Wednesday, 14 November 2018

Negeri Serius Yang Lupa Serius
Sore itu si Mbah kedatangan tamu tiga orang laki-laki muda yang sedang gandrung pada cucunya Si Mbah yang cantik itu. Kuncung yang tengah berleyeh-leyeh di teras rumah Si Mbah langsung ngibrit ke sawah memanggil Si Mbah. Tak lama Si Mbah pun ngucluk pulang bersama Kuncung.
“Kalian ini siapa?” Kuncung dengan gagahnya menanyakan kepada tiga laki-laki terebut.
“Aku Darto...”
“Aku Parto..”
“Aku Narto..”
“Mau apa kalian?” tanya Si Mbah
“Ingin meminang cucumu Mbah..” bertiga serentak kompak seperti trio kwek-kwek

Raut muka Kuncung dan Si Mbah terkaget, sebab tak ada angin tak ada hujan laki-laki muda itu datang mendadak seperti petir yang menyambar begitu saja. Sejenak Si Mbah memasuki rumahnya untuk sekedar menaruh peralatan sawahnya, sambil memikirkan kira-kira hal apa yang akan dia berikan agar laki-laki muda itu tidak berantem berebut cucunya Si Mbah seperti negeri ini yang selalu serius menghadapi persoalan.

“Ehemmm... jadi kalian ini mau melamar cucuku si Jamilah”
“Iya betul...”
“Betul Mbah..
“Bener banget...”
“Cung kamu tolong ambilkan pitik yang ada di dalam kandang, bawa kemari”
Kuncung pun menyegerakan mengambil ayam yang ada di dalam kandang. Meski dengan susah payah, tapi Kuncung berhasil menangkap satu demi satu ayam tersebut.

“Mbah berapa ayamnya yang diambil..!!!” teriak lantang Kuncung dari dalam kandang
“Tiga saja Cung...”

“Ini Mbah ayamnya...”
“Kalian bertiga, tolong bawa ayam ini dan silahkan sembelih ayam ini tanpa ada yang tahu siapa pun..”
“Baik Mbah..”
“Iya Mbah..”
“Siap Mbah..”
“Wah, guampang banget Mbah.., aku boleh ikutan ndak?” Tanya Kuncung sambil sedikit membisik ke Si Mbah. Mata Si Mbah pun mendelik kaget menatap Kuncung.
“Sana ambil ayamnya..” pekik Si Mbah

Darto, Parto dan Narto pun bergegas pulang membawa ayam Si Mbah, tak luput pula Kuncung yang ngibrit secepat kilat membawa ayam jago kesayangan Si Mbah untuk disembelih.
“Ingat... sembelih ayam itu tanpa ada yang tahu siapa pun..!!!” Si Mbah lantang mengulanginya.
“Baik....iya.. siyap.. oke...!!!” Serentak suara itu meninggalkan petang hari di teras Si Mbah.

Esok hari pun semua telah berkumpul dan melaporkan semua yang telah dilakukannya, bersama ayam masing-masing.
“Mana ayammu Dar..”
“Ini sudah mati sudah saya gorok.., aku jamin tak ada seorang pun tahu sebab aku nyembelihnya di bawah kolong tempat tidur”
“Kamu Par..”
“Sudah mati sudah saya sembelih, tadi minta bantuan adikku.., karena takut aku sendirian masuk rumah kosong suwung. Tapi sumpah Mbah yang tahu cuma adikku”
“Kamu Nar..”
“Udah donggg... nih ayamnya, kalau aku sih nyembelihnya di kamar yang aku kunci rapat tak ada yang tahu siapa pun”
“Aku ya sudah Mbah...” Kuncung yang datang terlambat sambil berteriak meyakinkan Si Mbah..
"Kapan kamu nyembelihnya, tadi malam kamu masih ngopi sama saya?"
"Justru itu, aku nyembelihnya tengah malam di tengah kuburan. Tak jamin tidak ada yang tahu siapa pun itu..."

“Hahahhahaa..” Si Mbah terbahak ngakak, mereka berempat pun saling clingukan menatap wajah masing-masing untuk meyakinkan kesalahan yang mereka lakukan.
“Mbah... kok tertawa..”
“Iya Mbah.. kenapa”
“Kenapa Mbah..”
“Saya bilang, tolong bawa ayam ini dan sembelih tanpa ada siapa pun yang tahu” Ucap Si Mbah.
“Sudah Mbah..”
“Iya sudah, eh aku ada adikku yang tahu ding..”
“Aku ya sudah..”
“Kamu Cung gimana?”
"Lha ini..." Kuncung segera menunjukkan ayamnya kepada Si Mbah. Pun membuat Si Mbah makin terbahak melihat mereka berempat.

“Hai.. kalian ini punya Tuhan tidak? Mana ada kalian menyembelih ayam tanpa ada yang mengetahuinya, tidak mungkin bukan? Tuhanmu Maha Tahu apa yang kalian lakukan, aku kira kalian hendak mengembalikan ayamnya dengan tantangan ini, ternyata ndak. Jadi kalian semua batal menikahi cucuku Si Jamilah”
Darto, Parto dan Narto pun hanya melongo mendengar penjelasan Si Mbah.

“Iya juga ya Mbah..” Kuncung menyahutinya

“Kalian ini meremehkan Tuhan, apalagi pada saat sendiri seolah tanpa ada yang melihat. Kalian lantang meneriakkan asma Tuhan, tapi hati kalian tak bersama Tuhan. Mending kita ngopi aja ya.. biar kalian tidak serius menghadapi hidup.. Cung buatkan kopi untuk Darto, Parto dan Narto biar tahu rasanya kopi winey yang tidak memabukkan..”
“Siap Mbah...”

Cermin (Cerita Mini) oleh Mahapatih Anton

Web ini dikelola oleh admin. Anton Mabruri adalah seorang Filmmaker, Broadcaster, Penulis, Designer Grafis, Motivator, Teacher, dan Manusia Biasa. Ia hanya ingin MEMPERBAIKI INDONESIA.

0 komentar:

Post a Comment

Start Work With Me

Contact Us
Mahapatih Anton
+62 8571 55 33 0 88
Kota Depok, Jawa Barat