Pengantar Editing Film, Video dan Televisi


FILM SEBUAH PENGANTAR
Berawal dari sebuah keinginan dan dorongan imajinasi yang kuat untuk mengabadikan realitas nyata para pekerja yang meninggalkan Pabrik Lumiere, dua saudara yaitu August Luimere dan Louis Luimere pada tahun 1895 memulai awal sejarah Film, pada waktu itu dengan Film bisunya yang berjudul “ Worker Leaving The Luimere Factory“, tanpa bermaksud untuk menceritakan ulang suatu cerita yang mereka rekam. Akan tetapi dari sinilah sejarah perfilman muncul, setiap orang yang menyaksikan film bisu tersebut merasa terhibur dan bangga meskipun film tersebut sangatlah sederhana. Hari ini orang telah mengenal dunia film, dimana dalam film seluruh perpaduan unsur seni menyatu bertutur lewat keindahan gambar. Unsur-unsur seni itu antara lain: unsur seni sastra yang bertutur lewat bahasa, unsur teater yang bercerita lewat gerak tubuh dan mimik, unsur seni rupa yang bertutur lewat lukisan dan tulisan-tulisan, unsur seni suara yang bertutur lewat nyanyian, unsur musik yang bertutur lewat alunan-alunan nyiur gitar, seruling, drum dan yang lainnya, serta unsur arsitektur yang diwujudkan lewat setting tempat yang sangat mendukung keindahan gambar.

PENGANTAR EDITING
Mengapa perlu mempelajari editing film? Mungkin pernyataan ini pertama-tama perlu diajukan ketika kita terjun dalam dunia audio visual (TV & Film). Apalagi jika ternyata kita bukan bergerak dibidang perfilman saja melainkan dalam bidang pertelevisian atau videografi. Selain itu mempelajari editing film dan video bukan diperuntukan hanya bagi kita yang akan menjadi editor, tetapi juga bagi seluruh crew creative (sutradara, penata kamera, penata artistik, penata lampu dsb).

Mempelajari editing sebenarnya membantu kita untuk berfikir secara editing (editorial thinking) dari mulai pra produksi, produksi sampai pasca produksi baik dalam sebuah film, video atau pun produk televisi lainnya. Editorial thinking berarti merencanakan atau membuat shot dengan sadar bahwa shot tersebut yang akan kita buat satu sama lain akan saling berhubungan atau dengan kata lain berfikir ”shot to edit” (mengambil gambar untuk diedit). Hal inilah yang disebut dengan hakikat editing.

Keterhubungan antara satu shot dengan satu shot yang lain tidak selalu selaras, terkadang ada pembuat film atau video yang secara sadar menabrak atau mengontraskan shot satu dengan shot yang lain. Hal seperti ini sah-sah saja sepanjang itu semua telah terkonsep serta untuk menjelaskan maksud tertentu. Dengan merencanakan semua shot yang akan diambil membantu mengurangi kesalahan dalam pengambilan gambar, dan pada saat diedit akan menghasilkan adegan yang baik dan dramatik.

Selain itu berfikir editing dapat membantu kita memahami seberapa perlu sebuah adegan terbagi dalam beberapa shot. Sebuah adegan dapat dibuat dengan hanya satu shot asal maksud dan tujuan adegan tersebut tercapai. Maka banyaknya shot dalam setiap scene harus dilandasi oleh kebutuhan dari ”bagaimana cara memncapai maksud dan tujuan adegan tersebut”. Serta harus integral (menyatu) dengan konsep film itu sendiri.

Pemahaman ini dapat membantu kita untuk memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk mewujudkan adegan tersebut. Semakin komplek adegan dalam sebuah scene, semakin banyak waktu untuk mewujudkannya. Dengan demikian kita dapat mengira-ngira berapa waktu yang dibutuhkan untuk mewujudkannya sehingga nantinya dana yang kita keluarkan pun tidak bengkak.


Previous
Next Post »

1 komentar:

Write komentar
17 July 2018 at 20:53 delete

Mantap, bermanfaat banget min

Reply
avatar

supported by