Wednesday, 21 November 2018

Lupa Tuhan
Siang hari terik, Kuncung dan Si Mbah yang tengah sibuk mengurusi sawah begitu semangatnya. Sadar sudah sejam lebih rantang makanan yang dikirim dari rumah belum jua datang. Sementara Kuncung menepi ngiub di gubug, tak demikian dengan Si Mbah tetap bersemangat menyiangi rumput yang menggurita di tanaman cabenya.
“Cung... kamu sudah laper ya?!”
“Iya Mbah.. kenapa makanan belum juga datang”
Tak berfikir lama Si Mbah menghentikan pekerjaannya dan ia pun langsung ngeloyor begitu saja.
“Loh... Si Mbah mau kemana?”
“Ambil makanan.., kamu di sini saja..!”

Si Mbah menyisiri jalan menuju rumah, berjalan kaki walau sudah renta soal jalan cepat Si Mbah masih nomor wahid, dan semestinya hanya berkisar 10 menit Si Mbah telah sampai di rumah. Cerita berkisah lain, persis di persimpangan jalan Si Mbah melihat wanita tua buta hendak menyeberang, Nenek Tua itu sesekali mengucek mata dan mengusap keringat yang bercucur di wajahnya. Bergegas lamban Si Mbah meraih tangan wanita tua buta itu.
“Mari saya bantu..”
“Terima kasih...”
“Mau kemana Nek..?”
“Aku lapar belum makan seharian”
Si Mbah pun memapahnya menuju pada kerindangan pohon trembesi yang persis di pinggir jalan raya. Kecuali hanya suara bising dan deru mesin kendaraan yang lalu lalang melintasi jalan itu.
“Tunggu sebentar kamu di sini, saya ambil makanan dulu”

Baru saja hendak berlalu, Kuncung melihat Si Mbah tengah menuntun seorang Nenek Tua, Kuncung datang berlari menyusul Si Mbah.
“Ohww walah Si Mbah ini ngapain? Kok malah berduaan sama Nenek Tua itu”
Si Mbah pun terburu meninggalkan Nenek Tua itu di bawah pohon.
“Mbah...! Mbah...!” Kuncung meneriaki lantang ke arah Si Mbah, ia pun lantas berhenti dan menatapi tajam Kuncung.
“Ada apa Cung... kamu sudah kelaperan?”
“Iyalah... tak kira Si Mbah sudah balik membawa makanan, aku sudah laper benget nih Mbah”
Si Mbah hanya tersenyum, sementara Kuncung masih saja menggerutu kepada Si Mbah.

“Mbah.., ngapain di sini?” Dari arah balik Kuncung, Jamilah datang menghampiri mereka yang belum beranjak dari kerindangan pohon trembesi dan juga seorang Nenek Tua.
“Eh Jamilah... kaget aku, deg..degan nih... hehehe” Kuncung tersipu malu
“Udah laper ya?” Jamilah sedikit meledek Kuncung
“Eee...endak kok.. Cuma haus”
“Mana rantangnya? Kamu bawa berapa rantang?” Si Mbah menanyai Jamilah
“Tiga Mbah, dua nasi satu isi lauk”
“Sini-sini... lauknya apa? Tanya Si Mbah terburu-buru.
“Ada ayam, ada ikan asin, ada terong, ada urab, dan ada sambal trasi pastinya”
“Bongkar..bongkar, ayam mana ayam..?!” Si Mbah begitu terburu-buru mengambil rantang yang masih ada di tangan Jamilah, seolah ingin merebut makanan itu.
“Biasa aja dong Mbah, kan aku yang laper.. kok Si Mbah yang rebut...”
“Husss.. diam kamu, itu lihat! Nenek itu belum makan seharian.. dia butuh makan”

Si Mbah membongkar rantangnya mengambil nasi dan mengambil ayamnya untuk segera diberikan kepada Nenek Tua yang kelaperan.
“Nek ini makan ya..”
Tangannya hanya meraba, tanpa tahu makanan apa yang sedang ada di hadapannya.

“Ah payah nih... masa ayamnya dikasihkan ke dia”
“Loh emang kenapa?” Tanya Jamilah
“Biarpun Si Mbah kasih makanan enak sekalipun toh dia ndak akan tahu kalau Si Mbah ini orang yang dermawan dan baik hati”
“Iya betul Cung, dia tidak akan tahu.. tapi Allah tahu” Jawab Si Mbah
Jamilah pun hanya tersenyum, sementara Kuncung keselek makanan usai mengolok Si Mbah.

“Belajarlah memberi yang terbaik sekalipun kepada orang yang tidak melihat kebaikanmu, tapi Tuhan itu Maha Tahu apa yang kamu persembahkan”
“Tuh dengerin Cung” sahut Jamilah
“Kopinya mana Mil” Tanya Si Mbah
“Ini kopinya Mbah, kopi Ijen asli kiriman teman dari Bondowoso”
“Mantab kopinya...” Kuncung pun sumringah, dengan sesekali terengah-engah makan dengan penuh lahap.

Cermin (Cerita Mini) by Mahapatih Anton

Web ini dikelola oleh admin. Anton Mabruri adalah seorang Filmmaker, Broadcaster, Penulis, Designer Grafis, Motivator, Teacher, dan Manusia Biasa. Ia hanya ingin MEMPERBAIKI INDONESIA.

0 komentar:

Post a Comment

Start Work With Me

Contact Us
Mahapatih Anton
+62 8571 55 33 0 88
Kota Depok, Jawa Barat