DEWAN JURI YANG TERHORMAT

Pernah aku juga dihujat oleh seorang Bapak di suatu even ketika aku memberikan kesaksian bahwa anak dia yang ikut lomba mengaji juzz 'amma itu kalah. Penampilanku memang saat itu jauh lebih rapih (alim : kalau kata orang-orang mah) ketimbang sekarang. Sebagian ada yang tahu bahwa aku memang sedikit mengerti soal tata cara mengaji dari mulai makhorijul khuruf, tajwid sampai ghorib. Kemudian aku pun ditunjuk untuk menjadi juri, ditambah dua orang lagi yakni Pak Ustadz dan Bu Ustadzah terbentuklah dewan juri.

Peserta lomba tidaklah banyak saat itu hanya 15 anak berusia antara 8 – 11 tahun. Mereka melafalkan ayat demi ayat dan kami sebagai dewan juri menilai peserta lomba yang naik panggung dengan menggenggam mikrofon. Ada yang terbata-bata saat mengaji, ada yang lancar tapi kelihatan sekali dia hafalan sebab di tengah dia berhenti dan mengulangnya kembali, ada pula yang memang dia fasih dan bagus bacaannya, dan ada pula yang hanya gerogi akhirnya tak keluar satu ayat pun yang ia baca kecuali keringat dingin bercucuran (suasana mirip debat pilkadal deh.. hehhee.)

Klasifikasi dan kriteria juga telah ditentukan oleh dewan juri. Kami hanya melaksanakan penilaian akhir, pada waktunya kami memutuskan siapa yang menang dan siapa yang tidak menang. Terpilihlah sang kandidat yang menang, tak lama seorang bapak menyambangiku dan dia mencaci maki aku dengan segala perkataan yang buruk. Terakhir katanya “Juri goblok.. juri kok aneh.. masa anak saya kalah.. anak saya ini hebat, kata orang-orang dia ini kalau ikut lomba pasti menang.. juri tolol luh... kam***t.. ce***g.. ban***t.. (sensor, ndak boleh KPI-Komisi Penyensor Indonesia)” Segala umpatan pun terucap dari dia. Sementara aku hanya diam.

“Pak... kalau anak Bapak kalah dalam lomba harusnya introspeksi diri Pak. Bukan menyalahkan dewan juri” Kata Ustadzah yang menjadi bagian dari dewan juri. “Apa mau saya perlihatkan rekaman dan hasil penjurian kami” Lanjut Pak Ustadz.

Sayangnya bapak itu terus mengumpat kepada kami, dia menendang-nendang kursi, meja dan lain-lain di sekelilingnya hingga gaduh. Orang pun memperhatikan kepada dia.

“Hei Pak !!! kalau kalah jangan ngamuk dong Pak...” teriak seorang Ibu gembul kepada Bapak itu.

Suasana pun kembali tenang setenang negeri ini di bawah naungan MERAH PUTIH dan NKRI harga mati, halah ngomong apa sih ini. Mending ngopi sik ya...

Srrtttt... enak banget kopi luwak ini.
Previous
Next Post »

supported by