ini agar Tuhan mau mendengarkan nyanyian merdu kita dan Tuhan akan memberi lebih tak hanya recehan banyak dari yang kita minta. Amin..

“Cung jadi orang jangan ke-PD-an”
“Maksudnya Mbah?”
“Kamu sampai mengancam segala, kamu bilang Tuhan akan malu kalau ndak mengabulkan do’amu. Emang siapa lu Cung...”
“Iya Mbah, maaf..”
“Istighfar kamu, emang do’a itu yang mengabulkan kamu.. wong suara jiwamu saja jelek begitu kok minta do’amu dikabulkan”
“Iya.... Mbah,,, iya..., padahal kan yang ngancem-ngancem itu Pak A-”
“Jadi bukan kamu Cung...?”
"Bukan Mbah..."

Selekasnya aku mendendangkan
“DOA MENYIBAK KABUT DAN MENGEMBALIKAN KEDAMAIAN JIWA” [Prayer clears the mist and brings back peace to the soul] – Maulana Rumi.

Wallahua’lam...
Previous
Next Post »

supported by