Sunday, 7 April 2019

INDEPENDENSI MEDIA

Seorang teman di salah satu media kepresidenan pernah bercerita kepada saya. Media di setiap era pemerintahan punya gaya dan ciri masing-masing, kebetulan teman saya ini telah malang melintang menjadi langganan wartawan kepresidenan dari era SBY hingga era Jokowi. Dan ia bercerita, yang membedakan keduanya adalah sikap protektif (citra diri) yang dibangun pemerintahan. Bagaimana tidak di zaman SBY wartawan yang akan mengeluarkan berita soal SBY harus melewati edit/sensor hingga berkali-kali wajar jika kemudian SBY terlihat baik-baik saja dalam masa kepemimpinannya. Bagaimana dengan Jokowi? Ini yang paling unik, masih ingat bukan awal pemerintahan beliau mendatangi wartawan di istana dan berkongkow-kongkow. Apa kata kata beliau “Silahkan Anda sekalian bekerja secara independen, liput saya sesuka Anda. Tidak perlu takut.”

Nyatalah hari ini, wartawan dengan sikap independennya melakukan liputan tentang pemerintah hari ini semua apa adanya. Yang jelek terlihat jelek yang baik terlihat baik. Saking apa adanya nyaris tanpa sensor, semua berita tersaji juga apa adanya. Bahkan kadangkala para wartawan dibuat kalang kabut saat meliput Jokowi disemua peristiwa, bagaimana tidak semua kadang serba mendadak tanpa protokoler yang serba mengatur.

Dan apa sih independesi wartawan itu? Salah satu karateristik media adalah independen, dan ini pula yang banyak diributkan saat masa-masa pilpres ini (baca: tahun politik). Sebagai orang yang bekerja di media baik secara langsung atau pun tidak langsung, memiliki tantangan tersendiri dalam menjelaskan ini kepada kawan-kawan semua. Kita lihat, kerasnya pesta demokrasi di tahun ini pun menjadi ajang pem-bully-an bagi para media dan awaknya. Sebab mereka (masyarakat umum) mengira media tidak independen. Loh kok bisa? Padahal sebenarnya ada yang keliru dalam memaknai independen suatu media. Harus dibedakan antara independen dengan memihak (partisan), istilah yang paling tepat untuk beberapa media adalah mereka telah memihak, namun wartawan tetap bekerja secara independen.

Perlu diketahui, sifat independensi menjadikan tugas dan fungsi media massa itu adalah tidak terpengaruh atau dipengaruhi pihak mana pun juga. Bisakah media massa melakukan tugas dan fungsinya bersifat independen dalam pemberitaan kedua Paslon tahun 2019 ini. Pertanyaan ini menjadi pertanyaan banyak orang. Dan saya jawab bisa.

Tulisan ini saya buat juga dengan sikap independen pula. Begini, pakar komunikasi politik Colin Sey-mour-Ure (McQuail, 1992) mengemukakan bahwa ada beberapa tipe hubungan media dengan politik yang melahirkan sikap partisan (memihak). Pertama, hubungan organisasional yaitu media adalah organ partai yang dirancang untuk melayani kepentingan partai. Kedua, media yang bukan milik partai, tetapi editorialnya mendukung kebijakan politik tertentu. Ketiga, muncul karena kepentingan komersial.

Dari tiga tipe hubungan media dengan politik menurut Colin Seymour-Ure ketiganya berpeluang terjadi. Namun, faktor yang ketigalah yang banyak terjadi pada media massa, sebab mereka membutuhkan sokongan dana dari siapa pun, termasuk tokoh politik. Atau bisa pula terjadi pemilik media adalah aktor politik langsung, maka ada hubungan organisasional media dengan partai.

Lalu hari ini, semua berkoar-koar terutama kubu salah satu paslon mengapa media tidak independen? Padahal maksudnya adalah kenapa media memihak. Anda perlu tahu hubungan media dengan politik ada yang disebut dengan kepentingan komersial atau kepentingan dengan kebutuhan hidup sang wartawan itu sendiri. Sehingga untuk menaikkan oplah media cetak dan menaikkan “klik” kunjungan ke media online, maka seringkali wartawan dituntut untuk meliput kejadian atau peristiwa yang bisa menjual oplah dan "klik"nya secara signifikan. Mereka pun meliput dengan kejadian yang sesungguhnya, bukan rekayasa. Dan jangan mengira mereka para wartawan itu tak butuh gaji dan makan, sayangnya Anda terkadang terlalu kejam terhadap wartawan apalagi kalau sudah berbicara politik maka yang ada adalah Anda akan memojokkan media dan wartawannya.

Akhirnya sampai detik ini saya masih menganggap media masih independen dalam mencipta berita, sebab mereka menangkap, melihat dan menulis serta merekamnya tanpa ada rekayasa. Kecuali jika media itu abal-abal tak bertuan (baca: tak ada redaksional yang jelas) yang jumlahnya bahkan ribuan berseliweran hari ini.

Bagaimana apakah sudah paham soal independensi media dan wartawannya? Kalau belum mari saya ajak ngopi biar melek.

Sumber : http://harian.analisadaily.com/opini/news/menyoal-netralitas-dan-independensi-media-massa/499304/2018/02/05
https://nasional.kontan.co.id/news/istana-wartawan-dan-hari-kedua-presiden-jokowi

Web ini dikelola oleh admin. Anton Mabruri adalah seorang Filmmaker, Broadcaster, Penulis, Designer Grafis, Motivator, Teacher, dan Manusia Biasa. Ia hanya ingin MEMPERBAIKI INDONESIA.

0 komentar:

Post a Comment

Start Work With Me

Contact Us
Mahapatih Anton
+62 8571 55 33 0 88
Kota Depok, Jawa Barat