Monday, 4 March 2019

MENYEMAI KEDAMAIAN DI BUMI MANUSIA ala NU

Kira-kira seperti ini gambaran populasi penduduk dunia berdasarkan agama Share of world population.

Christianity
1910: 34.8%
2010: 32.8%

Islam
1910: 12.6%
2010: 22.5%

Hinduism
1910: 12.7%
2010: 13.8%

Agnosticism
1910: 0.2%
2010: 9.8%

Chinese folk religion
1910: 22.2%
2010: 6.3%

Buddhism
1910: 7.9%
2010: 8%

(World Religion Database) (lihat data ini : https://id.wikipedia.org/wiki/Agama_menurut_jumlah_penganut)
============

Data yang saya kemukakan adalah data pembanding betapa kita umat manusia ternyata memiliki ragam agama yang berbeda-beda dengan ideologi dan teologi yang berbeda-beda pula. Jika masing-masing agama saling mengeraskan paham ideologinya, maka sangat mungkin perseteruan antar umat manusia yang berbeda agama (dengan teologinya) yang berbeda itu akan terjadi sebab mereka saling mengklaim kebenaran dan menyesatkan yang lain.

Apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan umat manusia?
Walau pada akhirnya kiamat ini pasti akan tiba, tetapi yang paling penting adalah mencegah kiamat-kiamat kecil terjadi. Kiamat-kiamat kecil itu misalnya adalah bencana kemanusiaan seperti peperangan antar negara, dan ini telah menjangkiti penduduk bermayoritas muslim di Timur Tengah. Pemicu peperangan di beberapa daerah dan bahkan negara itu lebih mudah disulut dari perbedaan agama, suku, dan golongan. Yakni dengan klaim terbesarnya mereka semua sesat dan sebagian mereka "bersikeras" paling benar, dengan lontaran kata-kata "ente kafir", "ente sesat", "ente bid'ah" dan lain sebagainya. Gejala ini sudah mulai terasa di negeri ini, terutama di kota-kota besar.

Kita semua yang hidup di Indonesia bisa saja bangga dengan mayoritas muslim, tetapi lihat apakah mayoritas penduduk di dunia ini adalah muslim. Tidak bukan? Kita (muslim Indonesia) selalu merasa paling kuat sehingga kita sangat mudah mendeskritkan orang-orang selain muslim dengan sebutan "kafir" pun itu Anda tuduhkan kepada sesama muslim. Paham semacam ini sedang mengancam negeri ini, seiring makin bertambahnya kaum Wahabi di tengah-tengah kita. Mereka membid'ah-bid'ahkan amalan-amalan saudara semuslimnya dengan tanpa dalilnya atau berdalil tetapi dalilnya justru lemah.



Tujuan mereka semua sangat politis (baca: meraih kekuasaan dan kekayaan) sama sekali tidak ada upaya menyejahterakan umat manusia. Kalian bisa baca laporan-laporan pasca kekalahan ISIS, kemudian ada sebagian warga Indonesia yang kembali ke tanah air dengan segala bentuk cerita yang mereka kemukakan. Apakah dari cerita-cerita kesaksian para ex ISIS itu terdapat hal yang sejalan dengan nilai-nilai islamiyah, rasanya jauh. Pun saat saya menuliskan ini, kalian akan membantahnya dengan alasan saya ini Liberal, Sosialis, dan sebutan lain yang kalian inginkan. Hahahaha.. mblegedesh..

NU bagi saya adalah rumah masa depan bagi saudara kemanusiaan, menguatkan persaudaraan itu adalah keniscayaan. Sebab gejala-gejala terjadinya perpecahan di Negeri ini pun sangat terasa, oleh tuduhan yang dilontarkan mereka di luar NU. Saya pun tidak ingin melengkapi diri dengan klaim bahwa NU paling benar, tidak. NU hanya sedang berupaya dan selalu berusaha memberikan payung kepada siapa pun di bumi manusia ini.

Kiprah NU
Ada perubahan besar kiprah NU di negara ini, terutama era kepimpinan JKW-JK ruang NU lebih terbuka dibanding era SBY 10 tahun berkuasa dan nampak berbeda NU di masa orba. Yang perlu disesali adalah era SBY bahkan mengesampingkan peran NU, SBY takut masuk pusaran politik. Dia adalah tipikal pemimpin yang tak mau ambil resiko dan tak suka kegaduahan, sehingga perubahan dia saat memimpin tak nampaklah sebuah perubahan siginifikan.

Pada awal 2009, padahal NU sudah menawarkan konsep trilogi kebangsaan yang global yakni berupa persaudaraan sesama Muslim (ukhuwah islamiyyah), persaudaraan se-bangsa dan se-tanah air (ukhuwah wathaniyah), dan persaudaraan manusia (ukhuwah insaniyyah) sebagaimana didekralasikan Nahdlatul Ulama tahun 1984. Meskipun konsep awal trilogi ini sudah tercetus sejak tahun Muktamar NU ke 27 di Situbondo tahun 1984 dan sempat ditawarkan ke penguasa ORBA, tapilah dari dulu ORBA memang tak menyukai NU yang sangat kritis terhadap kebijakan-kebijakan saat itu.

Siapa dibalik penyerangan kata-kata KAFIR
Kemudian hari ini, saat NU kembali mengambil alih peran dan sekaligus menegaskan kebijakan-kebijakan yang bersifat teologis mereka kaun HTI dan IM pun menyerang. Oleh karena selama 10 tahun mereka dibiarkan, ibarat penggorengan sisa-sisa bekas menggoreng masih hangat bahkan masih panas di pusat pantat penggorengan. Wajar jika tiba-tiba kemudian JKW-JK mengakomodir semua kebutuhan NU. Sama seperti sikap para Kyai NU, Pak Jokowi merasakan ada gelagat perpecahan di NKRI ini. Menyadari semua itu buru-burulah Pak Jokowi merangkul alim ulama di NU dan Muhammadiyah sebagai upaya meredam gerakan makar yang dimotori HTI. Saya pernah dengar langsung dari para Kyai NU yang menyesalkan tindakan SBY yg membiarkan HTI, IM dan Model-model islam intoleran dibiarkan. Bahkan difasilitasi, padahal jelas sekali mereka makar ingin mendirikan negara Khilafah.

Sehingga saat kiprah NU mulai mendominasi barulah mereka yang ingin makar kebakaran jenggot bahkan jidat. Padahal tradisi NU sejak dulu hingga saat ini tidak berubah, selalu ada kajian fiqh terupdate mengikuti zaman. Kajian fiqh (bahtsul masail) di kalangan NU sangat sering dilakukan, dan kami warga Nahdliyin sudah paham itu. Lalu bagi kalian penebar intoleran marah-marah kebakaran jenggot, dengan alasan dikemukakan logika akal sehat mblegedesh.

Akhirnya yang tersisa hanya mblegedesh-nya saja. Caci maki ini itu, tapi dasar teologi mereka rata-rata rendah sehingga saat diajak berdebat yg terjadi adalah menang kalah atau kalah menang. Bukan sebagai hikmah (kebijakan etis) yang dianugerahkan Tuhan.

Mari ngopi sejenak merenungkan masa depan keberlangsungan dunia dan seisinya.

oleh : Anton Maburi

Web ini dikelola oleh admin. Anton Mabruri adalah seorang Filmmaker, Broadcaster, Penulis, Designer Grafis, Motivator, Teacher, dan Manusia Biasa. Ia hanya ingin MEMPERBAIKI INDONESIA.

0 komentar:

Post a Comment

Start Work With Me

Contact Us
Mahapatih Anton
+62 8571 55 33 0 88
Kota Depok, Jawa Barat