Tuesday, 21 August 2018

Gelagat Politik Rakyat
Boleh dong saya buka-bukaan soal bagaimana mencari ide yang benar-benar orisinal dan exelence. Hal pertama yang ingin saya ungkapkan adalah untuk kamu.. iya kamu.. yang hanya bisa mencibir prestasi saudara setanah air kita. Kamu lebih sibuk mencela dan mencari kesalahan. Ini ngomong apa sih..? hehehe... terus terang saya kesal dengan tingkah kamu yang tampak pintar tapi sebenarnya bodoh. Ini bicara seni (art) dua peristiwa sekaligus yang berselang hari, pertama soal karya bambu yang dibuat oleh seniman Yogyakarta dan yang kedua seremonial pembukaan Asian Games yang kebetulan melibatkan langsung orang nomor 1 di Indonesia. Kamu kira mencari ide asli itu mudah? Kamu kira membuat produk seni itu gampang? Salah satu pekerjaan/profesi yang tak lekang ditelan waktu adalah salah satunya seniman dan olahragawan. Maka jangan main-main dengan para seniman, lompatan ide dan gagasan bisa melampaui zaman.

Dari tangan seniman keduanya menjadi karya terhebat dan teragung yang dicipta oleh anak-anak negeri ini. Mengapa kamu susah untuk hanya sekedar bertepuk tangan atau mininal memberi senyum atas prestasi bagi mereka. Saya hanya ingin meyakinkan hargailah jerih payah orang lain apa pun itu (apresiasikan dengan rasa) bukan dengan kebencian. Jika ini terus menerus berlangsung maka jangan menyesali bila kita sampai detik ini masih dijajah dengan produk Luar Negeri. Ini semua karena kita miskin apresiasi, hanya bisa mencibir keberhasilan orang lain sementara tidak mau membenahi kekurangan diri. Tapi kenapa pula ketika WNA masuk ke sini pun kamu hujat dan kamu nyinyir, entahlah mau kamu itu apa.

Apakah kamu tak bisa bangga atas pencapaian karya anak negeri ini? Jangan jawab dengan "itu hal biasa". Jika rasionalitas alias kewarasan otak kamu tak lagi ada, maka sampai tujuh keturunan bangsa ini tidak akan maju. Benar juga kata salah satu capres “Indonesia tahun 2030 bubar.” Eh tapi jangan dulu bangga, saya tidak rela bila negeri ini juga diisi oleh opini/pendapat orang-orang yang hanya bersikap pesimis terhadap masa depan bangsanya salah satunya membangun opini “Negeri ini akan bubar tahun 2030”. Walau ini kalimat politis, namun bagi saya ini tidak etis. Pemimpin harus membangun narasi optimisme pada rakyatnya pada bawahannya bukan sebaliknya menakut-nakuti.

Kita boleh miskin harta, tetapi kita tidak boleh miskin optimisme (falamastaiasu - maka janganlah berputus asa). Bangsa-bangsa besar lahir dan keluar dari kemelut sebab mereka membangun narasi optimisme sikap. Ciri bangsa yang optimis, mudah sekali mengapresiasi karya dan tumbuh budaya simpati dan empati tidak memandang bulu. Pandangan politik dan ideologi boleh berbeda tetapi tujuan kita membangun peradaban Indonesia lebih maju haruslah menjadi tujuan utama.

Apakah kamu sudah berempati pada saudaramu di Lombok, tidak hanya sekedar meributkan status bencana?

Apakah kamu sudah mengapresiasi karya hasil jerih payah orang lain dengan cara tidak mencibir bila perlu kamu beri hadiah?

Apakah kamu sudah menanamkan optimisme sikap meraih masa depan? Berhentilah mencari kesalahan lawan, tapi tunjukan kekuatan karyamu untuk menunjukkan kita adalah kawan.

“jadi Si Mbah ini tetep golput”
“aku ndak jadi golput Cung”
“terus....”
“aku GOLFUD Cung..”

Aku masih optimis. Sembari mereguki kopi Solok Rojo.. enaknya... sssssrrrrrt...
#OptimismeSikap

Web ini dikelola oleh admin. Anton Mabruri adalah seorang Filmmaker, Broadcaster, Penulis, Designer Grafis, Motivator, Teacher, dan Manusia Biasa. Ia hanya ingin MEMPERBAIKI INDONESIA.

0 komentar:

Post a Comment

Start Work With Me

Contact Us
Mahapatih Anton
+62 8571 55 33 0 88
Kota Depok, Jawa Barat