Pandangan Saya Soal Politik (FIQH POLITIK)


Setidaknya ada empat kesimpulan teori politik yang disampaikan oleh PLATO, yaitu antara lain:
1. Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles).
2. Politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara.
3. Politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat.
4. Politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik.

Sesuatu yang sudah lazim dalam berkebangsaan, dalam memahami arti sebagai warga negara yang baik harus paham apa tujuan politik dalam bernegara. Maka guna mencapai suatu tujuan tentu diselenggarakannya pemilu sebagai proses berdemokrasi, yang kebetulan kita menganut demokrasi pancasila yaitu suatu paham demokrasi yang berlandaskan pada nilai-nilai yang terkandung di dalam ideologi Pancasila. dan 5 tahun sekali mengadakan pemilu. Dalam proses pemilu kita semua dimaksudkan untuk memilih pemimpin di antara kita, untuk mencapai sebuah tujuan besar negara ini.

Sayangnya dalam proses perjalanan politik saat ini banyak yang terjabak pada jargon (istilah) yang disengaja dibuat oleh para pengacau politik itu sendiri. Semisal “akal sehat”, semestinya memaknai akal sehat seharusnya netral senetral-netralnya bukan berdiri pada satu kubu tertentu, pun demikian yang berseberangan dijebak pada istilah dungu. Dan seterusnya jargon-jargon lain juga berkembang liar di masyarakat kita. Percayalah usai tanggal 17 April 2019 lebih 100 hari juga semua normal, kehidupan berjalan seperti biasa. Yang petani tetap jadi petani, yang pedagang tetap jadi pedagang, yang guru tetap jadi guru, yang seniman tetap jadi seniman, dan lain sebagainya. Kecuali mereka yang turut ambil bagian jadi timses, pun tidak ada jaminan kaya mendadak.

Percayalah, hanya dengan kerja keras dan optimislah kehidupan kita akan berubah lebih baik dan lebih maju. Narasi-narasi pecundang akan selalu mengatakan negeri ini bubar, negeri ini dikuasai asing, negeri ini bocor, dan negeri ini akan hancur. Padahal keseharian kitalah yang membuat hancur, oleh sebab kita lebih suka bermalas-malasan tidak produktif dan cenderung pesimis.

Landasan Berpolitik 
Tulisan ini sedikit mengulang, tapi ini menjadi penting untuk kita sebagai rakyat. Kita bisa jadi sering mendengar ayat ini “’Atiullaha wa’atiurrasul waulil amri minkum” (taatilah Alloh, taatilah Rasul dan taatilah pemimpin di antara kamu). Bunyi ayat ini, menjadi wajib dan dipedomani --untuk menjadi pegangan-- bagi kita yang berposisi sebagai rakyat. Ayat ini tidak boleh menjadi pedoman bagi kita yang menjadi pemimpin sebuah negera, jika dalil ini menjadi pegangan para pemimpin sudah dipastikan pemimpin itu akan berbuat dzolim dan semena-mena alias diktator.

Lalu apa yang menjadi pegangan/pedoman jika kita menjadi pemimpin, adalah bunyi ayat ini “Wa’mur bil’adli wal ikhsan...” (dan berbuatlah adil dan baik) untuk rakyatmu. Maka dipastikan sebagai pemimpin akan dicintai rakyat dan nilai kesalehan kita kepadaNya lebih tinggi dibanding kita berbuat semena-mena pada rakyat. Dan begitu pula sebaliknya ayat tersebut tidak menjadi pegangan rakyat, bila ayat tersebut menjadi pegangan rakyat, sepanjang masa kita menjadi rakyat rasanya kita tidak pernah bersyukur. Hanya menuntut keadilan sepanjang hayat, protes terus menerus sepanjang hidup. Hmmmmm mengerikan...

Dalam politik selalu ada pelaksana (pemerintahan) dan ada opsisi (pihak pengkritisi). Maka akan tumbuh sinergi kebangsaan dan kemajuan yang baik, sayangnya di negeri bermayoritas muslim malah lebih senang berpolitik dengan agama (politisasi agama), sehingga ujung-ujungnya terjadi polarisasi. Bagi yang mengerti pedoman berpolitik dengan menggunakan kaidah politik siyasah maka cara-cara berpolitiknya pun santun, namun bagi yang tidak mengerti membabi buta menyerang lawan.

Harus objektif dalam menilai. Benar pencapaian pemerintah hari ini tidaklah sempurna seutuhnya, tapi paling tidak telah melakukan banyak perubahan untuk kebaikan dan kemajuan bangsa. Kekurangannya tentu kita sikapi dengan baik, mencerca dan menyebarkan informasi tidak baik dan cenderung hoax sama saja kita sedang menjatuhkan negeri ini pada titik yang tidak pasti. Apa kemudian saat kita menyebarkan hoax, nasibmu seketika berubah? Tidak bukan.

Maka yang paling nyata untuk diri kita adalah, menjaga optimisme hidup dan terus berkarya. Larut dalam suatu masalah tanpa mencari jalan keluar akan membawa kita hancur.

“Ayat-ayat tersebut lengkap ada dalam fiqih siasah (fiqih politik)” kata si Mbah
“Loh memang ada ya?” Tanya Kuncung
“Ah kamu ini selalu mengatakan dirimu ‘ana khairu minhu’ (saya lebih baik dari kamu) ini virus yang tengah menjangkiti umat hari ini. Sehingga mudah sekali kamu menvonis orang lain itu tidak sebaik dirimu, padahal...”
“Padahal apa Mbah”
“Nanti dulu tak nyruput kopi dulu... padahal itu adalah kata-kata Iblis saat pertama kali ia diperintah Allah swt untuk sujud kepada Adam. Iblis bilang “ana khairu minhu..!!”
“Wah berarti yang selalu bener dewek itu Iblis dong Mbah”
“Iblis sih mending, masih sakti..”
“Jadi apa?!”
“Mereka genderwo... Cung”
“Hahhhahhahhaha... “

Wallahu a’alam bish showab.

0 komentar:

Post a Comment

Start Work With Me

Contact Us
Mahapatih Anton
+62 8571 55 33 0 88
Kota Depok, Jawa Barat