DO’A PARA PENYINYIR.. AKU LUPA

Baru saja aku terbangun dari tidur nyenyak, bagaimana tidak aku dikejutkan suara rintihan orang dari balik ruang kumuh hanya beratapkan langit, beralaskan kardus. Sementara aku tak kalah kumuhnya hanya tidur beralas koran di depan kios di sudut terminal. Aku mengintip sambil mengembik agar tak terdengar olehnya, dari lubang kecil aku melihat bentangan sajadah dan persis di sisi sedepanya terdapat seseorang yang terdengar mendengkur, aku tak mau menduga ia suwami atau anaknya. Bukan kesakitan atau erangan yang aku dengar malam itu, aku mendengar seorang nenek tua tengah mendo’akan diri dan keselamatan keluarganya dan keselamatan muslimin wal mu’minat al ahya min hum wal amwat. Bercucur air mata menetes dari pipinya yang persis terpantul oleh cahaya bulan dari langit, “Ah ini seperti bintang di langit” hening hatiku. Seketika hatiku ikut kosong.

Tak lama aku pun melipiri jalan setapak menuju masjid yang letaknya memang tak jauh dari kios yang aku tumpangi. Meski telah gelap aku menyisir tempat wudlu yang letaknya berada di belakang masijd. “Subhanalloh..!!!” sontak aku terkejut, aku melihat mukena di dalam masjid itu berdiri. Rasa penasaran itu pun tak cukup sampai di situ, aku mencoba memastikan bahwa itu adalah manusia sama sepertiku. “Subhanalloh...”untuk kedua kalinya aku terkejut, sesosok Ibu separuh baya tengah sholat malam. Dan aku pun terhenti untuk tak mengganggunya apalagi hanya sekedar memercik air di tempat wudlu. Berisik tahu... hehehhe.

“Ya Alloh Ya Rabb.. ampuni hambamu ini, ampuni dosa-dosa kedua orang tua kami.. kasih sayangilah mereka sebagaimana ia menyayangiku seperti aku kecil. Ya Rabb Yang Maha Pengampun ampuni dosa-dosa muslimin wal muslimat baik yang masih hidup dan yang telah meninggal.....”. Lirih aku mendengar do’a dari Ibu itu sembari sesenggukan ia menangis meratapi diri, aku masih saja terbelalak membengongkan diri di bilik teras masjid. Kemudian ia pun tuntas, aku pun memberanikan diri masuk ke tempat wudlu dan mengambil air wudlu tanpa sepengetahuannya. Bukan untuk sholat malam, tapi hanya sholat isya. Sejak sore tadi aku ketiduran di teras kios yang kutumpangi.

Berfikir jauh apakah kamu mengaku muslim, mengaku mu’min mengaku beragama islam mengaku diri mencintai Nabi s.a.w? Dan segala predikat yang kamu sandang hingga kamu merasa paling islam di antara yang lain. Sampai kamu mengklaim bahwa yang tidak sepaham denganmu kamu anggap kafir, kamu anggap liberal, kamu anggap munafik, dan kamu anggap “akulah paling benar”. Kamu mengklaim bahwa semua karena Alloh s.w.t dan Nabi s.a.w, sehingga terbersit dalam dirimu ketika kamu marah maka seolah Alloh dan Nabimu ikut marah, ketika kamu mengolok-olok, menyinyir dan lain sebagainya seolah-olah Alloh s.w.t dan Nabimu mengikuti kamu, dan ketika kamu mengkafir-kafirkan saudaramu seolah Alloh juga ikut kamu.

Kamu lupa siapa yang memintakan do’a ampunan bagimus setiap waktu, itu siapa? Kamu lupa siapa yang meminta do’a keselamatan dunia dan akhirat setiap waktu, itu siapa? Kamu lupa siapa yang menjaga negeri ini dengan seksama dengan do'a setiap waktu, itu siapa?

Malam itu aku yakin banyak do’a orang-orang mulia seperti seorang tua renta di gubuknya dan seorang ibu di masjid atau manusia-manusia mulia lainnya. Dan itu jumlahnya ribuan untuk keselamatan dunia (negeri) dan akhirat kelak. Apa yang disombongkan dari kamu, aku dan dia? Tak ada.

Alloh s.w.t sangat mendengar do’a orang-orang teraniya, fakir miskin, orang sakit, orang berhaji, orang tua kepada anaknya, anak kepada orang tuanya, orang berpuasa, pemimpin yang adil. Hingga aku menyadari patutlah kita mestinya bersyukur untuk negeri yang damai, aman sentausa, dan warabun ghofur.

“Emang kamu merasa damai Cung?”
“Damai aja Mbah”
“Lah itu orang-orang yang suka marah-marah, cacimaki, nyinyir katanya negeri ini thoghut haram dan lain sebagainya..”
“Ah itu sih orang sakit Mbah..”
“Hussss.. emang kamu waras Cung?”
“Waraslah.... buktinya aku masih ingat ngopi sampai sekarang”

Kopi Lembang Cianjurku sudah dingin, ah... aku reguk ah... srrttttt... nikmatnya ☕😀

Previous
Next Post »

1 komentar:

Write komentar

supported by